Guru kini berdiri di persimpangan antara menegakan aturan atau menyelamatkan dirinya sendiri, karena hari ini menegur bisa dianggap menekan. Mendidik bisa disangka melanggar dan disiplin bisa berubah jadi kasus.
Ada seorang murid yang melanggar aturan, bukan hal baru setiap sekolah punya kisah begitu. Namun yang mengejutkan bukan muridnya yang ditegur melainkan gurunya yang dipanggil, kepala sekolahnya yang disorot dan pejabatnya yang lebih dulu berbicara di depan kamera. Semua ingin terlihat bijak tapi lupa siapa yang seharusnya dibela, yang menegakan nilai atau yang menabraknya?
Guru itu dulu belajar mendidik dengan cinta, tapi sekarang ia harus belajar bertahan dari kecurigaan, ia harus menakar setiap kata, setiap teguran, setiap ekspresi. Takut salah sedikit viral, takut tegas sedikit dianggap kasar dan akhirnya banyak guru memilih diam. Karena diam lebih aman daripada dipermasalahkan.
Padahal apa jadinya bangsa ini tanpa ketegasan guru? Siapa yang akan menuntun jika semua takut menegur, bagaimana anak akan paham benar dan salah jika setiap nasihat disangka kekerasan.
Guru bukan musuh murid, guru adalah cermin yang kadang memantulkan kenyataan tak nyaman, kalau muridnya salah guru menegur bukan karena benci tapi karena peduli. Hari ini banyak orang marah karena anaknya ditegur tapi lupa berterima kasih karena anaknya masih ada yang peduli.
Padahal, ketika semua orang diam itulah saat pendidikan mati perlahan. Masri kita jujur bangsa yang besar tidak lahir dari generasi yang manja, tapi dari generasi yang berani ditegur, berani memperbaiki diri dan punya guru yang tidak takut menegakkan kebenaran
Kalau semua orang sibuk mencari siapa yang salah maka yang akan hilang bukan hanya wibawa guru tapi masa depan anak-anak kita sendiri. Jadi saat ada guru yang menegakkan disiplin jangan buru-buru menyalahkan. Mungkin di balik ketegasanya ada do’a yang tak terdengar, semoga anak kita kelak menjadi manusia yang tahu batas, bukan hanya pandai beralasan.
Makna dan Nuansa
Teguran sejatinya adalah bentuk kasih sayang, perhatian, atau koreksi demi kebaikan. Namun, ketika ia diterima sebagai tuduhan, ada kemungkinan:
• Niat baik tidak tersampaikan dengan bijak (cara, waktu, atau kata-kata yang kurang tepat).
• Penerima teguran merasa diserang, bukan dibimbing.
• Ada luka lama atau rasa tidak aman yang membuat teguran terasa seperti serangan pribadi.
Refleksi Etis dan Spiritual
Dalam Islam, teguran adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Tapi Rasulullah ﷺ mencontohkan bahwa teguran harus:
• Dilandasi niat tulus, bukan amarah atau ego.
• Disampaikan dengan lembut dan hikmah.
• Menjaga kehormatan dan harga diri orang yang ditegur.
Jika teguran berubah jadi tuduhan, mungkin kita perlu bertanya:
• Apakah aku menegur dengan cinta atau dengan kemarahan?
• Apakah aku memberi ruang bagi klarifikasi dan dialog?
• Apakah aku siap menerima bahwa persepsi orang bisa berbeda dari niatku?
Dalam Konteks Pendidikan dan Kepemimpinan
Sebagai seorang pendidik, pemimpin, atau orang tua:
• Teguran yang tidak disertai empati dan konteks bisa mematikan semangat.
• Tuduhan bisa membuat anak, murid, atau bawahan merasa tidak dipercaya, bahkan terasing.
Maka, perlu ada transformasi dari teguran menjadi undangan:
“Aku ingin memahami, bukan menghakimi”
Beberapa ayat Al-Qur’an menunjukkan bagaimana teguran bisa disalah pahami sebagai tuduhan, terutama ketika hati belum siap menerima kebenaran atau ketika komunikasi tidak disampaikan dengan hikmah
1. Surah Abasa (QS. ‘Abasa: 1–2)
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ
Artinya: Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
Artinya: Karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
Ayat ini adalah teguran Allah kepada Rasulullah ﷺ karena beliau sempat berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, demi melayani pembesar Quraisy. Teguran ini bukan celaan, tapi bimbingan penuh kasih. Namun, jika dibaca tanpa pemahaman, bisa disalahartikan sebagai tuduhan terhadap Nabi. Ini menunjukkan bahwa bahkan teguran ilahi pun bisa disalahpahami jika tidak disertai tafsir dan adab.
2. Surah Al-Kahfi: 60–82 (Kisah Musa dan Khidr)
Dalam kisah ini, Nabi Musa menegur tindakan Khidr yang tampak “tidak masuk akal”:
• Melubangi perahu
• Membunuh anak kecil
• Mendirikan tembok tanpa imbalan
Namun, semua tindakan itu punya hikmah tersembunyi. Teguran Musa, meski tulus, dianggap oleh Khidr sebagai bentuk ketidaksabaran. Ini menggambarkan bahwa teguran yang belum memahami konteks bisa dianggap tuduhan atau intervensi yang keliru.
3. Surah Al-Anfal: 67
مَاكَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗٓ اَسْرٰى حَتّٰى يُثْخِنَ فِى الْاَرْضِۗ
Artinya: Tidaklah (sepatutnya) bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di bumi.
Ayat ini adalah teguran atas keputusan Rasulullah ﷺ dalam Perang Badar. Teguran ini menunjukkan bahwa bahkan keputusan strategis bisa dikoreksi, dan jika tidak dipahami dengan adab, bisa dianggap tuduhan terhadap kepemimpinan beliau. (*)
