Keteladanan Ayah Membentuk Karakter Anak

Keteladanan Ayah Membentuk Karakter Anak
www.majelistabligh.id -

Anak-anak tidak hanya membutuhkan materi atau hadiah, melainkan merindukan kehadiran utuh seorang ayah. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Lailan Arqam, menegaskan bahwa pendidikan iman dan karakter anak harus dimulai dari rumah melalui kehadiran, keteladanan, serta kebiasaan spiritual keluarga.

Muhammad Lailan Arqam membagikan tiga langkah konkret yang dapat diterapkan para ayah dalam membimbing tumbuh kembang anak.

  1. Hadir Utuh Tanpa Distraksi Gawai

Langkah pertama adalah menyediakan waktu khusus setiap hari untuk berinteraksi bersama anak tanpa gangguan gawai (smartphone). Anak membutuhkan ruang aman untuk bercerita, menyampaikan keluh kesah, hingga mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi.

“Anak-anak kita tidak hanya membutuhkan hadiah, jemaah. Mereka merindukan kehadiran ayahnya,” tutur Lailan.

  1. Utamakan Keteladanan daripada Instruksi

Langkah kedua adalah memprioritaskan contoh nyata dibanding sekadar perintah. Mengingat anak adalah peniru yang ulung, perilaku orang tua di rumah secara otomatis menjadi rujukan utama pembentukan karakter mereka.

“Tidak ada metode yang paling ampuh dan efektif selain keteladanan. Keteladanan ayah adalah kurikulum terbaik dalam kehidupan ananda,” tegas Lailan.

Sebagai contoh, jika ayah menginginkan anaknya rajin beribadah ke masjid atau bersikap santun, maka sang ayah harus terlebih dahulu mempraktikkan kebiasaan tersebut. Pendidikan agama akan jauh lebih mudah diserap ketika anak menyaksikan penerapannya secara langsung.

  1. Jadikan Rumah sebagai Benteng Spiritual

Langkah ketiga adalah menghidupkan kembali tradisi dialog keimanan, doa bersama, dan percakapan hangat di meja makan. Kebiasaan sederhana ini tidak hanya mempererat ikatan emosional, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam secara alami.

Di samping ketiga langkah utama tersebut, Lailan mengingatkan pentingnya kekuatan doa orang tua dan kesungguhan dalam menjaga keimanan diri. Mendidik generasi yang saleh dan salehah idealnya dipersiapkan sejak sebelum pernikahan melalui latihan kedisiplinan, pengelolaan waktu, dan penguatan spiritual calon ayah.

“Tanggung jawab seorang ayah melampaui pemenuhan kebutuhan materi. Anak-anak membutuhkan bimbingan keagamaan, kasih sayang, dan teladan nyata,” pungkas Lailan seraya mengajak jemaah memulai perubahan positif dari rumah masing-masing. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search