Apa pun telah engkau upayakan,
segala jalan yang halal telah engkau tempuh.
Namun jika takdir masih menempatkanmu dalam keterbatasan harta,
lalu apa yang seharusnya kita lakukan?
Seorang anak pernah bertanya kepada ibunya,
“Mak, mengapa kita miskin?”
Dengan suara lembut dan hati yang penuh keikhlasan, sang ibu menjawab:
“Nak, hidup ini ibarat berjalan di sebuah supermarket.
Setiap orang bebas memilih barang yang ia inginkan.
Siapa yang mengambil tiga cokelat, ia akan membayar tiga cokelat.
Siapa yang mengambil satu, ia hanya membayar satu.”
“Orang miskin, nak, sering kali tidak membawa cokelat apa pun.
Karena itulah, di pintu kasir ia tidak lama diperiksa.”
“Begitu pula kelak di akhirat.
Orang miskin akan lebih cepat hisabnya,
sementara orang kaya akan lebih lama dimintai pertanggungjawaban.”
Kelak, setiap harta akan ditanya dengan dua pertanyaan:
• Dari mana harta itu diperoleh?
• Untuk apa harta itu dibelanjakan?
Jika engkau ditakdirkan menjadi orang yang miskin harta, maka…
Bersabarlah sejenak,
karena bersama kematian, kemiskinan pun akan berakhir.
Berbaik sangkalah selalu kepada Allah,
barangkali melalui kemiskinan, jalan menuju Jannah menjadi lebih dekat.
Berpikirlah positif,
sebab tidak sedikit orang yang justru lalai saat diuji dengan kekayaan.
Jangan pernah merasa rendah diri,
karena miskin dan kaya bukan ukuran kemuliaan atau kehinaan.
Sebagaimana pengusaha harus siap untung dan rugi,
orang beriman pun harus siap diuji dengan kaya ataupun miskin.
Berbahagialah,
karena Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa mayoritas penghuni surga
adalah dari kalangan fuqara dan masakin.
Semoga bermanfaat.
