Ramadan adalah madrasah rohani yang datang setiap tahun untuk menempa jiwa orang-orang beriman. Siang dan malam ditempa dengan berbagai amal ibadah seperti puasa, tadarus Al Qur`an, salat Tarawih, dzikir, sedekah, dan lain sebagainya. Semua amal ibadah tersebut dilakukan dalam kerangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tujuan lain dari ibadah selama bulan Ramadan adalah sebagai sarana membersihkan jiwa/rohani. Dengan jiwa yang bersih itulah, diharapkan dapat menjadi jembatan menuju derajat taqwa di sisis Allah SWT.
Namun, seiring berlalunya bulan suci tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar dalam benak setiap Muslim: “Apakah puasa saya diterima oleh Allah SWT?” Pertanyaan seperti ini merupakan refleksi diri atas ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan.
Meskipun diterima atau tidaknya amal adalah hak prerogatif Allah (hak murni Allah), namun para ulama salaf telah merumuskan indikator-indikator berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah yang dapat menjadi kompas bagi kita untuk menilai sejauh mana keberhasilan ibadah kita.
Sebagaimana ungkapan Ibnu Rajab Al-Hanbali, “Tanda diterimanya kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”
Berdasarkan kajian Al Qur’an dan sunnah, beberapa indikator diterimanya amal ibadah puasa Ramadhan dapat dipetakan sebagai berikut.
- Terbentuknya Karakter Takwa
Tujuan utama puasa yang ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an adalah agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Jika setelah Ramadan seseorang menjadi lebih takut untuk bermaksiat dan lebih semangat dalam beribadah, itu adalah sinyal kuat diterimanya puasa.
Allah SWT menyatakan dalam QS Al-Baqarah: 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Indikator takwa di sini bukan sekadar menahan lapar, melainkan adanya perubahan perilaku yang lebih terjaga (wara’) dari hal-hal yang syubhat maupun haram.
- Kontinu dalam beramal
Tanda diterimanya amal shalih adalah ketika amal tersebut melahirkan amal saleh berikutnya. Jika salat berjamaah, tilawah Al-Qur’an, dan sedekah yang rutin dilakukan di bulan Ramadan tetap berlanjut di bulan Syawal dan seterusnya, maka itu adalah tanda keberhasilan.
Rasulullah SAW bersabda mengenai amalan yang dicintai Allah:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (rutin), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seseorang yang “lulus” Ramadan tidak akan memarkir Al-Qur’annya di rak buku hingga Ramadan tahun depan, melainkan menjadikannya pedoman hidup harian.
- Akhlak menjadi lebih baik
Puasa yang diterima akan membekas pada lisan dan sikap. Orang yang puasanya mabrur akan lebih mampu menahan amarah, menjauhi ghibah (gunjingan), dan lebih peduli sesama. Terkait hal ini, Rasulullah SAW memperingatkan tentang puasa yang sia-sia:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukan kemaksiatan, maka Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).
Jika setelah Ramadhan seseorang masih gemar berbohong atau menyakiti hati orang lain, maka esensi puasanya perlu dipertanyakan.
- Merasakan nikmatnya beribadah
Indikator batiniah dari diterimanya puasa adalah munculnya rasa manis dalam iman (halawatul iman). Ibadah tidak lagi dirasakan sebagai beban (taklif), melainkan sebagai kebutuhan dan penyejuk hati. Rasulallah SAW bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ… أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
Artinya: “Ada tiga perkara yang jika ada pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: (salah satunya) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya…” (HR. Bukhari).
- Munculnya rasa khauf dan raja`
Para sahabat Nabi SAW setelah Ramadhan berakhir, mereka tidak merasa jumawa atau yakin pasti masuk surga. Sebaliknya, mereka berada di antara rasa takut amalannya ditolak dan harapan agar amalannya diterima. Allah menyifati hamba-hamba-Nya yang bergegas dalam kebaikan:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Artinya: “Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah/amal), dengan hati yang penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Mu’minun: 60).
- Diiringi dengan puasa syawal
Salah satu tanda syukur dan diterimanya puasa Ramadhan adalah kemauan untuk menyempurnakannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Ini menunjukkan bahwa hamba tersebut tidak merasa “bosan” beribadah kepada Allah. Rasulallah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah-olah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak diukur dari seberapa meriah perayaan Idulfitri, melainkan dari seberapa besar transformasi spiritual yang terjadi pada diri seorang Muslim. Secara ringkas, indikator diterimanya puasa dapat dilihat pada tiga dimensi:
- Hubungan dengan Allah: Semakin taat dan merasa diawasi (muraqabah).
- Hubungan dengan diri sendiri: Semakin disiplin dan mampu mengendalikan hawa nafsu.
- Hubungan dengan sesama: Semakin dermawan dan memiliki akhlak yang mulia.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang puasanya diterima, dosanya diampuni, dan derajat takwanya ditingkatkan oleh Allah SWT. Semoga!
