Bulan suci Ramadan segera tiba. Bagi umat Muslim, kehadirannya selalu dinantikan dengan kerinduan. Namun, bagi orang tua yang memiliki anak usia dini, Ramadan bukan sekadar tentang meningkatkan intensitas ibadah pribadi, melainkan tentang bagaimana menghadirkan atmosfer kesalehan yang mampu diserap oleh indra dan jiwa anak.
Parenting di bulan Ramadan adalah tentang strategi mengenalkan cinta kepada Allah melalui cara-cara yang menyenangkan, hangat, dan membekas hingga mereka dewasa.
Ramadan sebagai Madrasah Pertama bagi Anak
Pendidikan anak dalam Islam dimulai dari pembiasaan. Anak-anak adalah peniru yang ulung (excellent imitators). Sebelum mereka mampu memahami konsep abstrak tentang pahala dan dosa, mereka terlebih dahulu merasakan energi kegembiraan orang tuanya saat menyambut seruan adzan maghrib atau kehangatan saat sahur bersama. Inilah saat yang tepat untuk menjadikan rumah sebagai madrasah pertama.
Tujuan utama parenting di bulan Ramadan bersama anak tercinta bukanlah memaksa mereka sanggup berpuasa penuh hingga Maghrib, melainkan menumbuhkan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap identitas mereka sebagai Muslim. Kita ingin anak-anak berkata, “Aku senang sekali bulan Ramadhan tiba!” daripada mereka merasa, “Ramadhan itu menyiksa karena membuatku lapar.”
Setiap langkah pendidikan yang kita berikan kepada anak memiliki dimensi ukhrawi. Allah SWT memberikan mandat yang sangat kuat kepada orang tua dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Ayat ini menjadi dasar utama parenting islami. Menjaga keluarga dari api neraka bukan berarti hanya memberi makan dan pakaian, tetapi membekali mereka dengan ilmu dan amal saleh.
Ramadhan adalah momentum tahunan yang paling efektif untuk melaksanakan perintah ini. Dengan mengajak anak menyambut Ramadan, kita sedang membangun “benteng” di hati mereka agar mereka terbiasa dalam ketaatan, yang kelak akan melindungi mereka di akhirat. Pendidikan di waktu kecil diibaratkan seperti mengukir di atas batu; ia sulit dihapus dan akan membekas selamanya.
Meskipun anak yang belum baligh tidak memiliki kewajiban syariat untuk berpuasa, para ulama sangat menekankan pentingnya tathwi’ atau pembiasaan.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, seorang ulama besar dalam mazhab Hanbali, menjelaskan dalam kitab Al-Mughni bahwa anak-anak sebaiknya mulai dilatih berpuasa sesuai dengan kemampuan fisik mereka. Tujuannya adalah agar ketika mereka mencapai usia baligh kelak, mereka tidak merasa berat atau kaget dengan kewajiban tersebut.
Selain itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya memberikan lingkungan yang positif bagi anak. Beliau berpendapat bahwa anak-anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Jika mereka dibiasakan dengan kebaikan, mereka akan tumbuh dalam kebaikan tersebut dan orang tuanya akan mendapatkan bagian dari pahalanya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan pengabaian, mereka akan menderita dan orang tuanya turut menanggung beban tanggung jawabnya.
Penjelasan dari pendapat ulama ini memberikan arahan bahwa parenting Ramadhan haruslah bersifat edukatif-persuasif. Kita tidak membebani, tapi kita mengajak. Kita tidak menghukum saat mereka tidak kuat, tapi kita memberikan apresiasi yang besar saat mereka mencoba belajar.
Strategi Praktis Menyambut Ramadan Bersama Anak
Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh orangtua di rumah, agar Ramadhan menjadi menyenangkan bagi anak-anak, diantaranya:
- Dekorasi Rumah Bertema Ramadan
Anak kecil sangat visual. Mengajak mereka membuat dekorasi sederhana seperti lentera kertas, kalender hitung mundur Ramadhan, atau poster “Ahlan wa Sahlan Ya Ramadhan” akan membangun antusiasme. Ini memberikan sinyal bahwa bulan ini berbeda dan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya.
- Storytelling Kisah-Kisah Inspiratif
Waktu sebelum berbuka atau sebelum tidur bisa diisi dengan membacakan kisah Nabi Muhammad SAW, para sahabat, atau keajaiban ciptaan Allah. Gunakan buku cerita yang berwarna-warni. Tujuannya agar imajinasi anak terisi dengan tokoh-tokoh hebat dalam Islam, bukan sekadar tokoh fiktif dari media digital.
- Libatkan dalam Persiapan Menu Sahur dan Buka
Ajak anak ke dapur. Membiarkan mereka membantu mencuci buah atau menata meja makan akan membuat mereka merasa memiliki peran penting. Hal ini meningkatkan rasa percaya diri dan kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
- Sedekah Kreatif
Ramadan adalah bulan berbagi. Ajak anak untuk menyisihkan uang sakunya atau memilih pakaian dan mainan yang masih bagus untuk didonasikan. Ajarkan mereka bahwa puasa melatih empati kepada mereka yang sering merasa lapar setiap hari.
Menyambut Ramadan bersama anak tercinta adalah tentang menciptakan kenangan manis yang berbalut ketaatan. Dengan berpijak pada perintah Allah dalam Al-Qur’an dan bimbingan para ulama, kita mengemban amanah untuk membentuk karakter generasi masa depan.
Kunci dari keberhasilan parenting ini adalah keteladanan. Anak tidak akan mendengarkan seribu kata nasihat kita jika mereka tidak melihat kita tersenyum saat sahur, atau melihat kita begitu khusyuk saat membaca Al-Qur’an. Jadilah cermin kebaikan bagi mereka. Jika orang tua menyambut Ramadhan dengan penuh cinta, maka anak-anak akan tumbuh dengan rasa cinta yang sama terhadap agama ini.
Semoga Ramadan tahun ini menjadi titik balik bagi keluarga kita untuk menjadi keluarga yang lebih bertakwa, harmonis, dan senantiasa berada dalam lindungan-Nya. (*)
