KH Subari Kenang Ahmad Sukidi: Sekali Muhammadiyah, Tetap Muhammadiyah

KH Subari Kenang Ahmad Sukidi: Sekali Muhammadiyah, Tetap Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Kepergian H. Ahmad Sukidi, SAg, M.Pd, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah. Sosok yang dikenal tekun berdakwah, kaya gagasan, dan teguh mengabdi kepada persyarikatan itu dikenang sebagai kader yang mendedikasikan hidupnya untuk dakwah hingga akhir hayat.

Kenangan tersebut disampaikan KH Subari dalam agenda takziyah virtual mengenang almarhum, Kamis (15/10/2026). Ia mengaku mengenal Ahmad Sukidi sejak masih muda, ketika almarhum menempuh pendidikan di Institut Islam Mambaul Ulum dan mulai aktif dalam kegiatan Muhammadiyah di Kota Bengawan.

Di mata KH Subari, Ahmad Sukidi bukan sekadar aktivis organisasi. Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa pengabdian tidak ditentukan oleh besar-kecilnya jabatan, melainkan oleh ketulusan menjalankan amanah dan kesungguhan memberi manfaat bagi umat.

“Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah,” demikian semangat yang menurut KH Subari begitu melekat pada diri almarhum.

Berawal dari Takmir Masjid, Tumbuh Menjadi Penggerak Dakwah

KH Subari menceritakan, perkenalannya dengan Ahmad Sukidi bermula ketika dirinya mengajar di Madrasah Mualimin Muhammadiyah. Saat itu, almarhum turut mengabdi sebagai takmir Masjid Jami di kawasan Kembangan, Sangkrah, Surakarta.

Masjid tersebut bukan masjid wakaf Muhammadiyah. Namun, kondisi itu tidak menghalangi Ahmad Sukidi untuk aktif dalam kegiatan persyarikatan, termasuk pengajian Pemuda Muhammadiyah dan berbagai aktivitas dakwah.

Bagi KH Subari, pilihan almarhum menjadi takmir masjid merupakan bentuk pengabdian yang patut dihargai. Meski tugas tersebut mungkin dipandang sederhana oleh sebagian orang, Ahmad Sukidi menjalankannya dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.

Ia bahkan mengenang bagaimana almarhum turut membina kedisiplinan para murid Madrasah Mualimin Muhammadiyah ketika melaksanakan salat Jumat di masjid tersebut.

“Beliau ikut aktif di gelanggang perjuangan Muhammadiyah sejak awal, di Pemuda Muhammadiyah Kota Bengawan,” kenang KH Subari.

Pengalaman itu, menurutnya, memperlihatkan karakter Ahmad Sukidi yang tidak memilih-milih amanah. Di mana pun mendapat tugas, ia berusaha menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

Kader yang Tak Pernah Kehabisan Gagasan

Pengabdian Ahmad Sukidi terus berkembang seiring perjalanan organisasinya. Dari aktivitas di tingkat cabang hingga dipercaya menjadi Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta, almarhum dikenal aktif menyampaikan gagasan dan usulan konstruktif.

KH Subari mengenang, dalam berbagai rapat Muhammadiyah, Ahmad Sukidi hampir selalu menyampaikan pemikiran untuk memperbaiki program dan mengembangkan kegiatan persyarikatan.

Ia bukan tipe kader yang hanya hadir dalam forum, tetapi juga berusaha memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan organisasi.

Semangat tersebut tetap terlihat ketika Ahmad Sukidi menjalankan amanah di PDM Kota Surakarta. Bahkan, menurut KH Subari, almarhum masih menunjukkan antusiasme bermuhammadiyah pada hari-hari terakhir sebelum meninggal dunia.

Kepergiannya yang mendadak membuat keluarga besar Muhammadiyah merasa kehilangan salah satu kader yang selama ini ikut menggerakkan roda dakwah.

“Betul-betul keluarga besar Muhammadiyah Kota Surakarta merasa kehilangan kader yang baik dari persyarikatan ini,” ungkapnya.

Pendidikan Tinggi, Ilmu untuk Pengabdian

Di balik kiprahnya dalam organisasi, Ahmad Sukidi juga memiliki semangat belajar yang tinggi. Berangkat dari latar belakang keluarga sederhana, ia berhasil menempuh pendidikan hingga jenjang magister atau S2.

Bagi KH Subari, perjalanan tersebut menjadi bukti ketekunan almarhum dalam meningkatkan kapasitas diri. Ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi, tetapi diabdikan untuk memperkuat dakwah Islam melalui Muhammadiyah.

Semangat belajar dan mengamalkan ilmu itu berjalan beriringan dengan aktivitas organisasi yang dijalaninya selama bertahun-tahun.

Almarhum juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan syiar, termasuk menjadi penggerak kegiatan besar Muhammadiyah dan terlibat dalam kepanitiaan Milad Muhammadiyah.

Sejumlah kegiatan, termasuk pengembangan program kesenian dan olahraga, turut menjadi bagian dari kiprah almarhum dalam memperluas jangkauan dakwah di tengah masyarakat.

Di bidang olahraga dan kebersamaan, Ahmad Sukidi juga dikenal menggerakkan GowesMu. Bahkan, menurut KH Subari, almarhum masih menunjukkan semangat tersebut dalam kegiatan yang berdekatan dengan akhir hayatnya.

Menggerakkan Dakwah hingga Solo Raya

Pengabdian Ahmad Sukidi tidak terbatas di Kota Surakarta. Saat memimpin Majelis Tabligh dan Dakwah Komunitas PDM Kota Surakarta, ia turut menggerakkan kegiatan dakwah lintas daerah di wilayah Solo Raya.

Melalui pengajian, safari dakwah, dan koordinasi antarpenggerak tabligh, almarhum berupaya memperkuat hubungan serta kolaborasi dakwah Muhammadiyah di berbagai daerah.

KH Subari juga mengenang keterlibatan Ahmad Sukidi dalam kegiatan dakwah di tingkat wilayah. Almarhum, menurutnya, pernah menjadi bagian dari Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah dan menjalankan tugas dakwah di berbagai tempat.

Jejak tersebut menunjukkan keluasan pengabdian Ahmad Sukidi. Ia tidak hanya memikirkan kegiatan di lingkup organisasi sendiri, tetapi juga ikut mendorong gerakan dakwah yang lebih luas.

Bagi KH Subari, keteladanan almarhum terletak pada kesediaannya untuk terus bergerak, melayani, dan mengambil bagian dalam berbagai kegiatan, baik berskala besar maupun sederhana.

Warisan Keteladanan bagi Generasi Muda

Dalam takziyah virtual tersebut, KH Subari mengajak keluarga dan seluruh kader Muhammadiyah untuk mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Ahmad Sukidi.

Ia berharap semangat almarhum dalam menuntut ilmu, mengamalkan pengetahuan, dan mendakwahkan agama melalui persyarikatan dapat diteruskan oleh generasi muda Muhammadiyah.

Menurutnya, kehilangan seorang kader tidak seharusnya membuat perjuangan berhenti. Sebaliknya, nilai-nilai baik yang telah diwariskan harus menjadi energi untuk melanjutkan pengabdian.

Ia juga menyampaikan doa agar Allah SWT mengampuni dosa-dosa almarhum, melimpahkan rahmat, serta menempatkannya di surga-Nya.

Bagi KH Subari, Ahmad Sukidi telah meninggalkan jejak pengabdian yang layak dikenang: berangkat dari amanah sederhana sebagai takmir masjid, tumbuh menjadi penggerak dakwah, hingga dipercaya memimpin majelis di tingkat daerah.

Kini, tugas keluarga besar Muhammadiyah adalah menjaga semangat itu tetap hidup. Sebab, sebagaimana ditunjukkan Ahmad Sukidi semasa hidupnya, dakwah bukan sekadar kata-kata, melainkan kesediaan untuk terus hadir, bekerja, dan mengabdi bagi umat hingga akhir hayat. (sugiharko)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search