Ketika Janji Tanpa InsyaAllah Menjadi Petaka: Pelajaran dari Nabi

Ketika Janji Tanpa InsyaAllah Menjadi Petaka: Pelajaran dari Nabi
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepala Sekolah SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Ungkapan insyaAllah (إِنْ شَاءَ اللَّهُ) merupakan kalimat yang sangat lekat dengan kehidupan dan biasa terdengan di telinga kaum muslimin. Maknanya adalah “Jika Allah menghendaki”, sebagai pengakuan bahwa seluruh urusan manusia tidak akan terwujud kecuali dengan izin Allah ﷻ. Namun kalimat ini bukanlah sekadar basa-basi sosial, melainkan perintah syar’i yang ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan dipertegas dengan kisah nyata yang dialami para nabi.

InsyaAllah dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 23–24:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sesungguhnya aku pasti akan melakukannya besok,’ kecuali (dengan menyebut): insyaAllah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Ayat ini turun ketika Rasulullah ﷺ ditanya oleh kaum Quraisy tentang Ashḥābul Kahfi. Nabi menjawab: “Besok aku akan menjawabnya,” namun beliau lupa mengucapkan insyaAllah. Akibatnya, wahyu tertunda turun beberapa hari lamanya.

Imam al-Ṭabarī menegaskan:

يَنْبَغِي لِلْعَبْدِ أَنْ يَرْجِعَ فِي أَفْعَالِهِ كُلِّهَا إِلَى مَشِيئَةِ اللَّهِ

“Seharusnya seorang hamba mengembalikan seluruh perbuatannya kepada kehendak Allah.” (Jāmi‘ al-Bayān, 15/278)

Ibn Katsīr menyebutkan bahwa ayat ini adalah adab yang Allah ajarkan, tidak hanya bagi Rasulullah ﷺ, tetapi bagi seluruh umat Islam.

Kisah Nabi Sulaiman Akibat Tidak Mengucapkan InsyaAllah

Salah satu kisah yang paling jelas menunjukkan pentingnya mengucapkan insyaAllah adalah kisah Nabi Sulaiman ‘alayhis-salām. Rasulullah ﷺ bersabda:

قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ: لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً، كُلُّهُنَّ تَأْتِي بِفَارِسٍ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ: قُلْ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ. فَلَمْ يَقُلْ. فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ. قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَوْ قَالَ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ، لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فُرْسَانًا أَجْمَعُونَ

Nabi Sulaiman bertekad menggauli 70 (dalam riwayat: 100) istrinya dengan harapan semua akan melahirkan anak yang menjadi mujahid. Namun beliau lupa mengucapkan insyaAllah. Akhirnya hanya satu istri yang hamil, itupun melahirkan anak cacat.

Nabi ﷺ menegaskan: seandainya Nabi Sulaiman mengucapkan insyaAllah, maka semua niatnya akan terkabul dengan izin Allah. (HR. al-Bukhārī no. 2819, Muslim no. 1654)

Para ulama menafsirkan hadis ini sebagai:

  • Ikhtiar manusia tak berarti tanpa izin Allah. Meski Nabi Sulaiman berkuasa penuh, hasilnya tetap bergantung kepada Allah
  • Adab dalam membuat rencana. An-Nawawī menekankan bahwa kalimat insyaAllah adalah bentuk tawakkal dan etika seorang mukmin
  • Pelajaran abadi bagi umat. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menyatakan bahwa hadits ini adalah dalil keutamaan mengucapkan insyaAllah agar rencana manusia diberkahi.

InsyaAllah dalam Hadis Lain

Selain kisah Nabi Sulaiman, Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat ini dalam doa dan sumpah.

Dalam doa istisqā’, beliau bersabda:

اللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ، إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Ya Allah, turunkanlah hujan yang menyelamatkan, menyenangkan, banyak, bermanfaat, tidak membahayakan, segera dan tidak ditunda, insyaAllah.” (HR. al-Bukhārī, no. 1039)

Dalam perkara sumpah, Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ فَقَالَ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَلَمْ يَحْنَثْ

“Barangsiapa bersumpah lalu mengatakan: insyaAllah, maka ia tidak berdosa (jika tidak jadi melaksanakannya).” (HR. Abū Dāwūd, no. 3261)

Hal ini menunjukkan bahwa insyaAllah bukanlah tanda keraguan, melainkan bentuk adab kepada Allah.

Pandangan Ulama Kontemporer

Syaikh Ibn ‘Utsaimīn rahimahullāh menegaskan:

إِنْ شَاءَ اللَّهُ تُقَالُ لِلْجِدِّ لَا لِلتَّخَلُّصِ

“Ucapan insyaAllah itu digunakan untuk kesungguhan, bukan untuk menghindar.” (Syarḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, 3/92)

Artinya, kalimat ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menipu janji, melainkan harus keluar dari hati yang tulus.

Diksi insyaAllah dalam Al-Qur’an dan hadis memiliki kedudukan agung. Ia menjadi pengingat bahwa seluruh rencana manusia hanya berhasil jika Allah menghendaki. Al-Qur’an menegaskannya melalui adab yang diajarkan kepada Rasulullah ﷺ, sementara Sunnah menegaskannya melalui doa, sumpah, dan kisah Nabi Sulaiman ‘alayhis-salām.

Dengan demikian, umat Islam harus menjaga adab mengucapkan insyaAllah, tidak sebagai basa-basi, tetapi sebagai bentuk tauhid rubūbiyyah dan tawakkal. Kalimat sederhana ini menjadi kunci keberkahan setiap niat dan amal. (*)

 

Referensi

  1. Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. (1422 H/2001 M). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Riyadh: Dār Ṭawq al-Najāt.
  2. Muslim ibn al-Ḥajjāj. (2006). Ṣaḥīḥ Muslim. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  3. Abū Dāwūd, Sulaymān ibn al-Ash‘ath. (2009). Sunan Abī Dāwūd. Beirut: Dār al-Risālah al-‘Ālamiyyah.
  4. Al-Ṭabarī, Muḥammad ibn Jarīr. (2001). Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasat al-Risālah.
  5. Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. (1999). Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭayyibah.
  6. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Aḥmad ibn ‘Alī. (1379 H/1959 M). Fatḥ al-Bārī bi-Sharḥ Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
  7. Al-Nawawī, Yaḥyā ibn Sharaf. (2003). Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Riyadh: Dār al-Salām.
  8. Ibn ‘Uthaymīn, Muḥammad ibn Ṣāliḥ. (1426 H/2005 M). Sharḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn. Riyadh: Maktabat al-Ma‘ārif.

Tinggalkan Balasan

Search