Rutinitas Selasa malam di Masjid Al-Ikhlash Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, selalu menghadirkan kehangatan tersendiri. Takmir masjid setempat terus konsisten menjaga istiqamah dengan menyelenggarakan kajian Islam mingguan yang populer di kalangan warga dengan sebutan Tamasya (Taklim Maghrib hingga Isya).
Pada Selasa (13/10/2026) malam, ruang utama Masjid Al-Ikhlash tampak dipenuhi jemaah, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka duduk berdampingan dengan khusyuk, menyimak petuah kebaikan yang disampaikan oleh penceramah asal Gresik, Ustadz H. Affan Achwan, S.Ag.
Dalam ceramahnya yang menyejukkan hati, Ustadz Affan membedah rahasia menjadi manusia yang baik, utama, bahagia, dan beruntung di hadapan Allah SWT melalui untaian hadis-hadis Rasulullah SAW.
Menjadikan Usia Sebagai Ladang Keberkahan
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Affan mengutip hadis riwayat Imam At-Tirmidzi mengenai kriteria manusia terbaik di mata Nabi Muhammad SAW, yakni mereka yang dikaruniai umur panjang dan diimbangi dengan amalan yang baik.
Pesan ini menjadi perenungan mendalam bagi para jemaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat umur yang masih digenggam hari ini.
“Setiap detik usia yang Allah berikan adalah kesempatan emas. Gunakanlah untuk beribadah, menuntut ilmu di majelis taklim, serta menanam kebaikan kepada sesama—mulai dari keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas melalui lisan yang terjaga dan rasa saling berbagi,” ajak Ustadz Affan penuh kelembutan.
Memelihara Hati Makmum dan Lisan yang Jujur
Tak hanya tentang umur, penceramah juga mengajak jemaah merenungi hadis riwayat Ibnu Majah mengenai sosok manusia paling utama. Menurut Rasulullah SAW, manusia utama adalah mereka yang memiliki hati al-makmum dan lisan yang jujur.
Ustadz Affan menjelaskan, hati al-makmum adalah hati yang senantiasa bertakwa dan bersih—hati yang terbebas dari kezaliman, sifat ghil (dendam atau kebencian yang tersimpan), serta hasad (iri hati).
“Keutamaan seorang hamba bukan hanya dilihat dari deretan ibadah ritualnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu membersihkan hatinya dari penyakit sombong, benci, dan iri, serta sejauh mana lisannya bisa dipercaya dan menenangkan sesama,” paparnya.
Empat Kunci Kebahagiaan Hakiki
Menutup kajian Tamasya malam ini, Ustadz Affan menyampaikan hadis riwayat Al-Dailami tentang empat indikator kebahagiaan hidup seorang Muslim di dunia: pertama, Pasangan hidup yang saleh/salehah yang saling menyejukkan, kedua, Anak-anak yang berbakti dan menjadi penyejuk mata (qurrota a’yun), ketiga, Pergaulan dan lingkungan bersama orang-orang yang soleh, dan keempat, Mata pencaharian atau rezeki yang didapatkan di negeri sendiri dengan penuh keberkahan.
Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan begitu terasa hingga azan Isya berkumandang. Kajian Tamasya malam itu tak sekadar menjadi ajang menimba ilmu, tetapi juga menjadi penawar dahaga spiritual bagi jemaah Masjid Al-Ikhlash Campurejo untuk terus melangkah menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. (ma’in)
