Hidup ini hanya sekali. Kehidupan merupakan proses panjang perjalanan manusia dari titik awal—lahir, hingga titik akhir—mati. Dalam pandangan filosofis, hidup adalah perjalanan penuh makna, pembelajaran, dan pengembangan diri. Setiap fase, entah itu suka maupun duka, adalah bagian dari proses pembentukan pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana.
Siapa yang bijak, akan mampu mengolah hidup menjadi amal kebaikan. Sebaliknya, siapa yang lalai, akan kehilangan kesempatan (waktu) yang tak mungkin terulang. Seperti pepatah Arab yang mengingatkan, “Waktu adalah nafas yang tidak mungkin akan kembali.” Maka dari sinilah kita diajak untuk merenung: Bagaimana seharusnya kita menggunakan setiap detik yang Allah karuniakan?
Huruf “C”: Pilihan di Antara Lahir dan Mati
Ada pelajaran menarik dari urutan huruf dalam alfabet. Hidup dimulai dari huruf “B” yang berarti Birth (lahir), dan berakhir di huruf “D” yaitu Death (kematian). Tapi di antara dua huruf itu, ada satu huruf penting: “C” yang berarti Choice (pilihan).
“Hidup selalu menawarkan pilihan.”
Menariknya, huruf “B”, “C”, dan “D” semuanya adalah konsonan—huruf mati. Tak satu pun di antaranya merupakan vokal atau huruf hidup. Ini seolah menjadi pengingat bahwa hidup kita di dunia ini sejatinya berjalan di antara tiga titik penting: lahir, pilihan, dan mati. Semuanya “mati”, kecuali bila diberi ruh dan makna.
“Luar biasa…, Tuhan yang Maha Kuasa memberi pesan kepada kita, hamba-Nya yang fana dan penuh kealfaan ini.”
Bahkan dalam susunan abjad, yang menjadi dasar komunikasi manusia, Allah selipkan pesan dalam bentuk simbol dan makna tersembunyi. Bila direnungkan, setiap huruf adalah potongan dari pelajaran besar tentang kehidupan.
“Hidup itu singkat…? Iya, siapa juga bilang lama… Malahan benar-benar sangat singkat.”
Ungkapan bijak mengingatkan kita:
“Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”
Pilihan (huruf “C”) menjadi jembatan yang menghubungkan antara awal kehidupan (Birth) menuju akhir kehidupan (Death). Dalam masa itu, manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Baik atau buruk, semua kembali pada keputusan masing-masing.
“Jadi sesungguhnya bukan urusan masuk neraka atau surga yang perlu diurus dan dibahas, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana Allah SWT memberikan kebebasan kepada ‘abdi-Nya untuk memilih jalannya sendiri.”
Kita hanya bisa memohon dalam setiap salat:
“…berikan kami jalan yang lurus (ihdinas-siratal mustaqim).”
Karena lagi-lagi, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku (lakum dinukum waliyadin).”
Kita harus istikamah dalam setiap pilihan, sebab pilihan itulah yang akan menentukan akhir.
Huruf “B” – Birth: Awal dari Segalanya
Kelahiran adalah awal dari semua perjalanan. Saat ruh ditiupkan ke dalam jasad, maka dimulailah tanggung jawab kita sebagai manusia di muka bumi. Islam sebagai agama samawi telah memberikan petunjuk dan panduan bagaimana menjalani hidup yang benar menuju akhir yang baik.
Dalam skenario normal kehidupan: seseorang lahir, tumbuh dalam keluarga, lalu menikah, memiliki anak dan cucu, hingga akhirnya meninggal dunia. Namun tidak sedikit pula yang lahir lalu mati, atau hanya hidup sebentar, kemudian kembali kepada-Nya.
“Ruh yang telah ditiupkan ke badan kita akan mengisi relung perjalanan hidup yang ‘nampak’ abadi secara duniawi.”
Huruf “D” – Death: Akhir yang Tak Bisa Dihindari
Kematian adalah kepastian, satu-satunya hal yang tak bisa ditawar. Para bijak mengatakan:
“Antara kehidupan dan kematian itu hanya setarikan nafas saja.”
Saat nafas berhenti selama empat menit saja, itu disebut sebagai mati klinis. Bila tidak tertolong, maka akan berkembang menjadi kematian biologis, biasanya terjadi dalam 8–10 menit setelah jantung berhenti berdetak.
Dalam rentang waktu yang sangat singkat itu, manusia diberikan pilihan untuk membentuk hidupnya: apakah ia akan menjadi baik atau buruk, menjadi rahmat atau justru bencana bagi sekitarnya.
Jika tubuh sudah terbujur kaku, maka huruf B dan D bersatu menjadi satu makna: “Dead Body.”
“Dead Body merupakan akhir dari semua kisah. Tidak ada lagi pilihan (choice) setelah itu.”
Yang tersisa hanyalah tiga hal:
- Amal Jariah
- Anak yang Saleh
- Ilmu yang Bermanfaat
Pilihan Ada di Tangan Kita
Setiap manusia lahir (B), akan mati (D), dan selama hidupnya akan selalu dihadapkan pada pilihan (C). Apakah kita akan menjalani hidup ini sebagai ladang amal atau sekadar menjalani waktu tanpa makna?
“Antara kehidupan dan kematian yang merupakan periode yang singkat itu, manusia disuruh untuk memilih (Choice).”
Karena pada akhirnya, bukan soal berapa lama kita hidup, tetapi apa yang kita pilih dan perbuat selama masih diberi nafas. (*)
