Menjadi Santri Masa Kini: Menjaga Tradisi, Merangkul Inovasi

Menjadi Santri Masa Kini: Menjaga Tradisi, Merangkul Inovasi
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Pendakwah dan Anggota Majlis Tabligh PCM Merden, Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober adalah momentum penting untuk merefleksikan peran dan kontribusi santri dalam sejarah dan pembangunan bangsa. Tahun 2025, di tengah arus disrupsi teknologi dan perubahan global, tema “Menjadi Santri Masa Kini” menjadi semakin relevan.

Santri hari ini adalah garda terdepan yang tidak hanya mewarisi nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, tetapi juga dituntut untuk menjadi agen perubahan yang cerdas, adaptif, dan berwawasan luas.

Memperkuat Fondasi Ilmu Agama dan Akhlak

Identitas utama seorang santri adalah keilmuan Islam yang mendalam dan akhlak yang mulia. Sistem pendidikan pesantren yang menekankan pada penguasaan kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, serta pembentukan karakter disiplin dan kesederhanaan adalah modal spiritual yang tak ternilai. Ini sejalan dengan perintah fundamental dalam Islam untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan1.” (QS. Al-Mujadalah [58]: 11).

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu—yang dipadukan dengan keimanan—akan mengangkat derajat manusia. Bagi santri, ilmu agama adalah kompas utama, memastikan setiap langkah di dunia modern tetap berada di jalur sirat al-mustaqim.

Kewajiban menuntut ilmu ini dipertegas pula dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Fondasi agama dan akhlak yang kuat inilah yang menjadi pembeda dan kekuatan santri. Tanpa fondasi ini, kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan umum dapat disalahgunakan.

Santri dan Tuntutan Era Digital

Santri masa kini, atau sering disebut santri milenial, hidup di era di mana informasi menyebar dalam hitungan detik. Tantangan mereka bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum dan teknologi informasi.

Prof. Dr. H. M. Ma’ruf Amin, mantan Wakil Presiden RI yang juga seorang tokoh ulama dan santri, sering menekankan bahwa santri harus memiliki “ilmu masa depan” (ilmu umum dan teknologi) di samping “ilmu masa lalu” (ilmu agama dan kitab kuning). Menurut beliau, kemampuan santri harus lebih unggul dan memadai, termasuk menguasai teknologi informasi. Santri dituntut untuk bekerja ekstra, menguasai keduanya agar mampu bersaing dan tidak tertinggal.

Peran Kritis Santri Masa Kini

Beberapa peran kritis santri masa kini diantaranya:

  1. Melek Teknologi dan Digitalisasi Dakwah:

Santri tidak boleh gaptek (gagap teknologi). Mereka harus mampu memanfaatkan platform digital—mulai dari media sosial hingga coding—untuk berdakwah, berbisnis (santripreneur), dan menyebarkan pesan keagamaan yang moderat dan toleran. Banyak santri kini menjadi content creator yang efektif menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah (Islam Rahmatan Lil ‘Alamin) dengan bahasa yang ringan dan kreatif.

  1. Pilar Moderasi Beragama:

Pendidikan pesantren membekali santri dengan pemahaman keagamaan yang mendalam dan inklusif. Dalam konteks kebangsaan, santri memiliki tanggung jawab besar untuk menyebarkan nilai moderasi beragama dan toleransi. Sebagaimana diungkapkan dalam beberapa kajian, santri milenial bertugas merawat dan meruwat tanah air, salah satunya dengan menyebarkan ajaran toleransi yang mereka peroleh di pesantren ke masyarakat luas.

  1. Mandiri dan Inovatif (Santripreneur):

Dengan semangat kemandirian yang ditanamkan pesantren, santri masa kini didorong untuk menjadi inovatif. Gerakan santripreneur menunjukkan bahwa santri tidak hanya fokus pada ritual, tetapi juga mampu mengelola usaha dan berkontribusi pada ekonomi umat. Pakar mencatat bahwa kurikulum pesantren kini mulai adaptif dengan memasukkan keterampilan tambahan seperti public speaking, digital marketing, dan kewirausahaan, sehingga santri memiliki daya saing tinggi.

Kontribusi Nyata untuk Umat dan Bangsa

Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era digital, santri selalu menjadi salah satu pilar utama pembangunan bangsa. Santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memainkan peran penting dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. Sejarah membuktikan kontribusi besar ulama dan santri, mulai dari ulama terdahulu seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi hingga tokoh-tokoh nasional seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari.

Menjadi santri masa kini adalah kesiapan untuk mengintegrasikan warisan tradisi (ilmu agama) dengan kemajuan zaman (sains dan teknologi). Ini bukan berarti meninggalkan identitas asli, melainkan mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan umat dan bangsa dalam konteks kekinian.

Pakar dan akademisi agama sering mengingatkan bahwa “Kebaikan suatu negara tergantung pada ulamanya,” dan ulama berasal dari kalangan santri. Oleh karena itu, jika santrinya berilmu luas, berakhlak mulia, melek teknologi, dan mengedepankan moderasi, maka masa depan negara, terutama dalam menghadapi tantangan global, akan semakin cerah.

Mari jadikan Hari Santri sebagai momentum untuk terus mendorong transformasi pesantren dan santri, agar mereka tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga pencipta peradaban unggul di masa depan. Selamat Hari Santri! (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search