Maka lakukanlah kebaikan walaupun tak sempurna dan biarkan Allah yang menyempurnakan langkahmu.
Kesempurnaan adalah milik Tuhan, sementara manusia diberi keterbatasan agar bisa saling melengkapi dan belajar rendah hati.
Kebergunaan adalah bentuk ibadah—menjadi manfaat bagi orang lain adalah jalan menuju rida Allah.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)
Dalam Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi (QS Al-Baqarah: 30),
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Bukan sebagai makhluk sempurna, melainkan sebagai makhluk yang: punya potensi dan kelemahan: Allah menciptakan manusia dengan akal, hati, dan hawa nafsu. Ketidak sempurnaan adalah ruang untuk taubat, belajar, dan bertumbuh.
Diukur dari manfaat, bukan kesempurnaan: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)
Kesempurnaan adalah milik Allah semata, sedangkan manusia dimuliakan karena perjuangannya, bukan hasil akhirnya.
Kalimat ini menantang paradigma perfeksionisme dan mengajak kita untuk:
- Menerima keterbatasan sebagai bagian dari kemanusiaan
- Mengalihkan fokus dari citra diri ke kontribusi nyata
- Menemukan makna hidup dalam kebermanfaatan, bukan pencapaian ideal
- Pemimpin yang berguna lebih dihormati daripada yang sempurna
- Guru yang hadir dan peduli lebih berdampak daripada yang hanya berprestasi
- Orang tua yang mendampingi dengan cinta lebih berarti daripada yang menuntut kesempurnaan anak
Ayat-ayat Al-Qur’an tidak menyatakan secara eksplisit bahwa manusia diciptakan “bukan untuk sempurna tapi untuk berguna,” namun banyak ayat yang menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, menjadi khalifah, dan memberi manfaat, bukan untuk menjadi makhluk sempurna.
1. Tujuan Penciptaan: Untuk Beribadah dan Menjadi Khalifah
QS Adz-Dzariyat: 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Makna: Tujuan utama penciptaan manusia adalah pengabdian, bukan kesempurnaan. Ibadah mencakup seluruh amal yang berguna bagi sesama dan bernilai di sisi Allah.
QS Al-Baqarah: 30
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Makna: Manusia diberi amanah sebagai pengelola bumi, yang berarti harus berguna, bertanggung jawab, dan memberi manfaat bagi kehidupan.
2. Manusia Diciptakan dengan Potensi, Bukan Kesempurnaan
QS At-Tin: 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Makna: “Sebaik-baiknya” bukan berarti sempurna, melainkan diberi potensi akal, hati, dan ruh untuk berkembang dan memberi manfaat.
QS Al-Sajdah: 7–9
الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍ ۚ ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
Artinya: (Dia juga) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.
Makna: Manusia berasal dari unsur rendah (tanah), tapi diberi ruh dan akal untuk menjadi makhluk yang berguna.
3. Kebergunaan sebagai Ukuran Kemuliaan
Hadis Nabi ﷺ Makna: Islam menempatkan kebergunaan sebagai standar kemuliaan, bukan kesempurnaan fisik, intelektual, atau spiritual. (*)
