Kita mengira sedang berjalan menuju masa depan. Pada kenyataanya kita semua berjalan menuju kematian.
1. Ilusi Masa Depan vs Kepastian Kematian
Masa depan sering kita bayangkan sebagai ruang harapan, pencapaian, dan pertumbuhan. Kita menanam rencana, ambisi, dan mimpi di sana. Namun, kematian adalah satu-satunya masa depan yang pasti. Ia bukan akhir dari waktu, tapi akhir dari kesempatan. Ia bukan musuh, tapi pengingat.
QS. Ali Imran: 185
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.
2. Waktu: Jalan Menuju Pertemuan
Kita tidak sedang “menuju masa depan” dalam arti duniawi semata. Kita sedang menuju pertemuan dengan Allah. Setiap detik bukan hanya penambahan usia, tapi pengurangan jatah hidup. Kita bukan sedang “menyongsong”, tapi “mengantar diri”.
3. Maka untuk Apa Kita Hidup?
Jika hidup bukan untuk menumpuk masa depan dunia, maka:
* Hidup adalah ladang amal. Dunia bukan tujuan, tapi tempat menanam.
* Hidup adalah ujian. Bukan tentang seberapa lama, tapi seberapa bermakna.
* Hidup adalah perjalanan pulang. Kematian bukan akhir, tapi gerbang menuju kampung halaman sejati.
Pertanyaan “Maka untuk apa kita hidup?” adalah pertanyaan mendasar yang telah dijawab secara indah dan mendalam dalam Al-Qur’an. Berikut beberapa ayat yang menjelaskan tujuan hidup manusia menurut pandangan Islam:
1. Untuk Beribadah kepada Allah
Surah Adz-Dzariyat (51): 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Ayat ini menegaskan bahwa inti dari penciptaan manusia adalah ibadah—bukan sekadar ritual, tapi seluruh aspek hidup yang diarahkan untuk mendekat kepada Allah.
2. Untuk Menjadi Khalifah di Bumi
Surah Al-Baqarah (2): 30
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
13) Dalam Al-Qur’an, kata khalīfah memiliki makna ‘pengganti’, ‘pemimpin’, ‘penguasa’, atau ‘pengelola alam semesta’.
Manusia diberi amanah sebagai khalifah, yaitu pemimpin dan penjaga bumi. Ini mencakup tanggung jawab sosial, ekologis, dan moral.
3. Untuk Diuji dalam Amal dan Pilihan
Surah Al-Mulk (67): 2
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
Artinya: Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
Hidup adalah ujian. Bukan tentang siapa yang paling banyak amalnya, tapi siapa yang paling baik amalnya—dalam niat, cara, dan dampaknya.
4. Untuk Menanam Bekal Kehidupan Akhirat
Surah Al-Hadid (57): 20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.
Dunia adalah ladang amal. Hidup bukan tujuan akhir, tapi jalan menuju kehidupan abadi.
5. Untuk Mengenal dan Mendekat kepada Allah
Surah Al-‘Araf (7): 172
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini,”
Sejak awal, manusia telah bersaksi tentang Rabb-nya. Hidup adalah perjalanan mengenal, mencintai, dan kembali kepada-Nya.
5. Maka Apa yang Perlu Kita Lakukan?
* Tajdid niat: Hidup bukan untuk mengejar dunia, tapi untuk menunaikan amanah.
* Tajdid amal: Setiap langkah adalah peluang menanam kebaikan.
* Tajdid makna: Masa depan sejati adalah yaumul akhir, bukan sekadar tahun depan.
