Kesehatan Suatu Keberkahan Yang Tak Ternilai Harganya

Kesehatan Suatu Keberkahan Yang Tak Ternilai Harganya
*) Oleh : Muhammad Fitriani
Binroh di RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya
www.majelistabligh.id -

Kesehatan merupakan anugerah yang sangat berharga. Orang yang sehat dapat menjalankan ibadah dengan baik, bekerja secara normal dan produktif, serta berbagi dengan sesama. Sebaliknya, ketika seseorang jatuh sakit, ibadah menjadi tidak sempurna, produktivitas menurun, dan dampaknya pun memengaruhi kemampuannya dalam berbagi dengan orang lain.

Dalam bahasa Arab, sakit disebut dengan al-maradh (المرض) yang berarti “rusaknya tubuh” atau berubahnya kondisi kesehatan setelah sebelumnya dalam keadaan normal. Dalam istilah modern, kondisi ini juga bisa disebut sebagai disabilitas, yakni ketika seseorang yang sebelumnya mampu (able) menjadi tidak mampu (disable) karena suatu hal.

Penyakit datang atas izin Allah, baik itu penyakit fisik maupun non-fisik. Tidak ada manusia yang menginginkan sakit. Manusia secara fitrah ingin sehat, produktif, dan berkarya. Namun ketika sakit datang, aktivitas menjadi terhambat, bahkan ada yang berhenti total. Syukur-syukur jika masih bisa melakukan aktivitas minimal.

Sakit bisa terjadi akibat kecelakaan tak terduga, bisa juga karena perlakuan orang lain, seperti tertabrak atau bahkan disengaja. Meskipun kita sudah berhati-hati, kecelakaan tetap bisa terjadi akibat keteledoran orang lain.

Penyakit tidak selalu berwujud fisik, tetapi juga bisa menyerang mental. Sakit jenis ini sering kali diabaikan karena tidak terlihat secara kasat mata (intangible). Padahal, sakit mental dapat memengaruhi pikiran, perasaan, suasana hati, bahkan perilaku seseorang dalam kehidupan.

Salah satu bentuk gangguan mental yang serius adalah depresi, yaitu gangguan suasana hati berkepanjangan yang ditandai dengan kesedihan mendalam dan kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Hal ini bisa dipicu oleh penyakit fisik yang tak kunjung sembuh. Penanganan terhadap penderita depresi tidak bisa dilakukan sembarangan, tetapi harus secara holistik.

Ada kalanya seseorang terlihat kuat secara fisik, namun mentalnya sangat terganggu sehingga berdampak pada aktivitasnya. Mereka yang sebelumnya aktif di masyarakat, organisasi, dan pekerjaan bisa saja tiba-tiba berhenti karena mengalami gangguan mental. Bayangkan jika ini menghentikan berbagai aktivitas kebaikan yang sebelumnya rutin dilakukan.

Bahkan, pada beberapa kasus ekstrem, ada orang yang mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menahan rasa sakit. Sebagian besar masyarakat mungkin mencemooh tindakan ini karena dianggap tercela. Tapi pertanyaannya, “Kemana mereka ketika orang tersebut sedang sakit?”

Jika kita membuka Al-Qur’an, dalam QS Maryam ayat 23 diceritakan bahwa ketika Bunda Maryam duduk di bawah pohon kurma karena rasa sakit saat akan melahirkan, beliau sampai berkata bahwa kematian lebih baik daripada apa yang beliau alami. Perasaan ini muncul karena keputusasaan dan sakit yang amat mendalam. Namun Allah tidak membiarkan beliau sendiri. Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemani Bunda Maryam dan memberikan kabar gembira serta harapan agar tidak bersedih. Malaikat Jibril berkata kepada beliau untuk makan, minum, dan bersenang hati. Ini adalah bentuk ajaran untuk melakukan hal-hal yang menggembirakan serta bersabar dalam menghadapi ujian hidup.

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Ketika ada orang yang sedang sakit, hendaknya kita hadir sebagai teman. Bukan mencemooh, menceramahi, mendikte, atau merendahkan. Apalagi sampai memberikan stigma seperti kurang beriman, kurang bersyukur, kurang ikhlas, kurang sabar, dan stigma negatif lainnya. Itu semua tidak diajarkan dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an justru mengajarkan kepada mereka yang sehat untuk menemani orang yang sedang sakit. Bukan hanya sekadar menemani, tetapi juga membantu secara konkret—mengajak makan, minum, menggembirakan hatinya, dan meringankan beban hidupnya. Bukan malah menakut-nakuti dengan stigma. Ingatlah, perilaku mencemooh seperti itu adalah sikap yang dulu pernah diarahkan kepada Bunda Maryam.

Oleh karena itu, sangat relevan jika persoalan ini menjadi ladang dakwah bagi organisasi Islam maupun umat Islam secara umum, untuk mengambil peran nyata dalam merawat dan menemani orang-orang yang sedang sakit, baik fisik maupun mental. Ini juga bagian dari perintah Al-Qur’an. Apalagi karakter dasar ajaran Islam adalah menggembirakan dan mengajak manusia untuk tetap optimis dan kuat, bersama-sama.

Namun, bagi mereka yang sedang sakit, tidak perlu bersedih. Ada sebuah hadits yang sangat membesarkan hati. Abu Musa Al-Asy’ariy -raḍiyallāhu ‘anhu- berkata, Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan, maka akan dicatat baginya seperti amalan yang biasa ia lakukan ketika dalam keadaan mukim dan sehat.”
(HR Bukhari)

Penyakit bisa datang kepada siapa pun, karena semua terjadi atas izin Allah. Tak peduli jabatan, profesi, status ekonomi, bahkan orang yang rajin beribadah pun bisa sakit. Begitu pula orang dermawan. Namun sakit bagi orang-orang shalih adalah tanda cinta dari Allah, bukan bentuk kebencian. Ibarat sepasang kekasih yang saling mencubit bukan untuk menyakiti, tapi sebagai bentuk kasih sayang. Dan perlu diingat, yang diuji bukan hanya orang yang sedang sakit, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search