Membangun Silaturahim di Tengah Perselisihan, Bukan Memutus

Membangun Silaturahim di Tengah Perselisihan, Bukan Memutus
*) Oleh : Dr. Katni, M.Pd.I
Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Ponorogo
www.majelistabligh.id -

Membangun silaturahim di tengah perselisihan adalah sebuah prinsip yang sangat baik, terutama dalam konteks sosial dan spiritual. Seperti dalam ajaran Islam yang sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan baik. Pada tulisan ini, kita akan membahas mengapa pendekatan ini penting dan bagaimana cara melakukannya.

عَن ابْن شهاب أَخْبَرَنٍيْ أَنَس بْن مَالِك أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  –  رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Diriwayatkan dari Ibnu Sihab  (dimana) telah menginformasikan padaku Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan dipanjangkan (sisa) umurnya, maka sambunglah (tali) kerabatnya. (HR. Bukhari)

Hadis ini karena terdapat dalam Shahihain (dua kitab sahih, yaitu Bukhari (no. 2043) dan Muslim (no. 6476), maka hadis tersebut ternilai sahih. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1694), Ibnu Hiban (no. 473), dan al-Baihaqi (no. 13381), di mana kesemuanya dari sahabat Anas bin Malik ra.

Kata “silaturahim” atau “silaturahmi” berasal dari dari dua kata; shilat dan al-rahim atau al-rahmi. “shilat” berarti sambungan atau menyambung atau menjalin atau menghubungkan. Sementara al-rahim atau al-rahmi satu akar kata yang sama yaitu rahima – yarhamu. Berawal dari kata rahima – yarhamu bisa menghasilkan dua bentuk masdar (kata infinitif) yang berbeda dan mempunyai arti yang berbeda pula; 1) kasih sayang; dan 2) rasa sakit pada rahim wanita setelah melahirkan.

Jika merujuk dalam banyak hadis, antara “rahim” dan “rahmi”, Rasulullah Saw lebih banyak menggunakan pandanan “rahim”, misalnya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”. [رواه البخاري ومسلم واللفظ للبخاري]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya atau ditambahkan umurnya maka hendaklah ia menyambung kekerabatannya”.” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ”. [رواه البخاري

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung kekerabatannya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaklah ia diam”.” [HR. al-Bukhari].

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “إِنَّ الرَّحِمَ شِجْنَةٌ مُتَمَسِّكَةٌ بِاْلعَرْشِ تَكَلَّمَ بِلِسَانٍ ذَلِقٍ: “اَللَّهُمَّ صِلْ مَنْ وَصَلَنِي وَاقْطَعْ مَنْ قَطَعَنِي”. فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: “أَنَا الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ، وَإِنِّي شَقَقْتُ لِلرَّحِمِ مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ نَكَثَهَا نَكَثْتُهُ”. [أخرجه الهيثمي]

“Diriwayatkan dari Anas, diriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya rahim (kekerabatan) itu adalah cabang kuat di ‘Arsy berdoa dengan lisan yang tajam: “Ya Allah sambunglah orang yang menyambungku dan putuslah orang yang memutusku”. Maka Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku adalah ar-Rahman ar-Rahim. Sungguh Aku pecahkan dari namaKu untuk rahim (kekerabatan), maka barangsiapa menyambungnya niscaya Aku menyambung orang itu, dan barangsiapa memutuskannya pasti Aku memutuskan orang itu”.” [Diriwayatkan oleh al-Haitsami].

Mengapa membangun silaturahim lebih baik daripada mengasingkan diri, dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, Potensi Perbaikan Hubungan: Mengasingkan diri dari orang yang berselisih akan memutus jalur komunikasi dan menghilangkan peluang untuk berdamai atau memahami sudut pandang masing-masing. Berusaha menjaga silaturahim membuka pintu dialog, yang merupakan langkah awal menuju penyelesaian masalah.

Kedua, Mencegah Konflik Memburuk. Perselisihan yang tidak ditangani dengan baik atau justru dihindari sering kali dapat memburukkan suasana dan dampak seiring waktu. Muslim dengan tetap menjaga hubungan, setidaknya ada kontrol terhadap potensi eskalasi konflik. Muslim dengan budaya memaafkan, dan musyawarah untuk mencari solusi dan jalan tengah akan terus bisa bersinergi dan membangun amal salih dan perjuangan bersama untuk kemajuan.

Ketiga, Menunjukkan Kedewasaan. Menunjukkan kedewasaan adalah sikap yang sangat penting dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama ketika kita sedang berselisih paham dengan mereka. Kedewasaan emosional dan spiritual memungkinkan kita untuk tetap bersikap baik dan menjaga hubungan dengan orang lain, meskipun kita tidak sependapat dengan mereka.

Ini membutuhkan kekuatan karakter yang kuat dan kemampuan untuk mengontrol emosi kita sendiri. Kita dengan menunjukkan kedewasaan, dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan harmonis dengan orang lain, serta menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung.

Keempat, Menjaga Kesejahteraan Mental. Menjaga kesejahteraan mental adalah salah satu alasan penting untuk mencoba menjaga hubungan yang positif dengan orang lain, meskipun ada ketegangan atau perbedaan pendapat. Memendam dendam atau perasaan negatif dapat berdampak buruk pada kesehatan mental kita, sedangkan mencoba memahami dan memaafkan dapat membantu kita untuk melepaskan beban emosional dan meningkatkan kesejahteraan mental. Dengan menjaga hubungan yang positif, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan mendukung, serta meningkatkan kualitas hidup kita sendiri.

Kelima, Teladan yang Baik. Tindakan menjaga hubungan yang positif dan mencoba memahami orang lain dapat menjadi contoh positif bagi orang lain di sekitar kita. Dengan menunjukkan cara konstruktif dalam menangani konflik interpersonal, kita dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak, teman, dan komunitas kita.

Ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan mendukung, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga hubungan yang positif dan konstruktif. Dengan demikian, kita dapat membuat perbedaan positif dalam kehidupan orang lain dan menciptakan dampak yang lebih luas.

Metode membangun silaturahim di tengah perselisihan adalah sebagai berikut:

Pertama, Jaga Komunikasi Tetap Terbuka. Menjaga komunikasi tetap terbuka adalah langkah penting dalam menjaga hubungan yang positif, terutama setelah terjadi perselisihan. Dengan tetap menyapa atau menanyakan kabar secara berkala, kita dapat menunjukkan bahwa kita masih peduli dengan hubungan tersebut dan tidak membiarkan perbedaan pendapat menjadi penghalang.

Ini dapat membantu menjaga hubungan tetap hangat dan memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan orang lain, bahkan jika kita tidak selalu sependapat. Dengan demikian, kita dapat menjaga hubungan yang lebih kuat dan harmonis.

Kedua. Fokus pada Kesamaan, Bukan Perbedaan. Fokus pada kesamaan dan bukan perbedaan adalah strategi yang efektif dalam menjaga hubungan yang positif. Dengan mencoba menemukan topik umum yang netral atau minat bersama, kita dapat mengalihkan perhatian dari poin-poin yang menjadi sumber perselisihan dan lebih fokus pada hal-hal yang dapat menyatukan kita. Ini dapat membantu menciptakan suasana yang lebih santai dan positif, serta memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan orang lain meskipun kita tidak selalu sependapat. Dengan demikian, kita dapat menjaga hubungan yang lebih harmonis dan kuat.

Ketiga, Tunjukkan Empati. Menunjukkan empati adalah langkah penting dalam menjaga hubungan yang positif dan sehat. Kita dengan mencoba memahami alasan atau perasaan di balik tindakan pihak lain, dapat menunjukkan bahwa kita peduli dengan mereka dan tidak hanya fokus pada perbedaan pendapat. Empati dapat melunakkan hati yang keras dan membuka jalan untuk komunikasi yang lebih efektif. Kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung, serta menjaga hubungan yang lebih kuat dan harmonis.

Keempat, Tahan Diri dari Perkataan Negatif. Menahan diri dari perkataan negatif adalah langkah penting dalam menjaga hubungan yang positif dan sehat. Dengan tidak menyebarkan hal-hal buruk tentang pihak lain kepada orang ketiga, kita dapat menghindari memperkeruh suasana dan merusak reputasi serta kepercayaan. Ini juga menunjukkan bahwa kita dapat menjaga kepercayaan dan menghormati orang lain, bahkan jika kita tidak sependapat dengan mereka. Kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung, serta menjaga hubungan yang lebih kuat dan harmonis.

Kelima. Berikan Ruang: Memberikan ruang tidak berarti mengasingkan diri atau memutuskan hubungan, melainkan memberikan waktu untuk mendinginkan kepala dan merefleksikan diri. Jeda ini dapat membantu mengurangi ketegangan dan emosi negatif yang mungkin timbul akibat perselisihan, sehingga kita dapat kembali berinteraksi secara sehat dan konstruktif. Kita dengan memberikan ruang, dapat menunjukkan bahwa kita peduli dengan hubungan dan siap untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik.

Keenam, Berdoa. Dalam Islam, berdoa adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya. Mendoakan kebaikan untuk pihak yang berselisih dapat membantu melunakkan hati sendiri dan memohon pertolongan Tuhan untuk mendamaikan hubungan. Dengan berdoa, kita dapat menunjukkan bahwa kita peduli dengan hubungan dan siap untuk memaafkan serta memperbaiki diri. Semoga Allah membantu kita untuk menjadi lebih baik dan mendamaikan hubungan kita dengan orang lain.

Mengasingkan diri mungkin terlihat sebagai solusi mudah untuk menghindari konflik, namun seringkali memperburuk masalah dalam jangka panjang. Sebaliknya, membangun silaturahim dan menjaga hubungan yang positif memerlukan usaha dan kesabaran, namun merupakan investasi jangka panjang untuk hubungan yang lebih sehat dan damai. Kita dengan memilih untuk membangun silaturahim, dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif dan mendukung, serta menjaga hubungan yang lebih kuat dan harmonis. (*)

Tinggalkan Balasan

Search