Kisah Guru yang Menutup Matanya. Ini Akibatnya?

Kisah Guru yang Menutup Matanya. Ini Akibatnya?
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Kepala SMA Muhammadiyah I Sumenep 2013-2020
www.majelistabligh.id -

Pada suatu hari, sekelompok anak muda menghadiri sebuah resepsi pernikahan. Di antara mereka, salah seorang mengenali sosok guru sekolah dasar yang pernah mengajarnya. Dengan penuh takzim dan haru, ia menghampiri sang guru dan berkata, “Pak Guru, Bapak masih ingat saya, kan?”

Sang guru menatap sejenak, lalu menjawab dengan lembut, “Maaf, saya tidak ingat.”

Anak muda itu terdiam sejenak, lalu mulai menceritakan sebuah kisah yang begitu membekas dalam hidupnya. “Saya adalah murid yang dulu mencuri jam tangan milik teman saya di kelas. Saat itu, ketika teman saya menangis karena kehilangan jamnya, Bapak meminta semua murid berdiri untuk dilakukan penggeledahan saku satu per satu.”

“Saya sangat takut. Saya yakin akan dipermalukan di depan teman-teman. Saya bayangkan mereka akan mencemooh saya seumur hidup, menyebut saya pencuri. Harga diri saya seakan hancur.”

“Tapi saat itu, Bapak menyuruh kami semua berdiri menghadap tembok dan menutup mata. Bapak lalu menggeledah saku kami satu per satu. Ketika tiba giliran saya, Bapak menemukan jam tangan itu di saku saya, tapi Bapak terus menggeledah semua murid hingga selesai.”

“Setelah itu, kami disuruh kembali duduk. Lalu Bapak mengangkat jam tangan itu dan menyerahkannya kepada pemiliknya, tanpa menyebut siapa pelakunya. Tidak satu pun dari murid atau guru yang tahu siapa pencurinya. Dan Bapak pun tidak pernah menyebutnya, bahkan sampai saya lulus. Peristiwa itu tidak pernah saya lupakan. Justru dari situlah saya belajar tentang harga diri, belas kasih, dan pendidikan sejati.”

“Sejak saat itu, saya bertekad untuk berubah. Saya ingin seperti Bapak, menjadi manusia yang berakhlak dan penuh kasih. Kini saya telah menjadi orang sukses, dan semua itu karena Bapak.”

“Pak, bagaimana mungkin Bapak tidak mengingat saya?”

Sang guru tersenyum, lalu berkata pelan, “Nak, aku memang tidak mengingatmu, karena saat menggeledah saku-saku kalian, aku pun menutup mataku. Karena aku tidak ingin tahu siapa yang bersalah, karena aku ingin tetap mencintai semua muridku tanpa prasangka.”

Kisah ini adalah cermin dari ajaran Islam yang luhur tentang mendidik dengan cinta dan menjaga martabat manusia. Dalam Islam, menjaga kehormatan seseorang adalah bagian dari akhlak mulia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

Sang guru dalam kisah ini telah meneladani sifat kasih sayang Allah, yaitu menutupi kesalahan, memberi ruang bagi taubat, dan membimbing tanpa menjatuhkan. Ia memahami bahwa anak yang berbuat salah bukan untuk dicaci, tetapi untuk dibimbing dan diperbaiki.

Terkadang, menutup mata dari kesalahan orang lain bukan karena membiarkan, tetapi karena cinta dan harapan akan perubahan. Bisa jadi, akan jauh lebih mendidik daripada mempermalukan. Sungguh, keberhasilan pendidikan sejati bukan terletak pada hafalnya pelajaran, tetapi pada tumbuhnya kesadaran, akhlak, dan perubahan.

Guru ini menanam kebaikan dalam diam, membimbing dalam kasih, dan menutup mata dari aib, agar orang lain bisa membuka lembaran baru dalam hidupnya. Rahmat Allah turun kepada mereka yang menanam kebaikan secara sembunyi, dan memberi ruang kepada orang lain untuk bertobat tanpa merasa hina. Wallahu a’lamu.

Tinggalkan Balasan

Search