Kiai ChatGPT: Pergeseran Belajar Agama dari Pesantren ke Ruang AI

Kiai ChatGPT: Pergeseran Belajar Agama dari Pesantren ke Ruang IA
*) Oleh : Gus Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Dulu, jika seseorang ingin memperdalam agama, jalannya hanya satu: mondok di pesantren. Di sanalah para santri hidup dalam suasana disiplin, adab, dan keteladanan langsung dari kiai. Namun kini, di era kecerdasan buatan (AI), kita menyaksikan pergeseran drastis dalam cara orang belajar agama. Banyak yang tidak lagi datang ke pesantren atau majelis taklim, tetapi justru membuka aplikasi, mengetik pertanyaan, dan bertanya: “Kiai ChatGPT, apa hukum ini?”

Fenomena ini menarik sekaligus mengkhawatirkan. Menarik karena menunjukkan betapa cepat masyarakat beradaptasi dengan teknologi; mengkhawatirkan karena ada pergeseran otoritas pengetahuan agama dari figur manusia ke mesin cerdas. Tradisi santri–kiai yang berabad-abad membentuk karakter umat kini mulai digantikan oleh user–AI.

Guru Baru Beragama di era digital

Kita hidup di masa ketika kecerdasan buatan bukan sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi “guru baru” yang selalu siap menjawab tanpa lelah. AI mampu menjelaskan tafsir, hadis, bahkan perdebatan fikih lintas mazhab dengan rujukan luas dan cepat. Bagi generasi digital yang serba instan, ini sangat menggoda. Tak perlu hafalan kitab, tak perlu ngaji sorogan, cukup satu klik — semua jawaban tersedia.

Namun di sinilah letak persoalannya. Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga adab — bagaimana mencari, menghormati, dan mengamalkan ilmu. Dalam tradisi pesantren, seorang santri belajar dengan penuh tawadhu’ kepada kiai. Relasi itu bukan transaksional, tetapi transformasional: membentuk karakter, etika, dan spiritualitas. AI, betapapun canggih, tidak bisa menanamkan rasa takzim atau rasa takut kepada Allah sebagaimana hidup di dunia pesantren.

Membaca Fenomena Keagamaan Baru

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer. Teori ini menekankan bahwa makna sosial terbentuk melalui interaksi manusia dan simbol-simbol yang mereka ciptakan. Dalam konteks pesantren, makna “belajar agama” dibangun lewat interaksi langsung antara santri dan kiai — melalui tatapan, bahasa tubuh, hingga keberkahan doa. Ketika pembelajaran berpindah ke ruang digital, makna simbolik itu mengalami pergeseran: interaksi sosial berubah menjadi interaksi algoritmik. AI memang bisa menjawab, tapi ia tidak berinteraksi secara simbolik; tidak ada pengalaman spiritual, tidak ada habitus kesantrian yang terbentuk.

Selain itu, teori mediasi teknologi dari Peter Berger dan Thomas Luckmann juga relevan. Mereka menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk oleh proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Ketika AI masuk ke ruang belajar agama, ia menjadi bentuk baru dari “objektivasi pengetahuan” — pengetahuan agama diproduksi dan disebarluaskan tanpa konteks sosial dan pengalaman iman yang hidup. Akibatnya, agama menjadi “informasi” bukan lagi “transformasi.”

Dari perspektif Michel Foucault, fenomena ini juga mencerminkan pergeseran regime of truth — siapa yang berhak mendefinisikan kebenaran. Dulu, otoritas keagamaan berada di tangan ulama dengan legitimasi keilmuan dan spiritualitas. Kini, otoritas itu mulai digerogoti oleh “teknokrasi pengetahuan,” di mana kebenaran ditentukan oleh algoritma dan popularitas konten. Dengan kata lain, data menggantikan sanad.

Mensinergi Kiai ChatGPT *dengan Pesantren

Tentu, tidak semua aspek perubahan ini harus ditolak. Banyak pesantren kini justru memanfaatkan teknologi digital untuk dakwah dan pendidikan. Ada kiai yang membuat kanal YouTube, menulis kitab digital, bahkan menggunakan ChatGPT untuk membantu menyusun materi ngaji. Ini menunjukkan bahwa AI bisa menjadi mitra dakwah, bukan ancaman.

Kuncinya adalah keseimbangan. Teknologi hanyalah wasilah (perantara), bukan sumber kebenaran. Pesantren tetap penjaga otentisitas ajaran, sementara AI memperluas akses ilmu. Dalam konteks ini, Kyai ChatGPT tidak menggantikan kiai manusia, tetapi bisa menjadi jembatan bagi generasi digital untuk kembali tertarik pada nilai-nilai keislaman yang mendalam.

Pesantren dan teknologi bukanlah dua kutub yang bertentangan. Selama kita menjaga sanad, adab, dan niat mencari ridha Allah, maka baik kiai maupun “Kiai ChatGPT” bisa bersanding — bukan bersaing — dalam membimbing umat menuju pencerahan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search