“Melewati Zaman Penuh Pencitraan” terdengar seperti refleksi kritis terhadap era kita sekarang, di mana citra sering kali lebih diutamakan daripada substansi. Media sosial, politik, bahkan dunia kerja banyak menekankan bagaimana sesuatu terlihat, bukan bagaimana sesuatu benar-benar bekerja atau bernilai.
Budaya visual: Foto, video, dan branding menjadi pusat komunikasi. Orang atau institusi berlomba membangun “persona” yang menarik.
Politik & kepemimpinan: Pencitraan sering dipakai untuk membentuk persepsi publik, kadang menutupi realitas kebijakan atau kinerja.
Dunia profesional: CV, portofolio, dan personal branding di LinkedIn bisa lebih menentukan daripada keterampilan nyata.
Psikologi sosial: Kita hidup dalam tekanan untuk tampil “sempurna” di mata orang lain, yang bisa menimbulkan kelelahan mental.
Namun, melewati zaman penuh pencitraan bukan berarti kita harus menolak citra sama sekali. Justru tantangannya adalah menyeimbangkan antara citra dan isi menggunakan pencitraan sebagai jembatan, bukan pengganti, dari kualitas yang sesungguhnya.
Al-Qur’an menyinggung fenomena “zaman penuh pencitraan” melalui larangan riya (pamer) dan kesombongan. Ayat-ayat seperti QS. Al-Ma’un: 6, QS. Al-Baqarah: 264, dan QS. Luqman: 18 menegaskan bahwa amal yang dilakukan demi pujian manusia akan sia-sia dan perilaku sombong hanya membawa murka Allah.
Tentang Riya (Pencitraan/Pamer)
QS. Al-Ma’un (107:6)
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ
Artinya: “(Orang-orang yang celaka adalah) orang-orang yang berbuat riya.”, 762)
762) Riya adalah melakukan sesuatu perbuatan tidak untuk mencari keridaan Allah, tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
Menunjukkan bahwa amal ibadah yang diniatkan untuk pencitraan atau pujian manusia tidak bernilai di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya.” (HR. Ahmad)
Riya disebut syirik kecil karena seseorang beramal bukan karena Allah, melainkan demi citra di mata manusia
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa melakukan suatu amal yang ia campur dengan riya, maka Allah akan berfirman: ‘Pergilah kepada orang yang kamu ingin pujian darinya, apakah kamu mendapatkan balasan darinya?’” (HR. Ahmad)
Amal yang diniatkan untuk pencitraan tidak akan diterima oleh Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada fitnah Dajjal? Yaitu syirik kecil: riya.” (HR. Ibn Majah)
Menunjukkan betapa seriusnya bahaya riya dalam kehidupan seorang Muslim
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa shalat untuk dipuji orang, maka ia telah berbuat syirik. Barangsiapa berpuasa untuk dipuji orang, maka ia telah berbuat syirik. Barangsiapa bersedekah untuk dipuji orang, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Thabrani)
Amal yang dilakukan demi pencitraan akan hilang nilainya
QS. Al-Baqarah (2:264)
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia, sedangkan dia tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu licin yang di atasnya ada debu, lalu batu itu diguyur hujan lebat sehingga tinggallah (batu) itu licin kembali. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir.
Amal yang dilakukan demi citra sosial akan gugur pahalanya.
Tentang Kesombongan (Citra Diri yang Berlebihan)
QS. Luqman (31:18)
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
Artinya: Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
QS. An-Nisa (4:36)
۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
Mengingatkan bahwa pencitraan yang berujung pada kesombongan adalah perilaku tercela.
Makna dalam Konteks Zaman Penuh Pencitraan
Riya = pencitraan kosong: Amal atau tindakan yang dilakukan hanya untuk terlihat baik di mata orang lain, bukan karena keikhlasan.
Kesombongan = citra diri berlebihan: Menampilkan diri seolah lebih tinggi dari orang lain, padahal hakikatnya semua manusia lemah di hadapan Allah.
Konsekuensi spiritual: Amal yang riya tidak diterima, dan kesombongan mendatangkan murka Allah.
Al-Qur’an sudah mengantisipasi fenomena “zaman penuh pencitraan” dengan peringatan keras terhadap riya dan kesombongan. Solusi yang ditawarkan adalah ikhlas dalam niat dan tawadhu’ dalam sikap. Dengan begitu, kita bisa melewati era penuh pencitraan tanpa kehilangan nilai hakiki amal dan kepribadian. (*)
