Menguji Empati Aghniyā’ dalam Membaca Fakir yang Menjaga Harga Diri

Menguji Empati Aghniyā’ dalam Membaca Fakir yang Menjaga Harga Diri
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fatah Sidoarjo dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Kemiskinan adalah kenyataan sosial yang selalu hadir sepanjang sejarah manusia. Namun, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ memberikan perspektif yang dalam tentang siapa yang sebenarnya layak disebut miskin. Banyak orang menyangka bahwa miskin itu identik dengan mereka yang meminta-minta di jalan, mengetuk pintu, atau mengulurkan tangan untuk sepotong roti.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa hakikat miskin tidak selalu tampak di permukaan. Ada orang-orang yang menjaga harga diri, enggan mengeluh, dan menolak untuk meminta, padahal kebutuhan mereka begitu mendesak.

Golongan inilah yang disebut Allah dalam Al-Qur’an sebagai orang-orang fakir yang “dikenal dari wajahnya, karena mereka tidak meminta-minta kepada manusia dengan mendesak.” Di sinilah pentingnya kepekaan sosial kaum aghniyā’, agar mampu melihat mereka yang tersembunyi di balik kesabaran dan kehormatannya.

Fakir dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 273:

﴿لِلۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٞ﴾

“(Sedekah itu diberikan) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak mampu bepergian di bumi (untuk berdagang). Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena menjaga diri (dari meminta-minta). Kamu mengenal mereka dari tanda-tandanya; mereka tidak meminta-minta kepada manusia secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 273).

Ayat ini menggambarkan wajah kaum fakir yang sesungguhnya. Mereka hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki kehormatan diri. Justru karena mereka tidak meminta-minta, banyak orang awam mengira mereka berkecukupan. Di sinilah Allah menegaskan: hanya orang yang jeli, yang mau membaca tanda-tanda, mampu memahami kebutuhan mereka.

Hadits Nabi tentang Hakikat Miskin

Rasulullah ﷺ menjelaskan secara gamblang siapa yang layak disebut miskin. Dari Abū Hurairah ra, beliau ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمِسْكِينُ الَّذِي تَرُدُّهُ التَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ، وَلَا اللُّقْمَةُ وَلَا اللُّقْمَتَانِ، وَلَكِنِ الْمِسْكِينُ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ، وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ، وَلَا يَقُومُ فَيَسْأَلُ النَّاسَ

“Bukanlah orang miskin itu yang ditolak dengan sebutir atau dua butir kurma, atau sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin adalah yang tidak memiliki kecukupan untuk menutupi kebutuhannya, tidak ada yang memperhatikannya sehingga diberi sedekah, dan ia tidak bangkit untuk meminta-minta kepada manusia.” (HR. al-Bukhārī no. 1479, Muslim no. 1039).

Hadis ini menegaskan bahwa miskin bukan sekadar keadaan ekonomi, tetapi sikap batin: mereka yang sabar, menjaga kehormatan, dan enggan mengulurkan tangan.

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menyinggung aspek sosial keimanan dengan sangat keras. Dari Ibn ‘Abbās ra, beliau ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Bukanlah seorang mukmin orang yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya.” (HR. al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad, no. 112).

Kedua hadis ini saling melengkapi: satu menjelaskan siapa orang miskin sejati, dan yang lain menguji kadar iman seseorang lewat empati sosialnya.

Menguji Kepekaan Sosial Aghniyā

Di sinilah ujian besar bagi kaum aghniyā’, orang-orang berpunya yang diberi kelapangan rezeki. Harta bukan sekadar untuk ditimbun atau dinikmati sendiri, melainkan amanah yang akan ditanya kelak di hadapan Allah. Nabi ﷺ mengingatkan bahwa di setiap harta ada hak orang lain, hak fakir miskin, meski tidak selalu mereka datang memintanya.

Kaum aghniyā’ dituntut memiliki kepekaan sosial (ass ijtimāī). Dibutuhkan mata yang tajam, hati yang peka, dan jiwa yang lembut untuk mengenali orang-orang yang tidak meminta-minta, tetapi menanggung derita. Terkadang tanda itu tampak dari pakaian yang sederhana, tatapan yang kosong, atau diam panjang dalam sebuah majelis ketika orang lain berbicara tentang rezeki.

Sayangnya, banyak orang hanya menyalurkan bantuan kepada mereka yang terlihat meminta, padahal di balik tembok rumah kecil, ada keluarga yang menahan lapar, malu mengulurkan tangan. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi ﷺ: orang miskin sejati adalah yang tidak dikenal kecuali oleh mereka yang benar-benar peduli.

Penutup dan Kesimpulan

Kemiskinan bukan semata-mata soal harta, tetapi juga persoalan harga diri dan kehormatan. Ada orang miskin yang meminta-minta, dan ada yang menjaga diri dari meminta-minta meski perutnya kosong. Justru golongan terakhir inilah yang sering luput dari perhatian, karena mereka menutup rapat deritanya.

Di titik ini, kaum aghniyā’ diuji. Apakah mereka mampu membaca tanda-tanda halus dari fakir yang menjaga kehormatannya? Apakah mereka sanggup menyalurkan harta tanpa menunggu ada tangan yang meminta? Inilah bentuk empati sejati yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ.

Maka, wajar bila Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa seseorang tidak sempurna imannya bila ia kenyang sementara tetangganya lapar. Dan wajar bila Al-Qur’an memuji orang fakir yang menahan diri. Semua ini adalah panggilan untuk membangun masyarakat yang penuh kepedulian, di mana kekayaan bukan hanya milik pribadi, tetapi menjadi sarana berbagi, penopang kehidupan, dan jembatan menuju ridha Allah ﷻ.

 

Referensi

  • Al-Qur’an al-Karīm, QS. al-Baqarah: 273.
  • Al-Bukhārī, al-Adab al-Mufrad, no. 112.
  • Al-Bukhārī, Shahīh al-Bukhārī, no. 1479.
  • Muslim, Shahīh Muslim, no. 1039.

Tinggalkan Balasan

Search