Menilik Derajat Hadis Doa Buka Puasa: Mana yang Sesuai Sunah?

Menilik Derajat Hadis Doa Buka Puasa: Mana yang Sesuai Sunah?
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Worship is not about which is the most popular in the human ear, but rather which is the most valid according to the scales of the ulama. Make sure the prayers we offer stand on a strong foundation of the Sunnah”
“(Ibadah bukan soal mana yang paling populer di telinga manusia, melainkan mana yang paling sahih menurut timbangan para ulama. Pastikan doa yang kita langitkan berdiri di atas pondasi sunah yang kuat)”

​Momentum berbuka puasa adalah salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Di tengah masyarakat kita, lafal, …..”
اللهم لك صمت و بك أمنت و على رزقك أفطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
Hadis ini telah menjadi doa yang sangat populer dan melekat di ingatan sejak kecil. Namun, sebagai Muslim yang ingin meneladani Nabi Muhammad SAW secara utuh, penting bagi kita untuk meninjau kembali. Bagaimana status kesahihan doa tersebut dalam kitab-kitab hadis?

​Berikut adalah analisis ilmiah mengenai derajat hadis-hadis doa berbuka puasa yang beredar di masyarakat.

1. ​Dikeluarkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2280),

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ الزَّيَّاتُ , ثنا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , ثنا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هَارُونَ بْنِ عَنْتَرَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»
Artinya:
“Ishaq bin Muhammad bin Al-Fadhl Az-Zayyat menuturkan kepadaku, Yusuf bin Musa menuturkan kepadaku, Abdul Malik bin Harun bin ‘Antharah menuturkan kepadaku, dari ayahnya (Harun bin ‘Antharah), dari kakeknya (‘Antharah), dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika berbuka membaca doa, Allahumma laka shumna wa ‘alaa rizqika aftharna fataqabbal minna, innaka antas samii’ul ‘aliim(Ya Allah, untuk-Mu kami berpuasa, dengan rizqi-Mu kami berbuka, maka terimalah puasa kami ini, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui).’”

Tinjauan Sanad:
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni. Namun, terdapat cacat serius pada perawinya:
1. ​Abdul Malik bin Harun: Tokoh kunci dalam sanad ini dinilai oleh para pakar hadis (seperti Yahya bin Ma’in dan Ibnu Hibban) sebagai kadzab (pendusta) dan pemalsu hadis.
2. ​Kesimpulan: Riwayat ini berstatus Dhaif Jiddan (Sangat Lemah) atau bahkan Munkar. Hadis ini tidak dapat dijadikan sandaran hukum atau ibadah.

2. ​Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath (7549),

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَمْرٍو الْبَجَلِيُّ، نَا دَاوُدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ، نَا شُعْبَةُ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
Artinya:
Muhammad bin Ibrahim menuturkan kepadaku, Isma’il bin Amr Al-Bajali menuturkan kepadaku, Daud bin Az-Zibriqani mengabarkanku, Syu’bah mengabarkanku, dari Tsabit Bunani, dari Anas bin Malik, ia berkata, ‘Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika berbuka membaca doa, Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rizqi-Mu aku berbuka).’

Tinjauan Sanad:
Diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani, namun memiliki dua masalah utama:
1. ​Daud bin Az-Zibriqani: Mayoritas ulama (Al-Bukhari, Abu Daud, An-Nasa’i) menilainya lemah dan ditinggalkan (matruk).
2. ​Ismail bin Amr Al-Bajali: Dinilai lemah oleh Abu Hatim dan Ad-Daruquthni.
3. ​Kesimpulan:
Riwayat ini juga masuk dalam kategori Dhaif Jiddan (Sangat Lemah) dan tidak bisa saling menguatkan dengan riwayat lainnya.

3. ​Dikeluarkan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (3619).

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ، أَخْبَرَنِي يَزِيدُ بْنُ الْهَيْثَمِ، أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَبِي اللَّيْثِ حَدَّثَهُمْ، حَدَّثَنَا الْأَشْجَعِيُّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ حَصِينِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ مُعَاذٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ، قَالَ: ” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ “
Artinya:
“Abu Abdillah bin Al-Hafidz mengabarkanku, Ali bin Hamsyadz menuturkan kepadaku, Yazid bin Al-Haitsaim menuturkan kepadaku, bahwa Ibrahim bin Abi Al-Laits menyampaikan hadits kepada mereka, Al-Asyja’i menuturkan kepadaku, dari Sufyan dari Hushain bin Abdirrahman, dari seorang lelaki, dari Mu’adz ia berkata, ‘Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika berbuka membaca doa Alhamdulillahilladzi a’aani fashumtu warazaqani fa afthartu (Segala puji bagi Allah yang telah menolongku untuk berpuasa dan memberiku rezeki sehingga aku bisa berbuka).’”

Tinjauan Sanad:
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, namun statusnya terputus (Mursal). Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang Tabi’in, sehingga ia tidak bertemu langsung dengan Nabi Shallallahu “alaihi wasallam Selain itu, ada perawi yang tidak disebutkan namanya (mubham).

​Kesimpulan: Riwayat ini berstatus Dhaif (Lemah).

​Doa yang Disyariatkan ​Berdasarkan penelitian hadis, doa berbuka puasa yang memiliki derajat hasan dan dapat diamalkan adalah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»
Artinya:
Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jika berbuka beliau berdoa, ‘dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaallah (telah hilang rasa haus, telah basah kerongkongan, dan telah diraih pahala insyaallah)’” (HR. Al-Bazzar dalam Musnad-nya (5395), An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra (3315), Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir (14097), Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (279), Al-Hakim dalam Mustadrak-nya (1536)

Meskipun doa yang populer di masyarakat memiliki makna baik, mengutamakan doa yang memiliki sanad kuat (sahih/hasan) adalah bentuk ketaatan dalam mengikuti sunah Rasulullah saw. secara lebih murni.

​Jadi, sudahkah kita mengamalkan doa berbuka yang sesuai dengan petunjuk lisan Rasulullah saw. hari ini?

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search