Lidah tentu bukan senjata tajam secara fisik. Namun, dalam ungkapan ini, lidah diibaratkan seperti pedang karena ucapan yang keluar darinya bisa menyakiti, menghancurkan, atau memicu konflik. Ini adalah peringatan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar—baik untuk membangun maupun untuk menghancurkan.
Dimensi Psikologis dan Sosial
* Kata-kata bisa melukai lebih dalam daripada luka fisik. Luka karena hinaan, fitnah, atau ucapan kasar bisa membekas bertahun-tahun.
* Lidah tajam sering dikaitkan dengan:
– Kritik yang menyakitkan
– Sarkasme atau sindiran tajam
– Fitnah atau gosip
– Ucapan yang merendahkan atau mempermalukan
Perspektif Spiritual dan Etika:
Dalam Islam dan banyak tradisi spiritual lainnya, menjaga lisan adalah bagian penting dari akhlak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
* Al-Qur’an juga memperingatkan tentang bahaya ghibah, fitnah, dan ucapan yang menyakitkan: (QS. Al-Baqarah: 263)
۞ قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ
Artinya: Perkataan yang baik dan pemberian maaf itu lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun.
Pedang Bisa Melindungi atau Menyakiti:
Menariknya, pedang tidak selalu negatif. Ia bisa digunakan untuk:
* Melindungi kebenaran
* Membela yang lemah
* Menegakkan keadilan
Begitu pula lidah:
* Bisa menjadi alat dakwah, nasihat, dan penyembuh luka
* Bisa menguatkan jiwa, memberi harapan, dan menebar kebaikan
Refleksi Diri: Apakah Lidahku Menjadi Pedang yang Berguna atau Berbahaya?
Beberapa pertanyaan reflektif:
* Apakah kata-kataku membangun atau meruntuhkan?
* Apakah aku menggunakan lidahku untuk menyebar kebaikan atau menyulut api konflik?
* Apakah aku sadar bahwa satu kalimat bisa mengubah hidup seseorang ke arah baik atau buruk?
Lidah sebagai pedang yang tergantung di antara dua bibir.
Jika digunakan dengan bijak, ia menjadi senjata cahaya yang membela kebenaran.
Jika digunakan sembarangan, ia menjadi pedang gelap yang menebas hati dan merusak jiwa.
Tidak ada ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit menyebut “lidah setajam pedang”, namun banyak ayat yang menegaskan bahwa ucapan bisa membawa kebaikan besar atau kehancuran dahsyat. Metafora ini sangat selaras dengan pesan-pesan Qur’ani tentang menjaga lisan.
Berikut penjelasan mendalam dan ayat-ayat yang relevan:
Makna Metaforis: Lidah Setajam Pedang
Ungkapan ini menggambarkan bahwa ucapan bisa melukai lebih dalam daripada senjata fisik. Dalam konteks Qur’ani, lidah yang tidak dijaga bisa menjadi sumber:
* Dosa besar: seperti ghibah, fitnah, dan kebohongan
1. Surat Al-Hujurat ayat 12
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
2. Surat Al-Baqarah ayat 191
وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقٰتِلُوْهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِۚ فَاِنْ قٰتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْۗ كَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.
3. Surat An-Nur ayat 11
اِنَّ الَّذِيْنَ جَاۤءُوْ بِالْاِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنْكُمْۗ لَا تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَّكُمْۗ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۗ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْاِثْمِۚ وَالَّذِيْ تَوَلّٰى كِبْرَهٗ مِنْهُمْ لَهٗ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.515)
515) Berita bohong ini mengenai ‘Aisyah r.a., Ummul Mukminin, setelah perang dengan Bani Muṣṭaliq pada bulan Syakban 5 H. Perang itu diikuti kaum munafik dan turut pula ‘Aisyah r.a. dengan Nabi saw berdasarkan undian yang diadakan di antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan kembali, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah r.a. keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pun mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah r.a. masih ada dalam sekedup.
Setelah ‘Aisyah r.a. mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan berharap sekedup itu akan kembali menjemputnya. Secara kebetulan, seorang sahabat Nabi bernama Ṣafwan bin Mu‘aṭṭal lewat di tempat itu dan menemukan seseorang yang sedang tidur sendirian. Ṣafwan terkejut seraya mengucapkan, “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn, istri Rasul!” ‘Aisyah r.a. terbangun. Lalu, Ṣafwan mempersilakan oleh ‘Aisyah menaiki untanya. Ṣafwan berjalan menuntun unta sampai Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian, kaum munafik membesar-besarkannya. Maka, fitnah atas ‘Aisyah r.a. itu pun bertambah luas sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan kaum muslim.
* Kehancuran sosial: memecah belah, menebar kebencian
* Kehilangan pahala: meski amal banyak, bisa gugur karena lisan yang buruk.
