Suasana pagi yang sejuk di Kota Batu seolah semakin khidmat saat ratusan jamaah memadati Masjid At-Taqwa, Sisir, Kecamatan Batu, pada Ahad (18/10/2026) pagi.
Mereka hadir untuk mengikuti Kajian Ahad Pagi yang kali ini menghadirkan Ustaz H. M. Arief Hidayat, Lc., M.H. Dengan tema yang sangat relevan di era modern, “Anak Super Cerdas.”
Dalam ceramahnya yang berlangsung khidmat, Ust. Arief menguraikan definisi kecerdasan dari kacamata Islam yang seringkali luput dari perhatian masyarakat modern. Ia menegaskan bahwa kecerdasan seorang anak dalam perspektif kenabian tidak semata-mata diukur dari tingginya angka IQ, prestasi akademik semata, atau kemampuan menguasai teknologi terkini.
“Kecerdasan sejati seorang anak tidak diukur dari seberapa banyak ia menghafal rumus-rumus dunia, tetapi dari seberapa dalam ia memahami adab kepada Allah dan Rasul-Nya. Ilmu tanpa adab bagai api tanpa kayu bakar; ia akan cepat padam atau justru membakar pemiliknya,” tegas Ust. Arief.
Ustaz yang dikenal dengan gaya penyampaian lugas namun menyentuh hati ini kemudian mengajak jamaah menelusuri jejak para sahabat muda di zaman Rasulullah saw. Ia mencontohkan sosok Abdullah bin Abbas, sepupu Nabi yang sejak kecil telah didoakan langsung oleh Baginda Nabi: “Ya Allah, pahamkanlah dia dalam urusan agama dan ajarkanlah dia takwil.”
Perpaduan antara doa seorang Nabi yang tulus dan kehausan ilmu sang anak, melahirkan seorang mufasir cilik yang kelak dijuluki “Hibrul Ummah” (Tinta Umat).
Contoh lain yang diangkat adalah Usamah bin Zaid, yang dipercaya memimpin pasukan yang di dalamnya terdapat para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar di usia yang sangat belia. Hal ini, menurut Ustaz Arief, membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih kecerdasan, kepemimpinan, dan kepercayaan, asalkan fondasi tauhid dan akhlak telah tertanam dengan kokoh.
“Nabi Muhammad SAW tidak pernah memandang remeh usia muda. Beliau justru mencetak generasi super cerdas yang berani, santun, dan berwawasan luas. Rahasianya sederhana namun mendalam: pendidikan tauhid yang ditanamkan sejak dini, bukan sekadar hafalan tekstual, tetapi pemahaman yang meresap dan mengubah jiwa,” ujarnya sambil mengutip hadis-hadis pilihan.
Mendidik Anak di Era Digital
Menyambung poin tersebut, Ustaz Arief juga menyoroti peran krusial orang tua di tengah gempuran era digital. Ia mengakui bahwa tantangan mendidik anak saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan zaman dahulu. Gawai dan algoritma media sosial sering kali menjadi pesaing berat dalam merebut perhatian dan membentuk karakter anak.
Namun, ia menekankan bahwa prinsip dasar pendidikan Islam tetap tidak berubah: keteladanan (uswah hasanah), doa yang tak putus, dan penciptaan lingkungan rumah yang dipenuhi zikir serta diskusi ilmu.
“Jangan hanya menuntut anak menjadi cerdas, tetapi tanyakan pada diri kita sendiri: apakah kita sudah menjadi orang tua yang cerdas dalam mendidik? Rumah harus kembali menjadi madrasah pertama, di mana anak-anak belajar bahwa kecerdasan tertinggi adalah mengenal Tuhannya,” tambah beliau dengan nada penuh harap.
Di akhir ceramah, suasana semakin haru saat Ustadz Arief memimpin doa bersama untuk keberkahan dan kebaikan anak-anak kaum muslimin. Para jamaah tampak khusyuk.
Pesan tentang “Anak Super Cerdas” ala Nabi ini diharapkan dapat menjadi renungan dan panduan praktis bagi setiap keluarga Muslim untuk kembali merajut pendidikan dengan benang-benang iman, ilmu, dan adab. || chusnun
