Memegang bara api adalah perumpamaan dalam Islam untuk menggambarkan betapa sulitnya berpegang teguh pada sunah Nabi Muhammad SAW di akhir zaman, di mana kebenaran dianggap asing dan akan banyak godaan serta cemoohan. Membutuhkan kesabaran luar biasa seperti memegang bara api yang panas, namun pahalanya sangat besar karena menjaga agama dari kerusakan.
Hadis berikut ini seakan menggambarkan realita umat Islam saat ini. Di era serba cepat dan penuh fitnah, menjaga iman ibarat memegang bara panas, menyakitkan, dan mengundang olokan. Namun, itulah jalan istiqamah agar tetap teguh walau dunia tak lagi ramah.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda :
يَأْتِي عَلَى ٱلنَّاسِ زَمَانٌ ٱلْقَابِضُ فِيهِ عَلَىٰ دِينِهِ كَٱلْقَابِضِ عَلَى ٱلْجَمْرِ
“Akan datang suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti memegang bara api.”
HR.Tirmidzi dalam Shahihul Jami’ no.8002
Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibarat seseorang yang memegang bara (nyala) api.
Ath Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya.
Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.
Sedangkan Al Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran ekstra dan kesulitan yang luar biasa.
Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad ﷺ di zaman ini butuh kesabaran ekstra.
Itulah gambaran yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul, begitu sulit dan begitu beratnya.
Kadang cacian mesti diterima.
Kadang dikucilkan masyarakat.
Kadang jadi bahan omongan tidak enak.
Demikianlah risikonya.
Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Ingatlah janji Allah,
قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
QS. Az Zumar [39] : 10
ㅤㅤ
Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar.
Itulah karena saking banyaknya.
Ibnu Juraij menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa terhitung (tak terhingga), juga ditambah setelah itu.
Tantangan kekinian dalam menjaga istiqamah dalam iman adalah:
1. Normalisasi Maksiat : Tayangan hiburan, tren media sosial, dan budaya populer makin menggoda. Hal-hal yang dulu dianggap tabu kini dianggap biasa.
2. Buzzer dan Rekayasa Opini : Di balik layar medsos, ada pengendali narasi. Kebenaran bisa dibungkam, kebaikan bisa dibungkus seolah kebodohan. Umat pun digiring untuk menjauhi nilai-nilai Islam secara halus dan terstruktur.
3. Pendusta Dipercaya dan Orang Bodoh Mengurusi Urusan Umat. Rasulullah Shakallahu Alaihi Wasalam bersabda : “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia. Pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhoh turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan orang banyak (umat).” (HR Ibnu Majah)
4. Kelelahan Mental dan Spiritualitas : Beban hidup, tekanan ekonomi, dan derasnya distraksi digital membuat banyak orang merasa jauh dari Allah. Rasa hampa pun menjauhkan dari semangat ibadah.
5. Stigma Negatif Terhadap Simbol Islam : Di sebagian negara, mengenakan hijab atau menyuarakan nilai Islam bisa dianggap radikal. Umat dipaksa memilih : identitas atau keamanan?
II. Solusi agar Tetap Istiqamah :
1. Perkuat hubungan dengan Al-Qur’an : Baca, pahami, dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an adalah pelita dalam kabut zaman.
2. Cari lingkungan yang baik : Teman yang saleh adalah benteng pertahanan.
3. Ikuti majelis ilmu : Ilmu adalah cahaya penuntun langkah istiqamah.
4. Doa yang tak putus : Minta pada Allah agar hati kita tidak tergelincir dalam kemaksiatan. (*)
