Ketika Dakwah Kehilangan Adab: Sesama Muslim Saling Berhadapan Akibat Provokasi Media Sosial

Ketika Dakwah Kehilangan Adab: Sesama Muslim Saling Berhadapan Akibat Provokasi Media Sosial
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah ironi yang semakin sering kita saksikan di tengah kehidupan umat Islam hari ini. Sesama muslim yang seharusnya saling menguatkan justru terjebak dalam pertengkaran, saling mencela, bahkan berujung pada tindakan kekerasan. Perbedaan pandangan keagamaan yang semestinya menjadi ruang dialog dan pertukaran pemikiran berubah menjadi permusuhan. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana menyebarkan ilmu dan memperluas silaturahmi justru tidak jarang menjadi panggung provokasi dan pertarungan ego.

Belakangan, nama pesilat Herri Pras menjadi sorotan setelah sejumlah orang mendatangi dirinya. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan konten-konten media sosialnya yang dinilai provokatif karena kerap menyerang sejumlah ustadz dan ulama kalangan Aswaja, seperti Ustadz Abdul Somad (UAS), Ustadz Adi Hidayat (UAH), serta sejumlah ulama Nahdlatul Ulama (NU). Terlepas dari persoalan yang melatarbelakangi peristiwa tersebut, satu hal patut menjadi keprihatinan bersama: mengapa sesama muslim bisa sampai saling berhadapan hanya karena perbedaan pandangan keagamaan?

Saya pribadi pernah memiliki simpati terhadap Herri Pras. Namun, seiring waktu, simpati itu perlahan memudar ketika melihat pola kritik yang disampaikan melalui media sosial. Kritik terhadap pendapat seorang ustadz tentu bukan sesuatu yang terlarang. Dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan pendapat bahkan merupakan bagian dari dinamika intelektual. Akan tetapi, kritik membutuhkan ilmu, argumentasi, ketelitian, dan yang paling mendasar adalah adab.

Mengkritik pemikiran seseorang berbeda dengan merendahkan martabat orang yang dikritik. Membantah pendapat seorang ulama tidak otomatis memberikan legitimasi untuk mencela, menghina, atau membangun narasi yang memancing kebencian terhadap dirinya. Apalagi jika kritik tersebut terus-menerus dikemas dengan bahasa provokatif, seolah-olah perbedaan pandangan harus diselesaikan dengan mempermalukan pihak lain di ruang publik.

Di sinilah persoalan mendasarnya. Dakwah bukan sekadar keberanian berbicara, apalagi kemampuan membongkar kelemahan orang lain. Dakwah adalah upaya mengajak manusia menuju kebaikan. Karena itu, cara menyampaikan kebenaran tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai akhlak. Seseorang boleh merasa memiliki pemahaman agama yang lebih kuat, tetapi perasaan tersebut tidak boleh membuatnya kehilangan kerendahan hati.

Ada ungkapan menarik: ilmu tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan, sedangkan keberanian tanpa kebijaksanaan bisa menjelma menjadi provokasi. Dalam konteks ini, strategi dakwah yang tidak terkendali justru berpotensi menghasilkan sesuatu yang bertolak belakang dengan tujuan dakwah itu sendiri. Alih-alih memperluas pemahaman, yang tumbuh justru kebencian, kecurigaan, dan permusuhan.

Apalagi ketika seseorang memiliki latar belakang bela diri atau kemampuan silat. Kemampuan tersebut semestinya menjadi sarana melatih kedisiplinan, pengendalian diri, dan tanggung jawab, bukan membangun rasa percaya diri berlebihan dalam menghadapi konflik. Jago silat bukan berarti seseorang kebal terhadap kritik, apalagi merasa selalu benar dalam setiap perdebatan. Justru semakin tinggi kemampuan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk mengendalikan dirinya.

Namun, kita juga harus bersikap adil. Ketidaksetujuan terhadap konten seseorang tidak pernah menjadi pembenaran untuk melakukan pengeroyokan, intimidasi, atau tindakan kekerasan. Jika ada konten yang dianggap menghina, memfitnah, atau melanggar hukum, tersedia mekanisme untuk memberikan teguran, klarifikasi, pelaporan, dan penyelesaian melalui jalur yang semestinya. Jangan sampai kita mengecam provokasi di media sosial, tetapi pada saat yang sama membenarkan kekerasan di dunia nyata.

Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam menyikapi perbedaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan dakwah bukan memenangkan ego, melainkan menyampaikan kebenaran dengan kebijaksanaan. Bahkan ketika menghadapi perbedaan yang tajam sekalipun, seorang muslim tetap dituntut menjaga tutur kata dan kehormatan sesamanya.

Kita boleh berbeda manhaj, berbeda guru, berbeda organisasi, bahkan berbeda dalam memahami sejumlah persoalan keagamaan. Namun, jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan kesadaran bahwa sesama muslim tetap bersaudara. UAS, UAH, para kiai NU, maupun ustadz dari kelompok lain tentu dapat dikritik pendapatnya. Tidak ada manusia yang maksum selain para nabi dalam penyampaian risalah. Tetapi kritik harus dibangun dengan argumentasi, bukan cercaan.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah tempat untuk mempertontonkan siapa yang paling keras, paling berani, atau paling hebat dalam berdebat. Ia seharusnya menjadi ruang untuk berbagi ilmu, memperluas wawasan, dan membangun persaudaraan. Jangan sampai atas nama membela sunnah, membela manhaj, atau membela kebenaran, kita justru meruntuhkan nilai-nilai Islam yang seharusnya kita jaga.

Terus terang, melihat sesama muslim saling berhadapan seperti ini membuat kita hanya bisa mengelus dada. Speechless. Sebab, jika dakwah kehilangan adab, sementara perbedaan berubah menjadi permusuhan, lalu apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan?

Jangan sampai kita begitu bersemangat meluruskan pemahaman orang lain, tetapi lupa meluruskan akhlak diri sendiri. Sebab, kebenaran yang disampaikan tanpa adab bisa kehilangan keindahan, sementara dakwah yang dipenuhi kebencian justru berisiko menjauhkan manusia dari pesan Islam itu sendiri.(*)

Tinggalkan Balasan

Search