Meluruskan Logika Tauhid

Meluruskan Logika Tauhid
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fattah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

#Meneladani Keberanian Kritis Nabi Ibrahim AS

Salah satu ciri utama dakwah Islam yang diusung oleh para nabi adalah pencerahan akal dan pembebasan manusia dari belenggu taklid buta. Islam tidak pernah meminta umatnya untuk memercayai sesuatu secara meraba-raba tanpa nalar yang jernih. Tauhid yang kokoh justru lahir dari keberanian berpikir kritis, mengamati realitas, serta menolak segala bentuk peribadatan yang bertentangan dengan fitrah dan akal sehat.

Kisah dialog antara Nabi Ibrahim AS dan ayahnya, Azar, yang diabadikan dalam Surat Al-An’am ayat 74–75 memberikan teladan agung tentang bagaimana tauhid didudukkan di atas argumentasi yang rasional. Melalui kacamata penafsiran tiga ulama tersohor—Imam Al-Qurtubi, Ibn ‘Asyur, dan Syekh Wahbah Az-Zuhaili—artikel ini mengajak kita meneladani cara berpikir kritis Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan ajaran tauhid murni di tengah masyarakat yang tersesat oleh tradisi leluhur.

Teks Arab dan Terjemahan Surat Al-An’am: 74–75
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ﴿٧٤﴾ وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ ﴿٧٥﴾

 “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar: ‘Apakah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ (74) Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan (kekuasaan) langit dan bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (75)[^1]

1. Membongkar Kerancuan Logika Penyembah Berhala
Pada ayat 74, Nabi Ibrahim AS mengawali dakwahnya dengan pertanyaan yang menyengat akal sehat ayahnya: “Apakah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan-tuhan?” Secara kaidah bahasa Arab, pertanyaan ini menggunakan istifham inkar (pertanyaan bernada teguran keras dan penolakan), bukan karena Ibrahim tidak tahu, melainkan untuk menggugah kesadaran Azar.[^2]

Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa keberanian Nabi Ibrahim menegur ayahnya dilakukan dengan kalimat yang tegas namun bertujuan menyelamatkan.[^3] Ibrahim hendak menunjukkan betapa tidak masuk akalnya tindakan manusia yang membuat patung dari batu atau kayu dengan tangannya sendiri, lalu setelah itu tunduk dan memohon nasib kepadanya.

Di sinilah letak kerancuan berpikir masyarakat Babilonia kala itu. Mereka mungkin cerdas dalam urusan duniawi, tetapi logika mereka tumpul ketika berhadapan dengan tradisi peribadatan leluhur. Ibn ‘Asyur menyoroti ungkapan Ibrahim “Inni araaka wa qaumaka fi dhalalim mubin” (Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata). Kata ‘araaka’ (aku melihatmu) di sini bermakna penglihatan akal (ilm/ra’y) yang didasari bukti nyata, bukan sekadar prasangka.[^4]

Nabi Ibrahim menegaskan bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah pengikut; meskipun mayoritas masyarakat menyembah berhala, kebiasaan salah tetaplah sebuah kesesatan.

2. Dari Pengamatan Alam Raya Menuju Keyakinan yang Kokoh
Setelah membongkar ketidaklogisan peribadatan berhala pada ayat 74, Allah SWT menunjukkan metodologi meraih keyakinan sejati pada ayat 75 melalui perantara “Malakut al-samawati wal-ardh” (kerajaan/kekuasaan langit dan bumi).

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa kata malakut mengindikasikan keagungan tatanan alam semesta dan hukum-hukum Allah yang teratur di dalamnya.[^5]

Allah tidak meminta Nabi Ibrahim mempercayai keberadaan-Nya secara taklid, melainkan mengajak beliau mengamati keteraturan bintang, bulan, matahari, serta pergantian malam dan siang.
[ Keteraturan Alam Semesta ] ───► [ Perenungan Akal Sehat ] ───► [ Tauhid & Yaqin Sejati ]
(Ayat Kauniyah / Malakut) (Pemberdayaan Nalar) (Bebas dari Taklid)

Menurut Imam Al-Qurtubi, keterbukaan penglihatan (nuri) Nabi Ibrahim mencakup dua hal:[^6]

* Melihat Bukti Fisik: Kejadian alam semesta yang rapi dan teratur.
* Melihat dengan Mutiara Hati (Basirah): Kesadaran bahwa tidak mungkin alam yang mahaluas dan teratur ini berjalan tanpa ada Pencipta Yang Mahakuasa dan Maha Esa.
Pengamatan inilah yang mengantarkan Nabi Ibrahim menjadi sosok yang muqinin (orang yang memiliki keyakinan puncak/tidak tergoyahkan). Tauhid beliau bukan tauhid ikut-ikutan, melainkan tauhid yang lahir dari pembuktian dan perenungan mendalam.

3. Pesan dan Teladan Dakwah untuk Umat Hari Ini
Dari tadabbur QS. Al-An’am ayat 74–75 ini, ada beberapa pelajaran penting bagi gerakan dakwah Majelis Tabligh Muhammadiyah:
* Dakwah Berbasis Akal Sehat dan Hikmah: Dakwah Islam harus disampaikan dengan argumen yang masuk akal dan membebaskan masyarakat dari mistisisme, syirik, serta kebiasaan TBC (Tahayyul, Bid’ah, Churafat).
* Berani Kritis Terhadap Tradisi yang Menyimpang: Sebagaimana Nabi Ibrahim menolak taklid kepada ayahnya, seorang muslim tidak boleh mengorbankan akidah hanya karena alasan “sudah dari dulu tradisinya begitu”.

* Membaca Ayat Kauniyah: Keimanan yang kuat dibentuk melalui tadabbur terhadap keindahan dan keteraturan alam ciptaan Allah. Memahami keagungan ciptaan akan membimbing hati menuju ketundukan kepada Sang Pencipta.

Catatan Kaki:

[^1]: Al-Qur’an al-Karim, Surat Al-An’am (6): 74–75.
[^2]: Muhammad al-Tahir ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, vol. 7 (Tunis: Dar al-Tunisiyyah li al-Nashr, 1984), 316.
[^3]: Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Ahmad al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, ed. Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Atfayyisy, vol. 7 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 23–24.
[^4]: Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, 320.
[^5]: Wahbah ibn Mustafa az-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, vol. 7 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1418 H), 264–265.
[^6]: Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, vol. 7, 28–29.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search