Pada suatu sore yang muram, di sebuah rumah kecil pinggir kota, Marimar duduk termenung di dekat jendela. Angin sore berembus pelan, namun hatinya terasa panas. Bukan karena cuaca, melainkan karena kata-kata yang masih terngiang di telinganya.
“Suami si Fulan baru naik jabatan, sekarang hidup mereka serba cukup.”
Kalimat sederhana itu seperti api kecil yang jatuh ke hati yang lelah. Marimar menatap dapur yang apa adanya, lemari yang hampir kosong, dan anak-anaknya yang mulai besar dengan kebutuhan yang semakin banyak. Suaminya, Ahmad, sudah berusaha sekuat tenaga. Namun rezeki masih terasa sempit.
Di situlah ujian ekonomi bertemu dengan panas hati — dan tanpa disadari, Dhasim pun mulai bekerja.
Panas Hati: Pintu Masuk Godaan Dhasim
Dalam Islam, ujian rezeki bukan hanya soal sabar atau tidak, tetapi juga soal menjaga hati dari bisikan setan rumah tangga.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ… فَأَقْرَبُهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً
“Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengutus pasukan-pasukannya… dan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat dan penjelasan para ulama, Dhasim dikenal sebagai setan yang berkaitan dengan rumah dan keluarga. Ia tidak datang dengan teriakan, tetapi dengan bisikan halus, terutama ketika:
- Perut lapar
- Dompet tipis
- Hati lelah
- Emosi tidak terkelola
Marimar tidak menyadarinya. Panas hati karena membandingkan hidupnya dengan orang lain membuat lisannya mulai mudah mengeluh, nadanya meninggi, dan pikirannya dipenuhi prasangka.
Dhasim menyukai suasana seperti itu.
Saat Ujian Ekonomi Berubah Menjadi Ujian Rumah Tangga
Allah ﷻ berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Ujian ekonomi seharusnya mendekatkan suami-istri kepada Allah. Namun panas hati membuat ujian itu naik tingkat.
Marimar mulai berkata dengan nada yang tak biasa: “Mas, hidup kita begini terus sampai kapan?”
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Ahmad yang pulang dengan badan lelah, kata-kata itu seperti beban tambahan. Di situlah Dhasim menepuk tangan kegirangan — karena tujuan utamanya bukan kemiskinan, melainkan retaknya ketenangan rumah.
Panas Hati, Hasad, dan Api yang Membesar
Panas hati yang dibiarkan akan berubah menjadi hasad — dan hasad adalah bahan bakar setan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud, hasan)
Ketika hati panas: Dzikir terasa berat, Syukur menghilang, Doa berubah menjadi keluhan,
Dan di saat itulah, Dhasim meniupkan api kecil menjadi api besar — pertengkaran, saling menyalahkan, dan dinginnya cinta.
Titik Balik: Menutup Pintu Dhasim
Suatu malam, Marimar mendengar kajian dari ponselnya. Sang ustadz berkata:
“Setan paling senang bukan ketika rumah miskin, tetapi ketika rumah kehilangan syukur dan dzikir.”
Marimar tersentak. Ia teringat firman Allah ﷻ:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ia sadar, panas hatinya telah membuka pintu bagi Dhasim. Maka malam itu, ia mulai menutupnya kembali:
- Dengan istighfar
- Dengan menahan lisan
- Dengan kembali melihat suaminya sebagai amanah, bukan beban
Ia duduk bersama Ahmad, bukan untuk menuntut, tetapi untuk saling menguatkan. Mereka berdoa bersama. Di rumah sederhana itu, Dhasim pun kehilangan tempatnya.
Hikmah Islam untuk Perempuan di Tengah Ujian
Islam memahami kelembutan emosi perempuan, namun juga mengajarkan penjagaannya.
Beberapa hikmah penting:
- Panas hati adalah alarm, bukan musuh, Ia tanda hati butuh dzikir dan doa.
- Setan masuk melalui emosi yang tidak dijaga Terutama saat lapar, lelah, dan kecewa.
- Syukur dan dzikir adalah benteng rumah tangga
- Rumah yang sering menyebut nama Allah, sempit bagi setan.
- Perempuan shalihah adalah penjaga stabilitas rumah
- Bukan karena harta, tetapi karena ketenangan hatinya.
Dari Panas Hati Menuju Rumah yang Dijaga Allah
Marimar belum kaya. Hidupnya masih sederhana. Namun rumahnya kini lebih tenang. Bukan karena rezeki tiba-tiba melimpah, tetapi karena panas hati tidak lagi dibiarkan menjadi celah setan.
Ujian ekonomi mungkin belum usai. Namun selama hati dijaga, dzikir dihidupkan, dan syukur dirawat, Dhasim tak akan betah berlama-lama.
Karena rumah tangga yang dijaga dengan iman, meski sempit di dunia, luas dalam keberkahan. (*)
