Menghilangkan Eksistensi Tuhan dan Kerusakan Alam

Menghilangkan Eksistensi Tuhan dan Kerusakan Alam
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Ketika manusia menghilangkan eksistensi Tuhan dalam dirinya, maka terjadi kebebasan melakukan apa saja yang dianggap menguntungkan dirinya. Ketika eksistensi Tuhan dihilangkan, maka tidak lagi ada pengawasan dan pertanggungjawaban. Di sinilah seseorang akan melakukan apa saja. Sebagai pemimpin, dia akan melakukan eksploitasi alam atau membiarkan ketika ada pihak lain yang merusak bumi. Akar terjadi kerusakan di muka bumi ini.

Dengan kata lain, menghadirkan eksistensi Tuhan, dengan mengokohkan tauhid, bukan hanya menghindarkan manusia dari merusak tetapi justru terdorong memperbaiki alam semesta.

Kerusakan Alam  

Kerusakan alam yang semakin massif, mulai dari deforestasi, pencemaran laut, krisis iklim, hingga bencana ekologis, sering dipahami sebagai persoalan teknis, seperti lemahnya regulasi, buruknya tata kelola, atau rendahnya kesadaran lingkungan. Namun, pendekatan ini kerap gagal menyentuh akar terdalam persoalan. Di balik eksploitasi alam yang membabi buta, terdapat krisis yang lebih mendasar, yakni hilangnya kesadaran manusia terhadap eksistensi Tuhan.

Ketika Tuhan disingkirkan dari cara berpikir dan bertindak manusia, maka lenyap pula rasa pengawasan moral dan pertanggungjawaban akhir. Dunia menjadi satu-satunya orientasi hidup, dan keuntungan jangka pendek mengalahkan tanggung jawab jangka panjang terhadap alam dan sesama. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa kerusakan ekologis bukan sekadar fenomena alamiah, melainkan konsekuensi moral dari perbuatan manusia. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum :  41)

Ketika manusia tidak lagi meyakini adanya Tuhan dan hari akhir, maka ukuran benar dan salah direduksi menjadi untung dan rugi. Dalam logika ini, eksploitasi alam dianggap sah selama menguntungkan secara ekonomi. Data global menunjukkan bahwa sebagian besar kerusakan lingkungan justru terjadi di sektor yang dikendalikan oleh keserakahan manusia, sebagaimana bis akita lihat. Pertambangan ilegal, pembalakan liar, reklamasi pesisir tanpa etika, dan industri ekstraktif yang mengabaikan keberlanjutan merupakan contoh realistis.

Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, praktik korupsi menjadi pelumas utama kejahatan ekologis. Dana negara digerogoti, hukum dibeli, dan alam dijual murah demi kepentingan segelintir elit. Hilangnya iman kepada akhirat juga melahirkan kebebasan moral yang destruktif. Ketika tidak ada keyakinan akan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Perzinaan, perjudian, dan korupsi menjadi praktik yang dianggap wajar selama tidak tertangkap hukum. Uang negara dihabiskan untuk kepuasan pribadi, sementara kerusakan sosial dan ekologis diwariskan kepada generasi berikutnya. Semua itu berakar pada hilngnya eksistensi Tuhan dari pikiran mereka. Al-Qur’an mengingatkan hal ini sebagaimana firman-Nya :

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَا نْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُ ۗ كَا نَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang menyekutukan (Allah).” (QS. Ar-Rum : 42)

Menghadirkan Tuhan

Sebaliknya, menghadirkan eksistensi Tuhan dalam kesadaran manusia melahirkan etika hidup yang bertanggung jawab. Keyakinan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat menjadikan manusia berhati-hati dalam memperlakukan alam. Dalam perspektif tauhid, manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah yang diberi amanah. Kesadaran ini mendorong perilaku menjaga, bukan merusak.

Banyak contoh individu dan komunitas yang menjaga lingkungan karena dorongan iman. Petani yang menolak merusak tanah demi hasil instan, pemimpin yang menolak korupsi karena takut kepada Allah, hingga masyarakat adat religius yang menjaga hutan sebagai titipan Tuhan. Mereka memahami bahwa kehidupan dunia bersifat sementara dan tidak boleh melalaikan tujuan akhirat. Mereka menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sehingga tak boleh manusia terperdaya. Hal ini ditegaskan A-Qur’an sebagaimana firtman-Nya :

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu.”
(QS. Luqman: 33)

Tauhid yang kokoh menjadi fondasi etika ekologis. Nasihat Luqman kepada anaknya menegaskan bahwa syirik, termasuk menyekutukan Allah dengan harta dan kekuasaan, merupakan kezaliman besar. hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَاِ ذْ قَا لَ لُقْمٰنُ لِا بْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَـظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman :  13)

Kezaliman ini tidak hanya merusak hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan alam semesta. Kerusakan alam bukan sekadar kegagalan teknologi atau kebijakan, melainkan krisis spiritual. Ketika eksistensi Tuhan dihapus dari kesadaran manusia, maka batas moral runtuh dan eksploitasi menjadi tak terkendali. Sebaliknya, menghadirkan Tuhan melalui pengokohan tauhid melahirkan manusia yang bertanggung jawab, jujur, dan peduli terhadap keberlanjutan alam. Oleh karena itu, solusi ekologis yang sejati tidak cukup dengan regulasi dan sanksi, tetapi memerlukan revitalisasi iman. Hanya dengan kesadaran akan Tuhan dan hari akhir, manusia terdorong bukan sekadar untuk tidak merusak, tetapi untuk memperbaiki dan merawat alam semesta sebagai amanah Ilahi.

Surabaya, 28 Januari 2026

 

 

Tinggalkan Balasan

Search