“Katanya…”
Satu kata sederhana yang sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. “Katanya ada begini.” “Katanya si fulan melakukan itu.” “Katanya besok akan terjadi sesuatu.” Anehnya, setelah kata itu diucapkan, sebuah kabar yang belum jelas sumbernya dapat dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kebenaran. Seolah-olah sebuah informasi menjadi benar hanya karena telah berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.
Masalahnya bukan pada kata “katanya”, melainkan pada manusia yang berhenti bertanya setelah mendengarnya. Kita sering menerima kabar bukan karena telah memeriksa kebenarannya, tetapi karena kabar itu terdengar meyakinkan, sesuai dengan dugaan, atau menarik untuk diceritakan. Padahal, sebuah cerita yang awalnya hanya berupa dugaan dapat berubah ketika berpindah dari satu orang kepada orang lain. Detailnya bertambah, konteksnya bergeser, dan akhirnya orang yang mendengar versi terakhir tidak lagi mengetahui bagaimana cerita itu bermula.
Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat tegas tentang persoalan ini: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 6).
Ayat ini tidak hanya mengajarkan agar kita berhati-hati terhadap berita, tetapi juga menunjukkan bahwa informasi yang keliru dapat melahirkan akibat yang nyata. Sebuah kabar mungkin hanya berupa kalimat, tetapi keputusan yang lahir darinya dapat menyentuh kehormatan, hubungan, bahkan kehidupan orang lain. Karena itu, tabayyun bukan sekadar sikap hati-hati; ia adalah bentuk tanggung jawab moral sebelum sebuah informasi dipercaya dan disebarkan.
Di situlah rumor bekerja : ia tidak membutuhkan kebenaran untuk menyebar. Ia hanya membutuhkan telinga yang mau mendengar dan mulut yang tidak merasa perlu memeriksa. Sesuatu yang belum terbukti dapat perlahan-lahan memperoleh bentuk seolah-olah fakta, bukan karena memiliki bukti, tetapi karena terlalu sering diulang. Pada titik tertentu, manusia bukan lagi bertanya, “Benarkah?” melainkan, “Bukankah semua orang sudah mengatakan hal yang sama?”
Padahal, banyaknya orang yang mengulang sebuah informasi tidak otomatis menjadikannya benar. Sebuah kesalahan dapat menjadi semakin populer tanpa pernah berubah menjadi kebenaran. Karena itu, Al-Qur’an kembali mengingatkan: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra 36).
Ayat tersebut membawa persoalan informasi ke wilayah yang lebih dalam. Mendengar bukan berarti mengetahui. Melihat bukan berarti memahami. Dan mengetahui sebuah kabar bukan berarti kita berhak menyebarkannya. Ada tanggung jawab yang mengikuti setiap informasi yang masuk melalui telinga, mata, dan hati.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga mengingatkan tentang bahaya kebiasaan menyampaikan semua yang didengar. Beliau bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim).
Hadis ini terasa semakin relevan di zaman ketika manusia dapat meneruskan sebuah pesan hanya dengan satu sentuhan. Dahulu sebuah kabar mungkin membutuhkan waktu berhari-hari untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kini, sebuah informasi dapat menyebar kepada ribuan orang dalam hitungan menit. Teknologi membuat penyebaran informasi semakin cepat, tetapi tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana dalam menggunakannya.
Bahaya menjadi lebih besar ketika “katanya-katanya” menyangkut persoalan sensitif. Kabar yang belum jelas dapat menimbulkan kepanikan, kecurigaan, bahkan permusuhan. Orang mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, lalu keputusan itu melahirkan tindakan yang tidak diperlukan. Kadang sebuah bencana sosial tidak dimulai dari fakta yang besar, tetapi dari satu kabar kecil yang tidak pernah diperiksa.
Dan sering kali, ada manusia yang menjadi korban.
Tuduhan tanpa bukti dapat merusak nama baik seseorang dalam hitungan menit. Sebuah gosip mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk disebarkan, tetapi klarifikasi bisa membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Bahkan ketika kebenaran akhirnya muncul, tidak semua orang yang telah mendengar rumor akan mendengar koreksinya. Nama baik manusia kadang dihancurkan oleh satu kalimat yang tidak pernah dipertanggungjawabkan.
Karena itu, kedewasaan dalam menerima informasi bukan ditandai oleh seberapa cepat kita mengetahui sebuah kabar, tetapi seberapa hati-hati kita memperlakukannya. Siapa sumbernya? Apa buktinya? Kapan peristiwa itu terjadi? Apakah konteksnya utuh? Adakah sumber lain yang dapat mengonfirmasi? Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu sering kali lebih berharga daripada kecepatan untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan berita.
Di zaman media sosial, satu sentuhan pada tombol “teruskan” tampak seperti tindakan kecil. Tetapi informasi tidak berhenti pada layar kita. Ia bergerak ke grup lain, masuk ke percakapan lain, membentuk persepsi orang lain, lalu mungkin berubah menjadi tindakan nyata. Kita sering merasa hanya sedang meneruskan pesan, padahal bisa saja kita sedang meneruskan ketakutan, fitnah, atau kesalahpahaman.
Maka, tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan kembali. Tidak semua yang viral berarti benar. Tidak semua orang yang berbicara dengan penuh keyakinan benar-benar memiliki pengetahuan. Dan tidak semua informasi layak memperoleh tempat di dalam pikiran kita hanya karena ia datang dengan kalimat, “Saya dengar dari orang.”
Ada saatnya manusia harus belajar bahwa diam bukan berarti tidak tahu. Menunda menyebarkan kabar bukan berarti tertinggal. Memeriksa sebelum percaya bukan berarti curiga kepada semua orang. Justru di situlah akal bekerja : memberi jarak antara apa yang didengar dan apa yang dipercayai.
Sebab menjaga lisan bukan hanya tentang tidak berkata kasar. Menjaga lisan juga berarti tidak menjadikan diri kita sebagai mata rantai penyebaran sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Kita mungkin tidak menciptakan rumor itu, tetapi ketika kita ikut menyebarkannya, kita ikut memberi kehidupan kepadanya.
“Katanya” boleh menjadi awal sebuah pertanyaan. Tetapi jangan biarkan ia menjadi akhir dari proses berpikir. Sebab kabar angin yang dibiarkan berputar tanpa pemeriksaan, pada akhirnya bukan lagi sekadar angin. Ia dapat berubah menjadi badai—dan ketika badai itu datang, manusia mungkin baru sadar bahwa yang menghancurkan mereka bukanlah kebenaran, melainkan sesuatu yang sejak awal tidak pernah mereka periksa.(*)
