”Death does not wait for your repentance, but repentance is waiting for your death”
“(Kematian tidak menunggu taubatmu, namun taubatlah yang sedang menunggu kematianmu)”
Setiap insan sadar bahwa maut adalah kepastian. Namun, ironisnya, banyak yang terbuai seolah hidup selamanya di dunia. Islam menganjurkan zikrul maut bukan untuk menyebar ketakutan, melainkan sebagai penawar bagi hati yang lalai agar lebih bijak dalam beramal. Allah Swt. berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ
Artinya:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…..” (Qs. Ali ‘Imran: 185)
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah pengingat bagi seluruh makhluk agar tidak terpedaya oleh kesenangan dunia yang semu. Sejalan dengan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Artinya:
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.” (HR. An Nasai No.1824, Tirmidzi No. 2307 dan Ibnu Majah No. 4258 dan Ahmad 2: 292.)
Hadis ini adalah perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk sering merenungkan kematian guna melunakkan hati, menjauhkan diri dari kelalaian, dan memotivasi peningkatan amal saleh. Mengingat kematian membantu manusia tidak tamak dunia, bersikap qanaah, dan segera bertobat.
Jadikan pengingat kematian sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Kematian adalah gerbang, dan amal adalah kuncinya.
Semoga bermanfaat.
