Pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya ukuran “wanita hebat” itu?. Di era modern ini, kita sering melihat sosok hebat adalah mereka yang punya karier cemerlang, penampilan selalu rapi, atau punya pengaruh besar di media sosial. Hal itu tentu tidak salah. Namun, ada satu sisi kehebatan yang jauh lebih dalam dan bermakna.
Ada sebuah kalimat bijak yang sangat menyentuh hati: “Wanita hebat itu bukan yang hanya tampil hebat, tapi yang mampu membuat orang lain menjadi hebat.”
Bergeser dari “Aku” ke “Kita”
Banyak perempuan yang cerdas, mandiri, dan berdaya secara pribadi. Namun, sebagai bagian dari gerakan perempuan berkemajuan, kita ditantang untuk membawa manfaat itu ke luar diri kita sendiri. Kita ingin keberadaan kita bukan hanya membuat orang kagum, tapi membuat orang lain merasa terbantu dan berkembang.
Semangat untuk saling mengangkat satu sama lain ini sejalan dengan perintah Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 2:
…. وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya:… “ Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya“.(QS AL Maidah 2)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup ini bukan perlombaan lari sendirian. Kehebatan kita justru terlihat dari seberapa banyak tangan yang kita gandeng untuk bersama-sama menjadi lebih baik di jalan Allah.
Belajar dari Spirit Nyai Ahmad Dahlan
Jika kita melihat kembali sejarah Aisyiyah, Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan adalah contoh nyata. Beliau tidak pernah mencari panggung untuk dirinya sendiri. Fokus utama beliau adalah bagaimana perempuan-perempuan di sekitarnya—yang saat itu mungkin belum sekolah—bisa menjadi pintar, bisa mengaji, dan bisa mandiri.
Inilah yang sering disebut dengan Spirit Al-Ma’un. Kita tidak boleh merasa cukup dengan kesalehan diri sendiri jika tetangga atau saudara kita masih kesulitan. Kita ingin menjadi manusia yang bermanfaat, sesuai pesan Rasulullah SAW:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.”
(HR Ath-Thabrani dan Daruquthni)
Bagaimana Caranya “Menghebatkan” Orang lain?
Kita tidak perlu melakukan hal-hal besar yang rumit. Menghebatkan orang lain bisa dimulai dari hal kecil di sekitar kita:
Di Rumah: Sebagai ibu, kita tidak hanya menuntut anak untuk hebat, tapi kita menciptakan suasana rumah yang membuat potensi anak bisa berkembang maksimal. Kita menjadi “pendukung utama” bagi impian mereka.
Di Aisyiyah dan ortom lainnya, seorang ketua atau penggerak yang hebat adalah mereka yang mampu melahirkan kader-kader baru. Ia tidak ingin menjadi yang paling hebat sendirian, tapi ia dengan senang hati berbagi ilmu agar anggotanya jauh lebih hebat darinya.
Di lingkungan sekitar menjadi teman yang tidak pelit informasi dan ilmu. Jika ada teman yang ingin memulai usaha atau belajar sesuatu, kita hadir untuk menyemangati dan membantu membukakan jalan.
Tampil hebat di depan orang banyak mungkin memberikan rasa bangga sesaat. Namun, mampu membuat orang lain menjadi hebat akan memberikan kebahagiaan yang abadi dan pahala yang terus mengalir.
Mari terus melangkah dengan semangat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Bukan bersaing untuk terlihat paling hebat, tapi saling menguatkan untuk maju bersama. Ingatlah, cahaya lampu tidak akan redup hanya karena kita berbagi api dengan lampu orang lain. Justru, ruangan akan menjadi semakin terang benderang.
Fastabiqul khoirat.
