*)Oleh: Alfakir Agus Santoso Budiharso
Di tengah gelombang zaman yang kian cepat dan tidak menentu, manusia modern dihadapkan pada dunia yang penuh gejolak dan kehilangan arah. Kita hidup dalam era yang disebut VUCA—Volatile (bergejolak), Uncertain (tidak pasti), Complex (rumit), dan Ambiguous (kabur). Ketika teknologi seperti 5G, artificial intelligence, dan digitalisasi merambah hampir seluruh aspek kehidupan, kita dihadapkan pada tantangan terbesar bukan hanya soal kapasitas teknis, melainkan kerapuhan spiritual dan kehilangan makna hidup.
Pada titik inilah kisah Dzulqarnain dalam QS Al-Kahfi ayat 97–98 menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Bukan hanya sebagai kisah sejarah atau mitos kekuasaan masa lalu, tetapi sebagai cermin zaman yang bisa mengantar kita pada pemahaman lebih dalam tentang iman, kekuasaan, dan batas kemampuan manusia.
Benteng Besi dan Tembaga: Simbol Kekuatan dan Kepemimpinan
Ketika Dzulqarnain membangun tembok raksasa dari campuran besi dan tembaga untuk membendung kerusakan Ya’juj dan Ma’juj, ia bukan sekadar memamerkan kekuatan teknologi pada masanya. Ia sedang menunjukkan pada dunia bahwa kekuatan sejati lahir dari kepemimpinan yang adil, pengetahuan yang tinggi, dan kepekaan sosial terhadap penderitaan manusia. Tembok itu dibangun bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk melindungi kaum tertindas yang selama ini tak berdaya menghadapi kerusakan moral dan fisik yang disebabkan oleh Ya’juj dan Ma’juj.
Hari ini, kita juga membangun “tembok-tembok” modern. Kita punya infrastruktur canggih, kebijakan publik, jaringan komunikasi, dan pertahanan siber. Tapi pertanyaannya adalah: apakah kita juga membangun benteng dalam diri kita sendiri? Apakah kita memperkuat iman dan akhlak dalam menghadapi zaman yang rusak ini?
Ya’juj dan Ma’juj: Wajah Kekacauan
Dalam tafsir para ulama, Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai kaum yang membuat kerusakan di muka bumi. Mereka tidak taat hukum, merusak segala yang dilewati, dan mengancam stabilitas sosial. Namun dalam tafsir kiasan dan simbolik, Ya’juj dan Ma’juj juga bisa dimaknai sebagai representasi kekuatan destruktif dalam peradaban modern: ideologi kebebasan tanpa batas, eksploitasi sumber daya, dominasi ekonomi atas nilai-nilai kemanusiaan, hingga virus digital yang menghancurkan akhlak anak bangsa.
Mereka juga bisa muncul dalam bentuk fitnah di media sosial, konten merusak yang viral, atau informasi palsu yang memecah belah. Ketika kita tak lagi mampu membedakan kebenaran dari kebohongan, kita sesungguhnya telah membuka “lubang” di dalam benteng kita sendiri. Dan ketika “lubang” itu terus membesar, keruntuhan hanyalah soal waktu.
Kerendahan Hati dalam Puncak Kekuasaan
Hal yang paling menyentuh dalam kisah ini adalah kerendahan hati Dzulqarnain. Setelah berhasil membangun tembok kokoh, ia tidak berkata, “Ini hasil kepintaranku!” atau “Ini kejayaan kerajaanku!” Tapi ia berkata:
“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
(QS Al-Kahfi: 98)
Ia sadar bahwa keberhasilan, kekuatan, dan kejayaan itu bukan dari dirinya semata. Itu semua adalah rahmat Allah yang dititipkan padanya. Inilah teladan penting bagi kita yang hari ini sering terperangkap dalam euforia prestasi, jabatan, atau pencapaian duniawi. Kita lupa bahwa apa pun yang kita capai, tidak akan terjadi tanpa izin dan kehendak-Nya.
Kerendahan hati seperti ini bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kedewasaan spiritual. Ketika kita mampu berkata “Ini semua karena Allah,” maka kita sudah membangun fondasi iman yang sejati.
Kekuasaan yang Fana dan Janji Tuhan yang Pasti
Tak berhenti di situ, Dzulqarnain memberikan peringatan penting. Ia berkata:
“Tapi apabila janji Tuhanku datang, Dia akan menjadikannya rata dengan tanah. Dan janji Tuhanku itu benar.”
Di sinilah puncak perenungan. Sebesar apa pun benteng yang kita bangun, sekuat apa pun sistem pertahanan kita, semuanya akan hancur ketika waktu kehancuran telah ditetapkan oleh Allah. Inilah teguran bagi peradaban modern yang terlalu percaya pada kekuatan teknologi dan kekuasaan manusia.
Kita membangun kota-kota pintar (smart cities), robot, sistem satelit, bahkan berbicara tentang koloni di Mars. Tapi adakah kita membangun kota iman di hati kita sendiri? Dunia terus mengejar kecepatan, tapi tidak peduli apakah kita tahu ke mana arah kehidupan ini. Dzulqarnain mengingatkan bahwa satu-satunya yang pasti hanyalah janji Tuhan: kematian, hari pembalasan, dan keadilan yang hakiki.
Janji Itu Telah Dekat: Hadis yang Menggetarkan
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“Celakalah bagi orang Arab dari suatu kejahatan yang telah mendekat. Hari ini terbuka dari benteng Ya’juj dan Ma’juj lubang sebesar ini.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini memperlihatkan bahwa sejak zaman Nabi, lubang kehancuran itu sudah mulai terbuka. Dan kita menyaksikan sendiri bagaimana kerusakan demi kerusakan melanda dunia—bencana alam, konflik global, krisis kepercayaan, dan disrupsi moral.
Ketika Zainab binti Jahsy bertanya, “Apakah kita akan binasa padahal di antara kita banyak orang saleh?” Rasul menjawab, “Ya, jika kejahatan telah merajalela.”
Ini adalah panggilan batin yang paling mendalam: kesalehan individual tidak cukup untuk menyelamatkan masyarakat. Kita harus bangkit secara kolektif—menghidupkan kembali dakwah, membina keluarga, menguatkan solidaritas sosial, dan membangun masyarakat yang takut kepada Allah.
Kembali ke Jalan Tuhan
Kisah Dzulqarnain menegaskan satu hal: semua kekuatan, kejayaan, dan kemajuan hanyalah sementara. Yang abadi hanyalah iman, amal saleh, dan penghambaan kepada Allah. Maka, di tengah zaman yang riuh ini, jalan pulang hanya satu: kembali kepada Allah sebelum kita benar-benar kembali.
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS At-Talaq: 2–3)
Di saat manusia bingung mencari arah, Al-Qur’an tetap menjadi kompas hidup. Di saat teknologi mengasingkan manusia dari dirinya sendiri, zikir dan shalat tetap menjadi sumber ketenangan. Di saat peradaban merasa sombong, kisah Dzulqarnain mengingatkan bahwa semua akan hancur, kecuali amal yang tulus karena Allah.
Membangun Dua Benteng
Hari ini, kita harus membangun dua benteng sekaligus:
1. Benteng lahiriah: pendidikan, ekonomi, sistem hukum, pertahanan sosial.
2. Benteng batiniah: iman, akhlak, spiritualitas, dan kedekatan dengan Al-Qur’an.
Jika salah satu roboh, yang lain tak akan bertahan. Dan jika keduanya kuat, maka kita telah siap menyongsong janji Tuhan dengan tenang, karena kita tahu bahwa: “Inna wa‘da Rabbī ḥaqq—Sesungguhnya janji Tuhanku itu benar.”
*) Penggiat dakwah dan perenung zaman, Mahasiswa S3 Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
