Mendoakan Orang-orang Kafir

Mendoakan Orang-orang Kafir
*) Oleh : Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman, menceritakan perihal orang-orang munafik —semoga laknat Allah tertimpakan kepada mereka— bahwa mereka itu:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ}

apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, ” mereka membuang muka mereka. (Al-Munafiqun: 5)

Yakni mereka menghalang-halangi dan berpaling dari apa yang dikatakan kepada mereka dengan perasaan sombong dan menghina. Karena itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:

{وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ}

dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombongkan diri. (Al-Munafiqun: 5)

Kemudian mereka diberi pembalasan atas sikapnya itu. Maka Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:

{سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ}

Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Al-Munafiqun: 6)

Sama halnya dengan apa yang disebutkan di dalam surat At-Taubah yang telah diterangkan jauh sebelum ini dan juga telah disebutkan pula padanya hadis-hadis yang diriwayatkan mengenainya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar Al-Adani yang mengatakan bahwa Sufyan telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mereka membuang muka mereka. (Al-Munafiqun: 5) Ibnu Abu Umar mengatakan bahwa Sufyan memalingkan mukanya ke arah kanan seraya melirikkan pandangan matanya dengan pandangan yang sinis, lalu berkata bahwa seperti inilah sikap mereka.

Telah disebutkan dari bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, bahwa konteks semua ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, seperti yang akan kami terangkan berikut ini.

Muhammad ibnu Ishaq telah mengatakan di dalam kitab As-Sirah-nya, bahwa ketika Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) tiba di Madinah sekembalinya dari Perang Uhud. Sedangkan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, menurut keterangan yang kuperoleh dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, merupakan seorang yang mempunyai kedudukan di kalangan kaumnya. Setiap orang mengakui kedudukannya yang terhormat; dia dihormati di kalangan kaumnya. ApabilaNabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) duduk dalam khotbahnya di hari Jumat, maka Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul berdiri, lalu mengatakan, “Hai manusia, ini adalah utusan Allah berada di antara kalian, Allah telah memuliakan kalian dengan melaluinya dan menjadikan kalian berjaya karenanya. Untuk itu maka tolonglah dia, dukunglah dia, dan tunduk patuhlah kalian kepadanya.” Setelah itu ia duduk kembali.

Ketika dia melakukan apa yang dilakukannya dalam Perang Uhud, yakni dia kembali ke Madinah dengan sepertiga pasukan, lalu pasukan kaum muslim kembali, maka berdirilah ia dan melakukan kebiasaan yang sebelumnya. Maka kaum muslim memegangi bajunya dari semua sisinya, dan mereka mengatakan, “Duduklah, hai musuh Allah, kamu tidak pantas melakukan hal ini setelah apa yang engkau lakukan dalam Perang Uhud.” Lalu ia keluar dengan melangkahi leher banyak orang seraya berkata, “Demi Allah, seakan-akan aku mengatakan ucapan yang tidak pantas, padahal aku berdiri untuk memperkuat urusannya.”

Di dekat pintu masjid ia bersua dengan sejumlah orang Ansar. Mereka mengatakan, “Celakalah kamu, mengapa kamu ini?” Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul menjawab, “Aku berdiri untuk mendukung urusannya, lalu sejumlah orang dari sahabatnya menarikku dan bersikap kasar terhadapku, seakan-akan aku mengatakan hal yang tidak pantas, padahal sebenarnya aku bermaksud untuk mendukungnya.” Mereka berkata, “Celakalah kamu ini, sekarang kembalilah kamu kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., beliau akan memohonkan ampunan bagimu.” Ibnu Salul menjawab, “Demi Allah, aku tidak ingin dia memohonkan ampunan bagiku.”

Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul. Demikian itu karena ada seorang pemuda dari kalangan kerabatnya melapor kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan menceritakan kepada beliau tentang kata-kata yang dikeluarkan oleh Ibnu Salul mengenai diri Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., yakni mencaci maki beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) Maka Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) memanggilnya, tetapi ternyata dia bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa dirinya tidak mengatakannya dan berlepas diri dari hal tersebut. Akhirnya orang-orang Ansar mendatangi pemuda tersebut dan mencacinya serta mengisolirnya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya mengenai peristiwa ini, sebagaimana yang kalian dengar. Kemudian dikatakan kepada musuh Allah itu, “Sebaiknya kamu datang menghadap kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).,” tetapi dia memalingkan mukanya, dengan maksud bahwa dia tidak melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.

 

Tinggalkan Balasan

Search