Suasana di Aula Mas Mansyur, Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, pada Rabu (29/7/2026) siang, terasa berbeda dari agenda resmi pada umumnya. Atmosfer di ruangan itu tidak kaku, melainkan riuh rendah antusiasme yang hangat.
Hari itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, hadir dalam acara Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur yang bertajuk “Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua: Mewujudkan Sumber Daya Unggul Berkemajuan”. Namun, agenda formal seolah sejenak tersisih oleh sesuatu yang lebih manusiawi: kerinduan dan kebanggaan para guru pada Pak Menteri.
Rencana perjalanan singkat Pak Menteri dari podium utama menuju pintu keluar, ternyata harus memakan waktu lebih lama dari yang dijadwalkan. Langkah Pak Menteri—sapaan akrab yang kerap melekat pada Abdul Mu’ti— “tersendat”. Bukan karena hambatan teknis atau protokol yang rumit, melainkan karena deretan tangan yang terulur dan ponsel yang siap merekam momen.
Hampir seluruh undangan, mulai dari guru PAUD yang ceria, hingga para pendidik SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah, antre dengan sabar. Misi mereka satu: berfoto bersama.

Di tengah situasi yang secara fisik bisa saja menguras tenaga, wajah Abdul Mu’ti justru terus merekah dengan senyum sumringah. Ia dengan sabar menghentikan langkahnya, menyesuaikan posisi, menatap kamera, dan memastikan setiap guru mendapatkan bidikan foto terbaik. Ia tidak terburu-buru. Baginya, setiap detik yang dihabiskan bersama para pendidik ini adalah investasi kebersamaan.
Bagi para guru di garis depan pendidikan, berfoto dengan sosok yang juga merupakan tokoh sentral Muhammadiyah tersebut bukan sekadar dokumentasi untuk media sosial. Itu adalah sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Bukti nyata bahwa sosok yang mereka kagumi, yang juga memahami betul denyut nadi pendidikan Muhammadiyah, hadir di tengah mereka.
Momen ini pun melahirkan adegan-adegan yang begitu menyentuh. Tak jarang, tepat setelah bunyi shutter kamera terdengar, sorak kegirangan dan tepuk tangan kecil langsung pecah dari para guru. Wajah-wajah yang sebelumnya tegang karena antrean, seketika berubah menjadi cerah, menciptakan riuh rendah kebahagiaan yang menghangatkan suasana usai acara formal.
Di balik hangatnya interaksi tersebut, terselip pesan mendalam tentang esensi acara hari itu. Tema “Transformasi Pendidikan Bermutu untuk Semua” bukan sekadar slogan di videotron. Sebab Abdul Mu’ti menekankan bahwa transformasi pendidikan tidak akan pernah berhasil tanpa peran sentral guru.
Konsolidasi Pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur kali ini mungkin akan dikenang bukan hanya dari rumusan strategis yang dihasilkan, tetapi dari momen-momen kecil yang sangat manusiawi.
Sorak gembira pasca-foto, jabat tangan yang erat, dan senyum tulus seorang menteri di tengah kepungan gurunya sendiri, menjadi bukti nyata bahwa di balik jabatan tinggi, tetap ada ikatan batin yang kuat dan tak terputus antara seorang pemimpin dengan para pahlawan tanpa tanda jasa di lingkungan Muhammadiyah. (*)
