Di tengah berita salah tata kelola dana zakat yang sempat merebak di berbagai media dan turut menggerus kepercayaan publik, muncul kabar baik yang membuktikan masih ada lembaga zakat yang amanah dalam pengelolaannya.
Untuk kesekian kalinya, Lazismu memperoleh penghargaan dalam kategori lembaga zakat mitra terbaik di ajang Grand BAZNAS Awards. Sebuah pengakuan nasional bagi pengelola zakat yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam pendayagunaan zakat di Indonesia.
Namun demikian, penghargaan ini bukan untuk membanggakan diri, apalagi membandingkan Lazismu dengan lembaga lainnya. Setiap lembaga amil zakat memiliki peran dan caranya sendiri dalam menebar kebaikan.
Bagi Lazismu sendiri, penghargaan ini bukan garis akhir berkarya, melainkan alarm pengingat untuk terus berbenah dan memantaskan diri menjaga amanah umat.
Penghargaan “LAZ Mitra Terbaik” yang diraih Lazismu pada BAZNAS Awards 2026, Kamis 15 Oktober di Jakarta, adalah salah satu penghargaan prestisius yang diberikan berdasarkan standar penilaian pencapaian tertinggi.
Apa saja kriterianya? Lazismu harus mampu membuktikan konsistensi program pemberdayaan yang mengentaskan kemiskinan, menjaga akuntabilitas keuangan dengan laporan yang transparan, serta patuh pada regulasi zakat.
Dalam hal pemeriksaan oleh akuntan publik, Lazismu juga harus bisa mempertahankan opini audit terbaik, serta memastikan setiap hasil dana zakat yang terhimpun benar-benar menjangkau luas dan dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan oleh para mustahik.
Di sinilah peliknya, ternyata menjaga amanah itu memang tidak semudah membalik telapak tangan. Semua butuh perjuangan panjang. Bagi Lazismu, itu bukan sebuah halangan berarti, justru ada rasa syukur di baliknya, karena penghargaan ini sejatinya milik para donatur yang telah mempercayakan zakatnya kepada lembaga zakat milik Muhammadiyah.
Kepercayaan publik itu tidak berhenti pada sebatas laporan keuangan atau kegiatan pentasarufan berkala, tetapi juga perlu ditopang dengan fakta yang ada di lapangan, seberapa besar manfaat dana yang dihimpun itu benar-benar dirasakan oleh mustahik.
Inilah yang diharapkan para muzaki. Secara awam mereka tidak paham apa itu akuntabilitas, atau hasil pemeriksaan wajar tanpa pengecualian, ataupun transparansi pengelolaan dana berdasarkan kriteria asnaf. Mereka hanya ingin melihat bukti nyata yang sudah dilakukan. Karena di mata muzaki, di titik inilah nilai tambah dan nama besar lembaga zakat dipertaruhkan.
Menjawab hal itu, Lazismu memberi bukti dari dua sisi. Pada satu sisi, Lazismu hadir dengan tata kelola yang bertumpu pada sistem kelembagaan. Artinya, merawat amanah umat bukan soal seberapa besar nominal yang dihimpun, tapi seberapa tangguh sistem yang menaunginya agar amanah itu tidak lepas ke pihak yang tidak bertanggung jawab.
Di sisi lain, ada bukti kemanfaatan yang langsung berdampak. Lazismu tidak membangun rumah sakit agar pasien yang datang, melainkan membangun rumah sakit yang mendatangi pasien. Semuanya melayani secara cuma-cuma, tanpa membedakan suku, agama, dan golongan.
Hal ini telah dilakukan melalui penyediaan kapal layanan kesehatan berupa: “Klinik Apung Said Tuhuleley”, kapal model yacht yang dibangun dengan dana sekitar Rp2 miliar dari sumbangsih infak masyarakat.
Kapal ini tidak berlabuh di dermaga pelabuhan besar, tetapi ia menyisir pulau-pulau kecil di Maluku, menjangkau warga yang selama ini luput dari layanan kesehatan.
Aksi nyata Lazismu ini hanya salah satu contoh dari ratusan aksi nyata yang digalang Lazismu, mulai dari tingkat pusat sampai daerah. Mulai program bantuan beasiswa sampai program pemberdayaan kaum dhuafa.
Di sinilah dua kepentingan, antara muzaki dan Lazismu, bertemu dengan nuansa positif. Bagi muzaki, mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar menggugurkan kewajiban agama, melainkan harapan agar bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin demi kemaslahatan umat.
Karenanya, muzaki berharap dana ZIS yang didonasikan tidak dikelola secara serampangan, melainkan melalui sistem pentasarufan berlapis, diaudit syariah dan audit keuangan eksternal, serta dilaporkan secara terbuka kepada publik.
Bagi Lazismu, harapan muzaki itu selaras dengan visi dan misi lembaga, yakni menjadi lembaga amil zakat terpercaya melalui peningkatan kualitas pengelolaan ZIS yang amanah, profesional, transparan, serta pendayagunaan yang kreatif dan produktif demi memastikan setiap donasi benar-benar memberi makna bagi mereka yang membutuhkan.
Di titik inilah, Lazismu menunjukkan satu hal yang sama: amanah itu tidak sekadar dijaga, tetapi dibawa melintas batas memenuhi harapan muzaki.
Akhirnya, rasanya tidak ada lagi alasan untuk meragukan ke mana amanah itu berlabuh. Tahniah buat Lazismu. (*)
