Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) zona Malang Raya yang diselengarakan Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur memasuki hari kedua pada Sabtu (31/10/2026) di Apple Sun Learning Center, Kota Batu. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya memahami kondisi sosial masyarakat melalui materi bertajuk Analisis Sosial-Politik Masyarakat bagi Mubaligh Muhammadiyah.
Materi disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Moh. Khoirul Abduh, M.Si. Dalam paparannya, ia menegaskan, dakwah Muhammadiyah harus berangkat dari pemahaman terhadap kondisi nyata masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.
“Dakwah yang tidak membaca kenyataan sosial jamaahnya akan berbicara kepada masyarakat yang kosong,” tegas Khoirul Abduh.

Ia menjelaskan, karakteristik jamaah saat ini semakin beragam, mulai dari petani, buruh, pekerja informal, profesional perkotaan, generasi Z yang akrab dengan dunia digital, hingga kelompok marginal yang memiliki keterbatasan akses terhadap masjid. Keberagaman tersebut menuntut mubaligh untuk mengembangkan pendekatan dakwah yang kontekstual dan tidak terpaku pada pola ceramah yang seragam.
Menurutnya, analisis sosial menjadi instrumen penting untuk menjawab tiga pertanyaan mendasar dalam berdakwah, yakni siapa jamaah yang dihadapi, apa persoalan nyata yang mereka alami, serta pendekatan dakwah seperti apa yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Untuk menerapkannya, peserta diperkenalkan pada empat tahapan analisis sosial. Tahapan tersebut meliputi pelibatan langsung dengan masyarakat (insersi), analisis sosial untuk menelusuri akar persoalan, refleksi keislaman, serta penyusunan perencanaan dan aksi bersama jamaah.
Selain itu, para peserta dibekali lima perangkat analisis praktis, yaitu pohon masalah, peta aktor, kalender musim, dan pemetaan aset. Berbagai perangkat tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan membedah persoalan kontemporer, seperti judi daring, disrupsi digital, krisis keluarga, hingga kesenjangan ekonomi.
Pendekatan tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah gerakan Muhammadiyah, khususnya implementasi Teologi Al-Ma’un yang dikembangkan KH Ahmad Dahlan. Melalui pemahaman terhadap realitas kemiskinan dan persoalan sosial umat, gerakan tersebut melahirkan berbagai amal usaha Muhammadiyah sebagai bentuk nyata kepedulian dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui pembekalan ini, para mubaligh diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan menyampaikan dalil dan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga kepekaan dalam memahami persoalan sosial di tengah masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, melainkan mampu menghadirkan solusi, membebaskan masyarakat dari berbagai persoalan, serta mendorong pemberdayaan umat.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang menjadi landasan gerakan Muhammadiyah, yakni menghadirkan dakwah yang mencerahkan, berkemajuan, dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.(Salmanudin Hafizh – peserta AMM Malang Raya)
