Ketika Algoritma Mengasuh Anak: Krisis Fitrah dalam Pendidikan Islam Kontemporer

Ketika Algoritma Mengasuh Anak: Krisis Fitrah dalam Pendidikan Islam Kontemporer
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Kabupaten Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

#Saat Gawai Mengalahkan Peran Orang Tua dan Guru

Dalam beberapa dekade terakhir, peran orang tua dan guru sebagai pendidik utama anak mengalami tantangan serius. Bukan semata karena lemahnya otoritas keluarga atau sekolah, tetapi karena hadirnya aktor baru yang bekerja secara senyap namun masif: algoritma digital. Gawai yang awalnya berfungsi sebagai alat bantu belajar dan komunikasi, kini menjelma menjadi “pengasuh” baru yang terus menemani anak—bahkan lebih lama daripada orang tua dan guru.

Algoritma media sosial dan platform digital tidak sekadar menyajikan konten, tetapi membentuk kebiasaan, selera, emosi, bahkan cara berpikir anak. Ketika gawai lebih didengar daripada nasihat orang tua dan lebih ditaati daripada arahan guru, maka sesungguhnya pendidikan Islam sedang menghadapi krisis fitrah yang serius.

Algoritma sebagai “Murabbī” Baru
Algoritma bekerja dengan membaca perilaku pengguna: apa yang ditonton, disukai, dan diulang. Dari data tersebut, sistem kemudian menyajikan konten yang semakin sesuai dengan dorongan emosi anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa algoritma cenderung mengutamakan konten yang memicu keterlibatan emosional tinggi—hiburan berlebihan, sensasi, dan validasi instan—karena konten semacam itu membuat pengguna bertahan lebih lama.^1

Dalam praktiknya, algoritma berfungsi layaknya murabbī tanpa nilai: ia mengajarkan apa yang harus dilihat, ditiru, dan dianggap normal. Bagi anak, pengulangan ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Apa yang sering dilihat akan dianggap wajar; apa yang sering diulang akan terasa benar. Di sinilah gawai mulai “mengalahkan” peran orang tua dan guru secara perlahan namun sistematis.

Fitrah Anak dan Lingkungan Pendidikan dalam Islam
Islam menegaskan bahwa setiap anak lahir membawa fitrah yang lurus. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”¹²

Hadis ini menegaskan bahwa lingkungan adalah faktor penentu dalam arah perkembangan anak. Dalam konteks kontemporer, lingkungan tersebut telah meluas ke ruang digital. Ketika orang tua dan guru abai, algoritma akan mengisi kekosongan peran tersebut.

Al-Qur’an memberikan peringatan tegas:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. al-Tahrīm [66]: 6)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang ancaman ukhrawi, tetapi juga kewajiban pendidikan dan penjagaan nilai sejak dini termasuk dari pengaruh teknologi yang merusak akhlak.

Ketika Gawai Mengalahkan Orang Tua dan Guru
Fenomena hari ini menunjukkan bahwa nasihat orang tua sering kalah oleh konten singkat berdurasi 30 detik. Arahan guru kerap dikalahkan oleh figur viral yang dijadikan panutan oleh algoritma. Anak lebih percaya pada apa yang muncul di layar daripada apa yang disampaikan di ruang kelas.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan:
النَّفْسُ تَأْلَفُ مَا عُوِّدَتْ عَلَيْهِ
Jiwa akan terbiasa dengan apa yang terus-menerus dibiasakan kepadanya.”¹³

Ketika jiwa anak dibiasakan dengan hiburan instan dan pengakuan semu (likes, komentar, views), maka nilai kesabaran, adab, dan kedalaman berpikir yang diajarkan orang tua dan guru akan terasa “tidak menarik”.

Lebih jauh, Al-Qur’an mengingatkan bahaya mengikuti hawa nafsu:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. al-Jāthiyah [45]: 23)

Algoritma, pada hakikatnya, adalah mesin yang melayani hawa nafsu manusia—bukan yang mendidik jiwa.

Tanggung Jawab Pendidikan Islam di Era Algoritma
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, menjaga akal (ḥifẓ al-‘aql) dan menjaga generasi (ḥifẓ al-nasl) merupakan kewajiban utama. Pendidikan Islam tidak boleh menyerahkan sepenuhnya proses pembentukan kepribadian anak kepada teknologi.

Abdullah Nashih Ulwan menegaskan bahwa orang tua adalah pendidik pertama dan utama, sedangkan guru adalah mitra strategis dalam membentuk akhlak anak.^4 Keteladanan, pengawasan, dan dialog harus menjadi fondasi pendidikan, bukan sekadar larangan teknis.

Literasi digital dalam perspektif Islam bukan hanya soal how to use, tetapi how to control. Anak perlu diajarkan adab bermedia: kapan berhenti, apa yang ditolak, dan mengapa tidak semua yang viral patut ditiru.
Penutup

Ketika gawai mengalahkan peran orang tua dan guru, sesungguhnya yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan krisis pendidikan dan fitrah. Algoritma telah mengambil alih peran lingkungan pendidikan tanpa nilai, tanpa akhlak, dan tanpa tanggung jawab moral.

Pendidikan Islam kontemporer dituntut untuk bangkit: mengembalikan peran orang tua sebagai murabbī, guru sebagai mu’addib, dan teknologi sebagai alat—bukan pengasuh. Tanpa itu, generasi yang tumbuh mungkin cerdas secara digital, tetapi rapuh secara akhlak dan kehilangan arah hidup. (*)

Catatan Kaki (Turabian Style)

  1. Zeynep Tufekci, Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest (New Haven: Yale University Press, 2017), 215–218.
  2. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, aī al-Bukhārī, Kitāb al-Janā’iz, no. 1385.
  3. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Ighāthat al-Lahfān (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1994), 1:95.
  4. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al-Awlād fi al-Islām (Cairo: Dār al-Salām, 1992), 1:45–47.

 

Tinggalkan Balasan

Search