Keteguhan Iman yang Menakjubkan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Ubaidillah Ichsan, S.Pd
Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jombang

 

The determination of faith is proof of our love for the Creator”
“(Keteguhan iman adalah bukti cinta kita kepada Sang Pencipta)”

Keteguhan iman adalah salah satu sifat yang sangat penting bagi seorang Muslim. Iman yang teguh akan menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi segala cobaan dan godaan hidup.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Qs. Fussilat: 30)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang teguh imannya akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dari Allah SWT. Mereka tidak akan merasa takut dan sedih dalam menghadapi kehidupan ini.

Dalam sejarah Islam, kita dapat menemukan banyak contoh keteguhan iman yang menakjubkan. Salah satunya adalah kisah Nabi Ibrahim AS yang tidak gentar sedikit pun ketika diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Kisah lain yang menakjubkan adalah kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang rela mengorbankan harta, jiwa, dan raga mereka demi membela agama Allah SWT. Mereka adalah contoh nyata dari keteguhan iman yang luar biasa.

Keteguhan iman tidak datang dengan sendirinya. Ia membutuhkan usaha dan perjuangan yang terus-menerus.

Berikut adalah beberapa cara untuk memperkuat iman kita:

1. Mempelajari dan memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ قَالَ وَأَقْرَأَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي إِمْرَةِ عُثْمَانَ حَتَّى كَانَ الْحَجَّاجُ قَالَ وَذَاكَ الَّذِي أَقْعَدَنِي مَقْعَدِي هَذَا
Artinya:
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari No. 4639)

2. Mendirikan salat dengan khusyuk. Allah SWT berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Qs.Al-Mukmin : 1-2)

3. Memperbanyak zikir dan doa. Allah SWT berfirman,
ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ

Artinya:
“(Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya) dengan merendahkan diri penuh perasaan kepada Allah.” (Qs. Al-Mu’minun:2)

Al-Hasan Bashri rahimhullah berkata tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  (الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ) (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.”

Dia berkata : Mereka khusyu’ di dalam hati mereka, maka mereka menundukkan pandangan mereka dan bersikap merendah. ”

Ibnul Qoyyim berkata : “Allah menggantungkan kemenangan orang-orang yang salat dengan kekhusyu’an mereka dalam menjalankan ibadah salat, maka hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak khusyu’ dalam menjalankan ibadah salat maka dia tidak termasuk orang yang beruntung dan seandainya dia mengharapkan pahalanya niscaya dirinya termasuk orang-orang yang beruntung.”

Makna khusyu’ adalah ketundukan, kelembutan dan ketenangan hati. Dan apabila hati merasakan kekhusyu’an tersebut maka anggota badan pun mengikutinya. Sebab anggota badan ini mengikuti perintah hati.

4. Berkumpul dengan orang-orang saleh.

Manusia itu laksana sekawanan burung, memiliki naluri untuk berkumpul dengan sejenisnya. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi orang saleh, hendaklah berusaha berkawan dan berkumpul dengan orang-orang saleh.
Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (Qs. At-Taubah :119)

5. Menjauhi perbuatan dosa. Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw bersabda,
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَأَكْلُ الرِّبَا وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصِنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ
Artinya:
Jauhilah tujuh (dosa besar) yang membinasakan. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa saja (tujuh dosa besar yang membinasakan) itu? Beliau menjawab: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa alasan yang haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukmin baik-baik yang lengah melakukan perzinaan.” (HR. Bukhari No. 6351)

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan iman agar kita dapat menjadi hamba-Nya yang taat dan bertakwa.

Semoga bermanfaat.(*)

Tinggalkan Balasan

Search