*) Oleh: Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
Manusia terkadang lupa akan dirinya setelah mereka berada di puncak kesuksesannya sehingga lupa kepada Allah SWT.
Bencana alam dan musibah adalah kehendakNya, manusia hanya bisa tunduk dan patuh kepada-Nya.
Namun adakah diantara mereka yang masih berbuat nista, lalim dan zalim di era globalisasi ini.? Berkaca dan bercermin untuk sebuah kebaikan dan kebahagiaan bersama.
Mari kita berbenah dan bersyukur atas segala nikmat nikmatNya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهٖ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ اَبْوَا بَ كُلِّ شَيْءٍ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فَرِحُوْا بِمَاۤ اُوْتُوْۤا اَخَذْنٰهُمْ بَغْتَةً فَاِ ذَا هُمْ مُّبْلِسُوْنَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
فَقُطِعَ دَا بِرُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا ۗ وَا لْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
“Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 44-45)
Orang orang yang kufur terhadap nikmat Allah dan melupakan peringatanNya pasti akan bermasalah dengan permasalahan yang berat di dunia maupun di akhirat kelak.
Belajarlah dari ummat manusia terdahulu yang dihukum dan diberikan bencana maupun musibah yang besar tanpa ada pilihan lain.
1.Perintah untuk membaca sejarah
قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ ثُمَّ انْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.””
(QS. Al-An’am 6: Ayat 11)
2. Allah SWT telah datangkan peringatan, tetapi mereka tetap tidak mau tunduk pada hukum Allah
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّبِيٍّ اِلَّاۤ اَخَذْنَاۤ اَهْلَهَا بِا لْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُوْنَ
“Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka (tunduk dengan) merendahkan diri.”
ثُمَّ بَدَّلْـنَا مَكَا نَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتّٰى عَفَوْا وَّقَا لُوْا قَدْ مَسَّ اٰبَآءَنَا الضَّرَّآءُ وَا لسَّرَّآءُ فَاَ خَذْنٰهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
“Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan sehingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan,” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 94-95)
3. Tidak ada yang bisa melawan kehendakNya
اَفَاَ مِنَ اَهْلُ الْـقُرٰۤى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَا تًا وَّهُمْ نَآئِمُوْنَ
“Maka, apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?”
اَوَاَ مِنَ اَهْلُ الْقُرٰۤى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ
“Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?”
اَفَاَ مِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 97-99)
