Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) menyelenggarakan Pelatihan dan Sertifikasi Amil BNSP Lazismu 2026 di Hotel Candi Indah, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Senin–Kamis, 2–5 November 2026. Diikuti 121 peserta dari delegasi Lazismu Wilayah dan Lazismu Daerah di berbagai wilayah Indonesia, kegiatan ini mengusung tema “Amil Kompeten, Lembaga Unggul, Zakat Berdampak”.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan mengatakan, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan untuk mempererat silaturahim dan memperkuat koordinasi antar-Lazismu. Selain meningkatkan kompetensi, pertemuan lintas wilayah membuka kesempatan bagi amil untuk membangun jejaring dan saling berbagi pengalaman.
Ia menyampaikan apresiasi kepada peserta dan seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan pelatihan ini. Dwi menekankan bahwa dukungan bersama menjadi bagian penting bagi kelancaran Sekolah Amil yang menghadirkan 121 peserta itu.
“Sekolah amil ini menjadi bagian dari rangkaian Muhammadiyah Zakat Summit (MZS). Melalui tiga hari pelatihan dan satu hari asesmen kompetensi, peserta mendapatkan penguatan pengetahuan serta keterampilan untuk mengelola dana umat secara profesional dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dodok Sartono, dalam arahannya menekankan pentingnya memadukan pengamalan Surah Al-Ma’un dengan manajemen modern. Dodok menjelaskan, Muhammadiyah memiliki sistem organisasi serta rumusan paham agama yang menjadi tuntunan dalam menjalankan gerakan.
Dodok menuturkan, Lazismu merupakan bagian dari pelembagaan gerakan berkemajuan tersebut.
“Pengelolaannya perlu bertumpu pada tiga unsur yang saling menguatkan, yakni gerakan ilmu, gerakan amal, dan gerakan dakwah,” tandasnya.
Pada aspek gerakan ilmu, Ia menambahkan, aktivitas pemasaran, penghimpunan, penyusunan program, hingga pendistribusian perlu dilaksanakan berdasarkan pengetahuan dan riset. Pendekatan ini diharapkan membantu amil merancang program yang terarah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dodok juga menekankan pentingnya Lazismu menjadi lembaga yang maju, profesional, dan modern. Nilai-nilai penting itu, diharapkan turut memperkokoh tiga pilar Muhammadiyah, yaitu jamaah, jam’iyyah, dan jariyah.
Selaras dengan hal itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais mengungkapkan bahwa amil adalah profesi yang tercatat dalam al-Qur’an. Melalui pelatihan dan sertifikasi ini kita perlu sumber daya yang mumpuni.
Mujadid Rais mengungkapkan, dalam laporan setengah tahun kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, amil Lazismu masih harus terus didorong untuk melakukan sertifikasi.
“Dari data amil secara nasional sudah ada 147 amil yang tersertifikasi. Di Lazismu pusat sudah ada 49 amil dan hari ini jumlahnya bertambah lagi menjadi 121 orang,” ujarnya.
Artinya, sambung Mujadid Rais, dengan kompetensi amil yang terstandarisasi kita bisa lebih menggelorakan gerakan zakat di Indonesia. Sehingga amil mampu membaca data dan informasi sebagai energi untuk menyusun strategi.
“Saya kira data itu penting dalam mengemas program penghimpunan dan pendistribusian. Sebagai amil yang memiliki kapasitas, maka amil yang donatur percaya bisa meyakinkan dan bisa melaporkan secara transparans”, tuturnya.
Dalam pelatihan dan sertifikasi amil tersebut, peserta mendapat pembekalan dengan materi fikih zakat menurut tarjih, studi kritis fikih zakat, sosialisasi zakat eksekutif, serta pengelolaan hubungan persuasif dengan donatur.
Peserta juga mendapatkan materi penyusunan dan monitoring program berdampak, laporan keuangan berdasarkan PSAK 409, serta pengelolaan sumber daya manusia dan manajerial lembaga. Sertifikasi mencakup dua klaster kompetensi, yakni Klaster Pelaksanaan Pengumpulan Zakat serta Klaster Pelaksanaan Pendistribusian dan Pendayagunaan Zakat.
Proses asesmen dirancang melalui verifikasi portofolio, wawancara kompetensi, observasi demonstrasi, studi kasus, uji tulis, serta klarifikasi bukti kompetensi. Kegiatan ini juga berada di bawah tanggung jawab Badan Pengurus Lazismu Pusat dengan Lazismu Jawa Tengah sebagai pelaksana dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah sebagai mitra sertifikasi. (soleh)
