Untuk meneropong perbedaan antara shiroth, thoriq, dan sabil, kita perlu memahami bahwa ketiganya berasal dari bahasa Arab dan sering diterjemahkan sebagai “jalan.” Namun, dalam Al-Qur’an dan tafsir klasik maupun kontemporer, masing-masing memiliki nuansa makna dan konteks yang berbeda. Berikut penjelasan mendalamnya:
1. Shiroth (صراط) – Jalan Lurus dan Terang
– Makna utama: Jalan yang lurus, jelas, dan menyeluruh.
– Konteks Qur’ani: Sering muncul dalam bentuk shiroth al-mustaqim (jalan yang lurus), seperti dalam Surah Al-Fatihah.
– Makna tafsir: Merujuk pada jalan hidup yang komprehensif menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, mencakup aqidah, akhlak, hukum, dan adab.
– Ciri khas: Tidak ada keraguan di dalamnya, jalan yang sudah ditetapkan oleh Allah sebagai petunjuk.
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang paling dikenal menjelaskan tentang shiroth dan tafsirnya:
Surah Al-Fatihah ayat 6–7
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ
Artinya: Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.
Tafsir Makna Shiroth al-Mustaqim
– Shiroth secara bahasa berarti jalan yang jelas dan lurus.
– Al-Mustaqim berarti tegak, tidak bengkok, tidak menyimpang.
Menurut para mufassir:
– Ibnu Katsir: Shiroth al-mustaqim adalah jalan yang mengantarkan kepada ridha Allah dan surga-Nya, yaitu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
– Al-Qurthubi: Jalan hidup yang mencakup ilmu, amal, dan akhlak yang benar.
– Fakhruddin Ar-Razi: Jalan yang mencakup tiga unsur: ilmu (mengenal kebenaran), amal (mengikuti kebenaran), dan niat (ikhlas dalam mengikuti kebenaran).
QS. Maryam 71 – 72
وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۚ ثُمَّ نُنَجِّى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّنَذَرُ الظّٰلِمِيْنَ فِيْهَا جِثِيًّا
Artinya: Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak melewatinya (sirat di atas neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan. Selanjutnya, Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalamnya (neraka) dalam keadaan tersungkur.
Tafsir:
– Sebagian ulama menafsirkan “mendatangi neraka” sebagai melintasi jembatan (shirath) di atas neraka Jahannam.
– Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Qatadah: Ayat ini menunjukkan bahwa semua manusia akan melewati shirath, dan hanya yang bertakwa yang akan selamat.
2. Thoriq (طريق) – Jalur atau Rute
– Makna utama: Jalur atau rute yang bisa dilalui, bisa sempit atau luas.
– Konteks Qur’ani: Digunakan lebih fleksibel, kadang merujuk pada jalan menuju surga, kadang ke neraka (misalnya thoriq jahannam).
– Makna tafsir: Bisa berarti posisi, cara, atau metode tertentu dalam menjalani kehidupan.
– Ciri khas: Lebih teknis dan spesifik, bisa bermakna jalan fisik atau simbolik
Berikut adalah ayat Al-Qur’an yang menggunakan kata ṭarīq (طَرِيق) dan penjelasan tafsirnya:
QS. Al-Hijr: 14
وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَظَلُّوْا فِيْهِ يَعْرُجُوْنَۙ
Artinya: Kalau Kami bukakan (salah satu) pintu langit untuk mereka, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya,
Makna dan Tafsir:
– Kata ṭarīq di sini bermakna “jalan” atau “rute” menuju langit.
– Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menggambarkan sikap keras kepala orang kafir: meskipun mereka melihat langsung jalan ke langit, mereka tetap tidak akan beriman.
– Thoriq dalam konteks ini adalah jalur transenden, bukan sekadar jalan fisik
QS. Al-Jinn: 11
وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ
Artinya: Sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda.
Makna dan Tafsir:
– Thoriq di sini bermakna jalan hidup atau metode.
– Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa jin pun memiliki pilihan jalan: ada yang mengikuti jalan petunjuk (Islam), ada yang menyimpang.
– Ini memperkuat makna bahwa thoriq bisa bermakna jalan yang benar atau sesat, tergantung pilihan.
3. Sabil (سبيل) – Jalan Pilihan Menuju Tujuan
– Makna utama: Jalan atau cara menuju sesuatu, sering dikaitkan dengan perjuangan di jalan Allah (fi sabilillah).
– Konteks Qur’ani: Muncul sangat sering, baik dalam bentuk tunggal (sabil) maupun jamak (subul), dan bisa bermakna jalan kebenaran maupun kebatilan.
– Makna tafsir: Jalan yang masih memberi ruang pilihan bagi manusia, bisa benar atau salah. Sabil yang benar akan bermuara pada shiroth.
– Ciri khas: Jalan-jalan kecil atau alternatif yang bisa dipilih, belum tentu lurus.
Berikut beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sabil (سبيل) dan makna tafsirnya:
QS. At-Taubah: 60
۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
Artinya: Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
.
Tafsir:
– Fī sabīlillāh di sini merujuk pada segala bentuk perjuangan di jalan Allah, termasuk jihad, dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial.
– Menurut Tafsir Al-Misbah dan Ibnu Katsir, ini mencakup aktivitas yang bertujuan menegakkan agama dan kemaslahatan umat.
QS. Al-Baqoroh: 190
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
Artinya: Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Tafsir:
– Ayat ini menegaskan bahwa perang dalam Islam bukan untuk ambisi duniawi, tapi untuk menegakkan keadilan dan melindungi hak.
– Sabil di sini adalah jalan perjuangan yang terikat etika dan tujuan ilahiah.
QS. Al-Mujadilah: 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Kaitannya dengan Sabil:
Meskipun kata sabil tidak muncul langsung, ayat ini sering dikaitkan dengan sabil ilmu, jalan menuntut ilmu sebagai bagian dari perjuangan di jalan Allah. (*)
