”Today’s practice is the foundation of tomorrow’s obedience.”
“(Latihan hari ini adalah fondasi ketaatan di masa depan)”
Bagi anak-anak, Ramadan adalah petualangan spiritual yang mendebarkan. Meskipun secara syariat puasa wajib dilakukan secara penuh hingga Magrib, puasa beduk (puasa setengah hari) hadir sebagai metode edukasi yang efektif. Langkah ini berfungsi melatih ketahanan fisik serta kesiapan mental mereka sebelum memasuki usia baligh.
Landasan Syariat dan Pendidikan
Islam memberikan keringanan bagi mereka yang belum mampu, sebagaimana firman Allah SWT,
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286).
Ayat ini mengisyaratkan pentingnya prinsip bertahap (tadrij) dalam beribadah, disesuaikan dengan kapasitas diri masing-masing.
Puasa sebagai Sarana Latihan (Tadrib)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
Artinya:
“Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: (1) orang yang tidur sampai dia bangun, (2) anak kecil sampai bermimpi basah (baligh), dan (3) orang gila sampai ia kembali sadar (berakal).”(HR. Abu Dawud No. 4403).
Hadis ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT bahwa manusia hanya dibebani hukum (taklif) ketika dalam keadaan sadar, berakal, dan telah mampu memikul tanggung jawab.
Oleh karena itu, puasa beduk bukanlah bentuk ibadah yang bersifat “sah secara hukum” bagi orang dewasa, melainkan sebuah sarana latihan (tadrib). Melalui pembiasaan ini, saat mencapai usia baligh nanti, anak-anak telah terbiasa menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga petang.
Mari kita bimbing anak-anak dengan penuh kasih sayang. Tujuannya agar mereka tumbuh mencintai ibadah tanpa merasa terbebani, serta menjadikan setiap detiknya sebagai pengalaman religius yang manis dan dirindukan.
Semoga bermanfaat.
