Kesempurnaan Dalam Kekurangan

Kesempurnaan Dalam Kekurangan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Jangan paksa siapapun untuk menyukai kita, karena hati manusia bukan milik kita untuk ditentukan. Cukuplah berbuat yang terbaik, dan terus menjadi diri sendiri tanpa pura-pura.

Selebihnya, biarlah mata manusia yang menilai, biarlah hati mereka yang menentukan. Dalam setiap kekurangan yang kita miliki, terselip suatu bentuk kesempurnaan yang hanya dapat di lihat oleh jiwa yang benar-benar menghargai.

Kekurangan sebagai ruang tumbuh: Justru karena manusia tidak sempurna, ia diberi peluang untuk belajar, berusaha, dan mendekat kepada Allah.

Kesempurnaan relatif: Kesempurnaan bukan berarti tanpa cacat, melainkan mampu menjadikan kekurangan sebagai jalan menuju makna dan kebermanfaatan.

Paradoks fitrah: Allah menciptakan manusia dengan keterbatasan agar ia sadar akan ketergantungan pada-Nya. Inilah kesempurnaan sejati: menyadari kelemahan sebagai pintu kekuatan.

Perspektif Qur’ani

1. QS. Al-Baqarah: 286
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ
Artinya: Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

Kekurangan bukan beban, melainkan ukuran yang pas untuk setiap jiwa.

2. QS. At-Tin: 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Kesempurnaan manusia bukan pada ketiadaan kekurangan, tetapi pada potensi fitrah yang bisa diolah

Hadits yang paling relevan dengan tema “Kesempurnaan dalam Kekurangan” adalah sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, Ahmad, dan Baihaqi). Hadits ini menegaskan bahwa kesempurnaan manusia bukan pada ketiadaan kekurangan, melainkan pada usaha menyempurnakan akhlak di tengah keterbatasan.

Penjelasan Hadis
* Makna inti: Rasulullah ﷺ tidak diutus untuk menjadikan manusia tanpa cela, tetapi untuk membimbing mereka agar kekurangan berubah menjadi jalan menuju kesempurnaan akhlak.
* Kesempurnaan dalam proses: Akhlak mulia tidak lahir dari kondisi ideal, melainkan dari perjuangan menghadapi kelemahan diri.

* Paradoks indah: Justru karena manusia memiliki kekurangan, ia diberi kesempatan untuk menyempurnakan akhlaknya. Inilah kesempurnaan sejati.

Hadis Lain yang Menguatkan

1. Hadis Abu Dzarr r.a.: Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian.”

Menunjukkan bahwa Islam memberi panduan lengkap, meski manusia tetap memiliki keterbatasan.

2. Hadis Nawawi ke-12: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”

Kesempurnaan Islam bukan berarti tanpa kekurangan, tetapi mampu mengendalikan diri dari hal sia-sia.

Dimensi Pendidikan & Kepemimpinan

* Guru dan murid: Seorang guru yang mengakui keterbatasannya justru memberi teladan kejujuran dan kerendahan hati.

* Pemimpin: Pemimpin yang transparan dengan kekurangannya lebih dipercaya, karena ia menunjukkan sisi manusiawi.

* Orang tua: Dalam parenting, menerima kekurangan anak adalah jalan untuk menumbuhkan keunikan dan kelebihan mereka.

Prinsip Praktis

• Berguna, bukan sempurna: Fokus pada kebermanfaatan, bukan pada citra tanpa cela.

• Kekurangan sebagai cermin: Setiap kekurangan adalah refleksi yang mengingatkan kita untuk terus memperbaiki diri.

* Kesempurnaan dalam proses: Kesempurnaan bukan hasil akhir, melainkan perjalanan menerima, memperbaiki, dan memberi.

Refleksi Spiritual

* Kesempurnaan bukan tanpa cacat: Nabi ﷺ menekankan bahwa manusia mulia bukan karena bebas dari kekurangan, tetapi karena mampu mengolahnya menjadi akhlak.

* Kekurangan sebagai cermin: Setiap kelemahan adalah pengingat untuk kembali kepada Allah dan memperbaiki diri.

* Kesempurnaan dalam berguna: Sejalan dengan filosofi Anda, Muhammad, bahwa manusia diciptakan bukan untuk sempurna, tetapi untuk berguna. Hadis ini menguatkan bahwa kebermanfaatan lahir dari usaha menyempurnakan akhlak, bukan dari ketiadaan kekurangan.

 

Tinggalkan Balasan

Search