Ketika Dunia Ramai, Tapi Hati Sepi: Sudahkah Kita Menatap Sekeliling?

Ketika Dunia Ramai, Tapi Hati Sepi: Sudahkah Kita Menatap Sekeliling?
*) Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd
Guru SD Muhammadiyah 1 dan Sekbid PDPM Malang
www.majelistabligh.id -

Di tengah dunia yang bising oleh notifikasi dan status, manusia perlahan kehilangan sesuatu yang paling berharga: kepekaan hati. Kita berjalan cepat, menggenggam ponsel erat, tapi lupa menatap wajah-wajah di sekitar, wajah yang membawa ribuan kisah yang tak sempat mereka ceritakan.

Coba berhenti sejenak.
Letakkan ponselmu.
Tatap sekelilingmu.

Mungkin di kursi sebelahmu ada seseorang yang sedang berjuang keras menahan air mata.
Mungkin di rumah tetanggamu ada ibu yang menahan lapar agar anaknya tetap makan.
Mungkin di jalanan itu, ada anak muda yang sedang kehilangan arah dan hanya butuh satu sapaan lembut untuk kembali menemukan harapan.

“Lihat sekelilingmu, dan renungi; jangan-jangan mereka butuh kamu.”
Pesan kecil yang bisa mengubah dunia jika kita benar-benar memahaminya.

Ketika Hati Mulai Mati Rasa

Banyak orang kini tampak tegar, padahal hatinya lelah.
Ada yang tertawa, tapi dalam dirinya menjerit minta tolong.
Ada yang kuat di luar, tapi hancur di dalam.

Mereka hidup di dunia yang terasa sempit. Dan Allah sudah menjelaskan mengapa dunia bisa terasa menyesakkan:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةࣰ ضَنكࣰا
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Ṭāhā [20]: 124)

Dunia sempit bukan karena miskin harta, tapi karena miskin dzikir.
Karena manusia jauh dari sujud yang menenangkan.

Namun, di sinilah letak ujian kita sebagai umat beriman.
Mereka yang tersesat bukan untuk kita hakimi, tapi untuk kita dekati.
Karena bisa jadi, Allah sedang menguji kita: apakah kita hanya sibuk menilai, atau mau menolong?

Kepedulian Adalah Wujud Iman

Allah tidak menciptakan kita untuk hidup sendiri.
Ia menautkan hati manusia agar saling menolong dan menegakkan kebaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Mā’idah [5]: 2)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Setiap kali engkau menolong makhluk Allah, engkau sedang mengetuk pintu pertolongan-Nya.”

Kepedulian bukan kelemahan, tapi puncak kekuatan iman.
Sebab, hati yang paling kuat bukan yang tahan terhadap luka, tapi yang tetap lembut meski pernah disakiti dunia.

Pemimpin Sejati Lahir dari Empati

Kita sering membayangkan pemimpin sebagai orang dengan jabatan tinggi, padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, seorang ibu yang sabar mendidik anaknya —dia pemimpin.
Seorang guru yang menuntun muridnya dengan kasih — dia pemimpin.
Seorang sahabat yang menghibur kawannya yang putus asa — dia pemimpin.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata:

“Pemimpin sejati bukan yang paling banyak pengikutnya, tapi yang paling banyak membuat manusia dekat kepada Allah.”

Kepemimpinan bukan tentang panggung, tapi tentang keberanian menundukkan ego untuk menolong sesama.

Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Kita hidup di masa di mana scrolling terasa lebih mudah daripada menolong.
Kita tahu berita sedih, tapi jarang benar-benar peduli.
Padahal Rasulullah ﷺ sudah memberi petunjuk sederhana:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Bayangkan, jika setiap Muslim bertekad menjadi “manusia terbaik” menurut hadis ini — dunia tak akan kekurangan kasih, masjid tak akan kekurangan jamaah, dan jalanan tak akan kekurangan senyum.

Saatnya Menjadi Tangan Allah di Muka Bumi

Syekh Mutawalli asy-Sya‘rawi berkata:

“Ketika Allah memberi rezeki kepada seseorang, itu bukan kehormatan — tapi ujian. Karena di dalamnya, ada hak orang lain yang harus disampaikan.”

Artinya, ketika engkau punya waktu, tenaga, ilmu, atau rezeki — itu semua bukan milikmu sepenuhnya.
Itu titipan agar engkau menjadi tangan pertolongan Allah bagi mereka yang sedang tenggelam dalam kesulitan.

Dunia Tidak Sempit, Hati Kita yang Sempit

Dunia tidak pernah benar-benar sempit.
Yang sempit adalah hati yang berhenti berempati.

Jadi, sebelum tidur malam ini, renungkanlah:
* Siapa orang yang sedang Allah titipkan untuk engkau tolong?
* Siapa yang menunggu uluran tanganmu?
* Dan kapan terakhir kali engkau benar-benar mendengarkan seseorang tanpa menatap layar?

Karena mungkin, di mata manusia engkau hanya butiran debu,
tapi di mata Allah, engkau bisa jadi jawaban doa seseorang yang menangis di malam hari.

Ada suatu tulisan yang mampu menggugah hari ini “ Lihat sekelilingmu, dan renungi; jangan-jangan mereka butuh kamu.”
Mari hidup dengan mata yang terbuka dan hati yang menyala, agar dunia yang ramai ini kembali hangat oleh cahaya kasih sesama. (*)

Tinggalkan Balasan

Search