Pada umumnya, manusia memiliki cita-cita dan ingin mewujudkan secepatnya di dunia. Adapun caranya beragam sesuai dengan kehendaknya. Kehendak itu berdasarkan pemikiran dan pengalaman, baik dari dirinya atau orang lain. Islam menggariskan bahwa pemikiran dan pengalaman yang tidak melibatkan spirit profetik hanya akan menghasilkan kekecewaan dan penyesalan.
Sebagai seorang muslim, penyandaran keberhasilan cita-cita dikaitkan dengan spirit ketuhanan. Hal ini berdasarkan pandangan bahwa Allah sebagai pemilik dunia dan akhirat, akan memberi keputusan terbaik pada hamba-Nya. Malaikat sebagai makhluk terbesar dan teragung tidak bisa berbuat apa-apa kecuali karena kehendak Allah. Sementara manusia sebagai makhluk yang kecil dan lemah justru merasa yakin cita-citanya terwujud tanpa penyandaran pada spirit profetik.
Cita-Cita Manusia
Sebagai makhluk yang berbekal akal dan pengalaman, manusia berupaya mewujudkan keinginan atau cita-cita besar secara mandiri. Dengan melihat atau mengamati serta membandingkan dengan pengalaman orang lain yang sukses, manusia menginginkan dirinya seperti mereka. Ingin hidup sukses yang diidentikkan dengan kekayaan yang banyak. dan atau kekuasaan yang besar, manusia menempuh jalan seringkali tidak melibatkan spirit profetik.
Penyandaran kepada Tuhan seolah dilepaskan dan berbekal kemampuan dirinya an sich. Oleh karenanya, tidak jarang ditemukan pelanggaran normative maupun profetik. Main terjang, jalan pintas pun dilalui hingga secara tidak sadar melakukan kedzaliman. Bahkan langkah-langkahnya menciptakan ketidakadilan.
Merekayasa dengan cara yang salah, seperti mencuri timbangan, menipu, hingga korupsi secara eksploitatif. Kepekaan dan kepedulian sosial pada penderitaan orang lain atas perilakunya tak pernah disadari. Hal itu menunjukkan bahwa manusia bercita-cita besar dan yakin bisa mewujudkannya. Al-Qur’an hingga mempertanyakan keyakinan besar atas terwujudnya cita-cita manusia, sebagaimana firman-Nya :
أَمۡ لِلۡإِنسَٰنِ مَا تَمَنَّىٰ
Artinya:
Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (QS. An-Najm : 24)
Cita-cita boleh mengangkasa, tetapi nasibnya tidak ditentukan oleh keinginan belaka, tetapi ada Allah, Sang Penentu terwujud tidaknya cita-cita hamba-Nya. Manusia boleh memiliki cita-cita terbaik, namun Allah sebagai pintu utama terwujud tidaknya cita-cita hamba. Ambisi tidak bisa berjalan sendiri karena Allah lah Sang pemilik seluruh kehidupan, baik di dunia maupun akhirat. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
فَلِلَّهِ ٱلۡأٓخِرَةُ وَٱلۡأُولَىٰ
Artinya:
(Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. (QS. An-Najm : 25)
25).
Allah sebagai Dzat yang berkehendak sangat menentukan baik buruknya manusia. Keberhasilan bukan semata karena strategi tetapi merupakan karunia yang dianugerahkan, sekaligus amanah yang dipertanggungjawabkan. Penyandaran secara kuat kepada Allah tidak lantas mematikan kreativitas.
Berharap petunjuk Allah untuk terwujudnya cita-cita merupakan jalan terbaik. Kalau cita-cita tak terwujud, tidak putus ada. Namun ketika berhasil tidak sombong. Tidak sedikit manusia yang murni menyandarkan usahanya guna mewujudkan cita-cita namun ketika tidak berhasil justru putus asa dan tak punya harapan lagi.
Malaikat
Penyandaran kepada spirit profetik sangat diperlukan bagi seorang hamba. Allah akan memberi keputusan terbaik pada para hamba yang secara totalitas menyandarkan diri pada-Nya. Allah sangat berkuasa untuk mewujudkan atau tidak kehendak hamba-Nya. Malaikat sebagai makhluk terbesar tidak lepas dari kehenda-Nya. Sebagai makhluk agung, suci dari kesalahan tidak bisa bergerak kalau Allah tidak menghendaki.
Dengan kata lain, eksistensi makhluk yang paing patuh ini tidak bisa apa-apa ketika Allah tidak menghendakinya untuk bergerak. Bahkan ketika malaikat ingin memberi syafaat, tidak akan bisa sampai kecuali atas kehendak-Nya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ
Artinya:
Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-(Nya). (QS. An-Najm :26)
Jika kehendak malaikat yang menginginkan kepada makhluk lain tidak bisa terwujud tanpa seizin-Nya. Apalagi manusia yang kecil dan lemah, tentu tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Sudah seharusnya manusia melibatkan Alllah ketika ingin mewujudkan cita-citanya.
Penyandaran penuh kepada-Nya akan mendatangkan manfaat besar, sekalipun ketika cita-cita gagal terwujud. Karena Allah pasti memutuskan yang terbaik. Dengan kata lain, melibatkan Allah, maka tumbuh dua sikap sekaligus, rendah hati dan adab dalam berharap. Keduanya menahan diri dari sikap sombong.
Islam tidak memadamkan cita-cita, namun membersihkannya dari berbagai unsur yang merusaknya. Ikhtiar tetap wajib, menyusun rencana, menajamkan kompetensi, dan bekerja tekun. Namun semua itu dibingkai dengan niat yang lurus-tulus, cara yang baik, doa yang tekun, serta kesiapan menerima ketetapan terbaik menurut Allah. Dengan kata lain, cita-cita bukan sekadar menyandarkan kalkulasi manusia tetapi melibatkan Sang pembuat rencana terbaik, Allah.
Bisa jadi cita-cita manusia tak terwujud dalam waktu cepat. Terkadang Allah menunda atau mengalihkan hasil dengan kebaikan yang lain. Tidak semua angan-angan harus tercapai. Cita-cita menjadi ibadah, ikhtiar menjadi adab, dan hasil dikembalikan kepada Pemilik “akhirat dan dunia”, itulah hakikat cita-cita profetik, melibatkan Allah dalam setiap tindakan.
Surabaya, 19 September 2025
