Ketika Politik Kehilangan Akal Sehat dan Integritas

Ketika Politik Kehilangan Akal Sehat dan Integritas
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Korupsi bukan sekadar kejahatan mencuri uang negara. Ia juga merupakan gejala ketika kekuasaan kehilangan dua kendali utamanya: kecakapan berpikir dan integritas moral.

Tanpa keduanya, kebijakan menjadi serampangan, anggaran rawan disalahgunakan, dan jabatan berubah menjadi sarana memperkaya diri. Ketika kekuasaan lepas dari akal sehat dan tanggung jawab, uang rakyat bukan lagi diperlakukan sebagai amanah, melainkan sebagai peluang untuk mengeruk keuntungan.

Ironisnya, kekuasaan selalu diperoleh atas nama rakyat. Kesejahteraan dijanjikan, pembangunan dikampanyekan, dan pengabdian dikumandangkan. Namun, ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan publik, rakyat hanya menjadi alasan dalam pidato, sementara manfaat pembangunan justru gagal mereka rasakan.

Politik sejatinya bukan sesuatu yang kotor. Ia adalah instrumen untuk mengatur kehidupan bersama, mendistribusikan sumber daya secara adil, dan mewujudkan kesejahteraan.

Persoalannya terletak pada cara kekuasaan dijalankan: apakah untuk melayani masyarakat atau justru melayani mereka yang memegang kendali.

Pertama, kekuasaan tanpa kecakapan melahirkan kebijakan yang salah arah.

Kebijakan publik seharusnya bertumpu pada data, kajian, kebutuhan masyarakat, dan perhitungan dampak.

Namun, ketika pencitraan lebih penting daripada hasil, program mudah berubah menjadi pertunjukan. Anggaran terserap, seremoni digelar, laporan disusun, tetapi persoalan masyarakat tetap tak terselesaikan.

Ketidakcakapan dalam mengelola negara pun memiliki ongkos besar. Uang rakyat dapat terbuang melalui program yang tidak efektif, prioritas yang keliru, dan keputusan yang mengabaikan kebutuhan mendesak.

Tidak semua pemborosan merupakan korupsi, tetapi semuanya menuntut pertanggungjawaban.

Kedua, kekuasaan tanpa integritas membuka jalan bagi pengkhianatan amanah.
Orang yang cakap tetapi tidak jujur bahkan dapat lebih berbahaya.

Pengetahuan tentang aturan dan birokrasi bisa digunakan bukan untuk memperbaiki tata kelola, melainkan untuk mencari celah, memanipulasi prosedur, dan menyembunyikan penyimpangan.

Di sinilah korupsi menjadi persoalan serius: bukan semata-mata karena uang negara hilang, tetapi karena mandat publik dikhianati.

Setiap rupiah yang diselewengkan berpotensi mengurangi kemampuan negara menyediakan sekolah yang layak, layanan kesehatan yang memadai, infrastruktur yang baik, dan perlindungan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Ketika kecakapan dan integritas sama-sama tersingkir, politik berisiko berubah menjadi jaringan kepentingan yang mempertahankan kekuasaan demi keuntungan kelompok.

Kesetiaan kepada gagasan dan kepentingan publik digantikan oleh loyalitas kepada lingkaran kekuasaan.

Jabatan menjadi komoditas, kebijakan menjadi alat transaksi, dan pengawasan dipandang sebagai ancaman.

Demokrasi mungkin tetap berjalan secara prosedural, tetapi kehilangan substansi ketika penguasa lebih responsif terhadap kepentingan elite daripada kebutuhan masyarakat.

Tentu, tidak semua politisi dapat disamaratakan. Masih ada mereka yang bekerja dengan jujur dan memperjuangkan kepentingan publik. Karena itu, kritik harus diarahkan pada perilaku koruptif, penyalahgunaan wewenang, dan sistem yang memungkinkan pelanggaran berlangsung tanpa pertanggungjawaban.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Pertama, masyarakat perlu menilai pemimpin berdasarkan kapasitas, rekam jejak, integritas, dan tanggung jawabnya, bukan semata-mata popularitas, kedekatan, atau pemberian sesaat.

Kedua, pengelolaan anggaran harus transparan dan dapat diawasi sejak perencanaan hingga pelaksanaan. Audit independen, pengadaan yang akuntabel, serta tindak lanjut atas temuan penyimpangan tidak boleh berhenti sebagai formalitas.

Ketiga, kebebasan pers, kritik warga, dan pengawasan masyarakat sipil harus dilindungi. Kekuasaan yang tidak diawasi berisiko menyalahgunakan kewenangannya, sedangkan hukum yang tidak ditegakkan secara adil akan kehilangan daya cegah.

Pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar atau orang baik. Tantangannya adalah memastikan kapasitas dan integritas benar-benar menjadi syarat kepemimpinan, bukan sekadar hiasan dalam kampanye. Sistem pemerintahan juga harus mampu mencegah penyalahgunaan wewenang, bukan hanya berharap setiap pejabat selalu berbuat benar.

Politik membutuhkan kecakapan untuk mengelola negara dan kejujuran untuk menjaga amanah.

Tanpa kecakapan, kebijakan kehilangan arah. Tanpa kejujuran, kekuasaan kehilangan batas.
Jabatan bukan hak istimewa untuk memperkaya diri. Kekuasaan bukan lisensi untuk menguasai sumber daya negara. Uang rakyat bukan hadiah bagi mereka yang berhasil merebut jabatan.

Jika politik kehilangan akal sehat dan integritas, rakyat akan terus menjadi pemberi mandat sekaligus penanggung akibat. Karena itu, memperbaiki politik bukan sekadar mengganti orang yang berkuasa, melainkan memastikan bahwa setiap kekuasaan bekerja untuk kepentingan publik dan dapat dimintai pertanggungjawaban.

Sebab, ukuran keberhasilan politik bukan seberapa banyak kekuasaan yang berhasil diraih, melainkan seberapa besar manfaat yang kembali kepada rakyat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search