Sekira tahun 1991, saat saya masih menyelesaikan kuliah di FISIP Unair, sekaligus “nyantri” pada KH Hamim Tohari Djazuli, KH Miftachul Ahyar, KHM. Basori Alwi Murtadho, KH Abdullah Wasian, dan beberapa kiai lainnya di Masjid Kemayoran Surabaya, tiba-tiba diajak diskusi panjang lebar oleh seorang kiai kharismatik. Diskusi tentang politik, Pak Harto, orde baru dan lain-lain. Kiai kharismatik itu adalah KH. Syukron Makmun.
***
Matahari Ahad, 18 Oktober 2026, terasa sedikit redup bagi umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdliyin dan keluarga besar Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa. Berita duka itu menjalar cepat dari ruang perawatan Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta: Ya…, Pengasuh Ponpes Daarul Rahman, Prof. Dr. KH. Syukron Makmun, telah berpulang ke Rahmatullah.
Di usianya yang menginjak 84 tahun, ulama kharismatik asal Sampang, Madura, ini meninggalkan riak kesedihan mendalam. Publik mengenal almarhum dengan julukan mentereng: “Singa Podium”.
Namun, di balik gelombang suaranya yang menggelegar dan kepiawaian orasinya yang membakar semangat, Kiai Syukron adalah sosok pengasuh pesantren yang mengalirkan kehangatan, tempat berteduh bagi ribuan santri dari penjuru Nusantara.
Lahir pada 21 Desember 1941 di Sampang, darah keulamaan Syukron muda mengalir deras dari lingkungan keluarga yang religius. Ayah, ibu, dan kakeknya adalah para kiai dan guru ngaji yang menempa karakter serta spiritualitasnya sejak kecil. Lingkungan santri yang bersahaja itu menanamkan keteguhan yang tak tergoyahkan.
Dahaga ilmu membawanya mengembara ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, hingga lulus pada tahun 1967. Jiwa dakwahnya telah menyala sejak usia sangat muda. Bahkan sebelum genap berusia 30 tahun, syiar dakwahnya sudah menggema menembus pelosok Jawa Timur, mulai dari Madiun, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, hingga Magetan.
Suaranya yang tegas, artikulatif, dan sarat makna membuat ruang-ruang publik terpukau. Julukan “Singa Podium” pun melekat erat sepanjang perjalanan hidupnya.
Namun, pengembaraan spiritual Kiai Syukron tak berhenti di situ. Saat berpindah ke Jakarta, ia menundukkan kepala dan merendahkan hati untuk terus menimba ilmu kepada para ulama penyebar Islam di tanah Betawi. Beliau berguru langsung kepada ulama ternama seperti Habib Ali bin Husein di Bungur serta Habib Abdurrahman Al-Habsyi. Dari sintesis tradisi pesantren Jawa, kealiman Madura, dan kearifan habaib Betawi itulah, gaya dakwah Kiai Syukron makin matang dan menyejukkan.
Oase di Ibu Kota dan Pelosok ASEAN
Di tengah deru kehidupan Jakarta yang serba cepat, Kiai Syukron mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman. Tempat ini bukan sekadar lembaga pendidikan formal, melainkan oase tempat menyemaikan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Beliau mengasuh santri-santrinya seperti anak sendiri—mendidik dengan ketegasan, namun memeluk dengan kasih sayang.
Tidak hanya mengajar di pesantren dan perguruan tinggi, Kiai Syukron rutin mengisi berbagai majelis taklim dari sudut-sudut gang ibu kota hingga gelanggang publik. Jangkauan operasinya mengarungi pelosok Nusantara, dari Sumatra, Kalimantan, hingga Maluku. Bahkan, syiar Islam rahmatan lil ‘alamin yang dibawakannya melampaui batas negara, merambah ke kawasan ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Di panggung sosial-politik, Kiai Syukron pernah menorehkan jejak sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI) serta menjadi tokoh sepuh yang selalu dijadikan rujukan dan tempat bertanya bagi Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Kendati terjun ke ranah kebangsaan dan politik, komitmen utamanya tetap satu: mendidik umat dan menjaga moral bangsa.
Jejak Abadi sang Gurunda
Kini, gemuruh suara di mimbar itu telah hening. Jenazah almarhum disalatkan bakda zuhur di hadapan ribuan pelayat yang memadati kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, tempat di mana beliau akhirnya diistirahatkan secara abadi. Isak tangis dan bait-bait doa bergelombang mengiringi kepergian sang kiai sepuh.
Kiai Syukron telah pergi, namun warisannya tak pernah padam. Ribuan alumni Daarul Rahman yang kini tersebar di pelosok negeri adalah bukti nyata dari dedikasi tanpa henti seorang ulama yang mengabdi hingga hembusan napas terakhir.
Selamat jalan, Kiai. Nyala dakwah dan keteguhanmu akan terus membimbing langkah kami. al-Fatihah. (*)
