Mendoakan Orang-orang Kafir

Mendoakan Orang-orang Kafir
*) Oleh : Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ}

Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. (Al-Munafiqun: 4)

Bahwa mereka adalah orang-orang yang berpenampilan sangat baik.

Pendapat ini telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Nasai melalui hadis Zuhair.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula, begitu juga Imam Tirmidzi melalui hadis Israil, keduanya dari Abu Ishaq alias Amr ibnu Abdullah As-Subai’i Al-Hamdani Al-Kufi, dari Zaid dengan sanad yang sama.

Jalur lain dari Zaid. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari As-Saddi, dari Abu Sa’d Al-Azdi, bahwa telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa kami ikut bersama Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam suatu peperangan. Bersama kami terdapat sejumlah orang Arab Badui, kami berebutan mengambil air dari mata air, dan orang-orang Badui itu mendahului kami menuju air mata air tersebut. Salah seorang dari Arab Badui itu mendahului teman-temannya untuk membuat kolam dan memenuhinya dengan air, serta menambak sekeliling kolam dengan batu, lalu memasang kuda-kuda untuk tempat timba di atasnya sambil menunggu kedatangan teman-temannya. Kemudian datanglah seorang lelaki dari kalangan Ansar ke tempat lelaki Badui itu, dan orang Ansar itu langsung menundukkan tali kendali unta kendaraannya dengan maksud agar untanya dapat minum dari air kolam tersebut. Akan tetapi, lelaki Badui itu menolaknya. Maka orang Ansar itu merasa jengkel, lalu ia membedah salah satu batu penahan kolam itu hingga airnya mengalir ke luar. Maka orang Badui itu mengangkat batang kayu miliknya dan memukulkannya ke kepala orang Ansar itu hingga membuatnya berdarah dan luka. Kemudian lelaki Ansar itu mendatangi Abdulllah ibnu Ubay dan menceritakan hal tersebut kepadanya, sedangkan dia adalah salah seorang dari teman Abdullah ibnu Ubay. Maka Abdullah ibnu Ubay marah dan berkata, “Janganlah kamu membelanjakan hartamu kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) supaya mereka bubar meninggalkannya,”

Yang dia maksudkan adalah orang-orang Badui yang membantu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Merekalah yang menyediakan makanan buat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Abdullah ibnu Ubay berkata kepada teman-temannya, bahwa apabila mereka bubar dari sisi Rasulullah, maka datanglah kalian kepada Muhammad dengan membawa makanan, agar dia dan sahabat-sahabatnya makan. Kemudian Abdullah ibnu Ubay mengatakan pula, bahwa sesungguhnya jika kamu kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya. Zaid ibnu Arqam mengatakan bahwa saat itu ia membonceng pamannya. Dan ia mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Ubay kepada teman-temannya itu, lalu ia menceritakan hal itu kepada pamannya.

Maka pamannya berangkat dan menceritakan hal itu kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam)., lalu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) memanggil Abdullah ibnu Ubay, tetapi Abdullah ibnu Ubay mengingkari perkataannya dan bersumpah bahwa dia tidak mengatakannya. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) membenarkan dia dan mendustakan aku. Pamanku datang, lalu berkata kepadaku, “Tiada lain yang kamu hasilkan selain kemurkaan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Beliau mendustakanmu dan juga kaum muslim.” Hal itu membuat diriku merasa berduka cita yang sangat mendalam dan belum pernah kurasakan hal sesedih itu. Dan ketika aku sedang berjalan bersama Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam suatu perjalanan, sedangkan kepalaku masih pusing disebabkan kesusahan itu, tiba-tiba Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) datang mendekatiku dan menjewer telingaku seraya tersenyum memandang wajahku.

Hal tersebut membuat diriku meledak gembira, dan ingin rasanya kebahagiaan ini kekal dalam kehidupan duniaku. Kemudian sahabat Abu Bakar menyusulku dan mengatakan, “Apakah yang dikatakan oleh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) kepadamu?” Aku menjawab, “Beliau tidak mengatakan apa pun kepadaku, hanya beliau menjewer telingaku dan tersenyum seraya memandang wajahku.” Maka Abu Bakar berkata, “Bergembiralah kamu.” Lalu Umar menyusulku dan menanyaiku, maka kukatakan kepadanya seperti apa yang kukatakan kepada Abu Bakar. Dan pada pagi harinya Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) membacakan kepada kami surat Al-Munafiqun.

Imam Tirmidzi mengetengahkan hadis ini secara munfarid, dan ia mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafrz Imam Baihaqi, dari Al-Hakim, dari Ubaidillah ibnu Musa dengan sanad yang sama. Tetapi dalam riwayatnya disebutkan sesudah kata-kata Zaid ibnu Arqam, bahwa lalu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) membacakan surat Al-Munafiqun kepada kami, yaitu firman-Nya: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” (Al-Munafiqun: 1) sampai dengan firman-Nya: Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar), “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).”(Al-Munafiqun: 7) hingga firman-Nya: benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya. (Al-Munafiqun: 8)

Abdullah ibnu Lahi’ah telah meriwayatkan dari Abul Aswad ibnu Urwah ibnuz Zubair di dalam kitab Al-Magazi, dan juga Musa ibnu Uqbah di dalam kitab Magazi-nya kisah ini dengan konteks yang sama. Tetapi keduanya menceritakan bahwa yang menyampaikan ucapan Abdullah ibnu Ubay kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah Aus ibnu Aqram dari kalangan Banil Haris ibnul Khazraj. Barangkali dia adalah penyampai yang lain, atau kekeliruan dari pihak pendengar (hadis); hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Aziz Al-Aili, telah menceritakan kepadaku Salam, telah menceritakan kepadaku Aqil, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muslim, bahwa Urwah ibnuz Zubair dan Umar ibnu Sabit Al-Ansari pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) berangkat ke medan perang Al-Muraisi’, yang dalam perang itu Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) menghancurkan berhala Manat yang terletak di antara Musyallal dan pantai. Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) mengirimkan Khalid ibnul Walid, lalu Khalid menghancurkan berhala Manat tersebut.

Dalam perang tersebut yang Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) ikut di dalamnya, terjadi suatu perselisihan antara dua orang; salah seorangnya dari kalangan Muhajirin, sedangkan yang lainnya dari Bani Bahzyang merupakan teman sepakta orang-orang Ansar. Ternyata dalam perkelahian itu orang dari Muhajirin dapat mengalahkan orang dari Bani Bahz, maka lelaki yang dari Bani Bahz mengatakan, “Hai orang-orang Ansar, tolonglah aku,” maka beberapa orang dari kalangan Ansar membantunya. Akhirnya lelaki Muhajirin itu berkata pula, “Hai orang-orang Muhajirin, tolonglah aku,” maka beberapa orang Muhajirin membantunya, hingga terjadilah perang kecil di antara sekelompok orang-orang Ansar dan orang-orang Muhajirin. Tetapi pada akhirnya mereka dapat dipisahkan dan bisa dilerai.

Tinggalkan Balasan

Search