“People who are diligent in worship but their morals are bad, like a tree whose roots are strong but never produce fruit. Perfect worship will be reflected in the sweetness of deeds”
“(Orang yang rajin beribadah tapi akhlaknya buruk, ibarat pohon yang akarnya kuat tapi tidak pernah menghasilkan buah. Ibadah yang sempurna akan tercermin dari manisnya perbuatan)”
Ibadah bukanlah sekadar ritual, melainkan wasilah atau jembatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mencapai derajat takwa. Sedangkan akhlak adalah hasil atau buah dari ibadah yang tulus. Seseorang yang benar ibadahnya akan terlihat dari keindahan akhlaknya. Sebagaimana dalam firman-Nya,
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
Artinya:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Qs. Al-Ankabut: 45)
Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk menjaga salat 5 waktu sehingga siapapun yang dapat menjaga salatnya maka ia dapat terhindar juga dari perbuatan keji dan mungkar.
Hadis Rasulullah SAW juga mempertegas hal ini:
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
Artinya:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi No. 1162)
Ibadah yang tidak menghasilkan akhlak baik menunjukkan adanya ketidaksempurnaan. Salat, puasa, dan ibadah lainnya seharusnya membentuk pribadi yang sabar, jujur, santun, dan peduli. Jika seorang Muslim rajin beribadah namun akhlaknya buruk, maka ibadahnya perlu dipertanyakan.
Jadi, Ibadah yang sempurna akan tercermin dari akhlak yang mulia. Mari perbaiki ibadah kita agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik, menebarkan kebaikan, dan menjadi cerminan Islam yang sesungguhnya.
Semoga bermanfaat.
