Masyarakat Tanpa Tuhan, Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Masyarakat Tanpa Tuhan, Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Bagaimana mungkin masyarakat yang sangat religius masih kesulitan menjadi masyarakat yang bermoral dalam kehidupan publik? . Pertanyaan ini lebih mengganggu daripada pertanyaan apakah agama diperlukan untuk membuat manusia menjadi baik. .

Indonesia tidak kekurangan agama. Tidak pula kekurangan ajaran tentang kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Masjid, gereja, pura, vihara, sekolah, keluarga, dan ruang publik terus mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun, ketika berhadapan dengan uang, kekuasaan, kepentingan kelompok, atau kesempatan untuk mengambil keuntungan, moralitas tidak selalu menang.

Di sinilah paradoksnya: kita bisa sangat religius dalam keyakinan, tetapi belum tentu religius dalam cara menggunakan kekuasaan, memperlakukan orang lain, atau menjaga kepentingan publik.

Persoalan ini menjadi semakin menarik jika kita melihat Denmark dan Swedia. Kedua masyarakat tersebut dikenal memiliki tingkat keberagamaan yang relatif rendah, tetapi juga menunjukkan tingkat kepercayaan sosial, kesejahteraan, dan keteraturan yang tinggi.

Dalam Society Without God (2008), Phil Zuckerman menggunakan pengalaman tersebut untuk mempertanyakan anggapan bahwa moralitas harus selalu bergantung pada keyakinan agama.

Namun, pengalaman Skandinavia tidak membuktikan bahwa agama tidak diperlukan. Justru sebaliknya, ia memperlihatkan sesuatu yang lebih rumit: moralitas dapat bertahan ketika keberagamaan menurun karena nilai-nilai sosial telah mengakar dalam sejarah, kebiasaan, dan institusi.

Di sinilah Indonesia perlu bercermin.
Jika masyarakat Skandinavia menghadapi pertanyaan bagaimana mempertahankan moralitas setelah agama kehilangan sebagian fungsi sosialnya, Indonesia menghadapi persoalan yang berbeda: bagaimana mengubah kekuatan moral agama yang masih sangat besar menjadi moralitas publik yang benar-benar mengikat perilaku.

Sebab kita mungkin tidak kekurangan orang yang tahu apa yang benar.
Yang lebih langka adalah institusi yang membuat orang tetap melakukan yang benar ketika berbuat sebaliknya lebih menguntungkan.

Dan di titik itulah perdebatan tentang agama dan sekularisme menjadi jauh lebih menarik: bukan lagi tentang siapa yang paling religius atau paling sekuler, melainkan mengapa nilai moral yang kita yakini begitu kuat sering kali menjadi begitu rapuh ketika berhadapan dengan kepentingan. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search