#Hikmah Lapar, Kendali, dan Istirahat dalam Perspektif Ruhani
Antara Jasad yang Terlihat dan Ruh yang Menghidupkan
Manusia sering diukur dari apa yang tampak: kekuatan fisik, kecukupan materi, dan kenikmatan inderawi. Namun Islam memulai pembicaraan tentang manusia dari sesuatu yang tidak terlihat: ruh. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
﴿وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى﴾
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.”¹
Ayat ini menegaskan bahwa inti eksistensi manusia bukanlah jasad, melainkan ruh. Jasad hanyalah wadah; ruh adalah penggerak. Jasad bisa kenyang namun hati tetap kosong. Jasad bisa sehat namun jiwa terasa rapuh. Karena itu, syariat Islam tidak hanya mengatur perilaku lahiriah, tetapi membangun kekuatan batin.
Salah satu bentuk pendidikan ruhani paling agung adalah ibadah shaum (puasa). Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾²
Frasa la‘allakum tattaqūn mengisyaratkan hikmah tasyri‘ (tujuan legislasi) ibadah shaum: membentuk ketakwaan. Para ulama ushul menegaskan bahwa setiap syariat memiliki maqasid (tujuan) yang mengandung maslahat dan penyucian jiwa. Puasa bukan sekadar ritual menahan makan dan minum, tetapi sarana tazkiyatun nafs (pensucian jiwa).
Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa hikmah puasa adalah mematahkan dominasi syahwat, mempersempit jalan setan, serta melembutkan hati agar mudah menerima cahaya kebenaran.³
Sementara Ibn al-Qayyim al-Jawziyya menegaskan bahwa puasa memiliki pengaruh menakjubkan dalam menjaga anggota tubuh dari maksiat dan menenangkan gejolak hawa nafsu.⁴
Dengan demikian, ungkapan: “Ketika jasad dilaparkan, sebetulnya ruh yang dikenyangkan” menemukan pijakan teologisnya. Lapar bukan sekadar pengurangan asupan fisik, melainkan penambahan kekuatan spiritual. Syariat terkadang “mengurangi” jasad demi “menambah” ruh.
- Ketika Jasad Dilaparkan, Ruh Dikenyangkan
Dalam Shahih al-Bukhari Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»⁵
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, mengamalkannya dan bersikap bodoh, maka Allah tidak butuh terhadap sikapnya meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)”
Hadis ini menunjukkan bahwa tujuan puasa bukan sekadar lapar biologis. Jika hanya menahan makan tetapi lisan tetap berdusta, ruh tidak memperoleh apa-apa. Puasa yang benar justru memberi “gizi” pada hati: kesadaran, muraqabah, dan rasa takut kepada Allah.
Secara hikmah tasyri‘, lapar mendidik tiga hal:
- Kesadaran Ketergantungan – Manusia merasakan lemahnya diri dan kuatnya kebutuhan kepada Allah.
- Empati Sosial – Rasa lapar menumbuhkan kepedulian kepada kaum dhuafa.
- Pengendalian Syahwat – Perut adalah gerbang banyak keinginan; ketika ia dijaga, anggota tubuh lain ikut terjaga.
Lapar jasmani menjadi jalan kenyang ruhani. Perut yang kosong memberi ruang bagi hati untuk penuh dengan dzikir.
- Ketika Jasad Dikontrol, Ruh Dikuatkan
Puasa tidak hanya menahan makan, tetapi juga menahan amarah, pandangan, dan lisan. Dalam Shahih Muslim Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ»⁶
Mengontrol jasad adalah jihad terbesar. Syariat melatih manusia agar tidak diperbudak oleh naluri. Di sinilah hikmah lain dari tasyri‘ shaum: membentuk pribadi yang merdeka dari dominasi hawa nafsu.
Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa jiwa yang terbiasa melawan hawa nafsu akan mencapai maqam kekuatan iman.⁷ Kontrol diri adalah fondasi keteguhan.
Jasad yang dikendalikan—pandangan yang ditundukkan, lisan yang dijaga, tangan yang ditahan—sesungguhnya sedang membangun otot-otot spiritual. Ruh menjadi kuat karena ia tidak tunduk pada dorongan sesaat.
- Ketika Jasad Diistirahatkan, Ruh Dibahagiakan
Islam bukan agama penyiksaan diri. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا»⁸
Hadis dalam Shahih al-Bukhari ini menegaskan keseimbangan. Istirahat bukan kemunduran spiritual, tetapi bagian dari penjagaan amanah jasad. Menariknya, kebahagiaan ruh tidak selalu identik dengan relaksasi fisik. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:
﴿أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ﴾⁹
Ketenteraman adalah nutrisi ruh. Ketika jasad diistirahatkan dari kesibukan dunia dan diarahkan pada zikir, tilawah, atau munajat malam, ruh merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh materi.
Penutup
Syariat Islam membuktikan bahwa pengurangan pada jasad sering kali adalah penambahan bagi ruh. Lapar mendidik takwa. Kendali membentuk kekuatan. Istirahat menghadirkan ketenteraman.
Hikmah tasyri‘ ibadah shaum menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan lapar kita, tetapi kita yang membutuhkan pendidikan ruhani. Jasad hanyalah sarana; ruh adalah tujuan.
Maka siapa yang mampu memahami rahasia ini, ia tidak lagi melihat puasa sebagai beban, melainkan sebagai jamuan Ilahi—di mana jasad berkurang, tetapi ruh bertambah; jasad ditahan, tetapi ruh dibebaskan. (*)
Catatan Kaki
- Al-Qur’an, Surah al-Isra’ (17): 85.
- Al-Qur’an, Surah al-Baqarah (2): 183.
- Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t.), 1:234.
- Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Zad al-Ma‘ad (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1994), 2:29.
- Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ṣawm, no. 1903.
- Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, no. 2564.
- Ibn Taymiyyah, Majmu‘ al-Fatawa (Madinah: Mujamma‘ al-Malik Fahd, 1995), 10:24.
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ṣawm, no. 1968.
- Al-Qur’an, Surah al-Ra‘d (13): 28.
