Setiap tanggal 22 Oktober, kalender nasional kita mendadak dipenuhi warna hijau dan gema gempita. Hari Santri kembali dirayakan. Di tingkat elit, ruang-ruang seminar ber-AC mendadak riuh oleh diskusi akademik nan aduhai tentang peran strategis santri.
Sementara di akar rumput, jalan-jalan protokol semarak oleh pawai ribuan santri yang berbaris rapi, lengkap dengan sarung, peci, dan semangat yang menyala-nyala.
Namun, ketika panggung seremoni telah usai dan baliho-baliho ucapan mulai diturunkan, sebuah pertanyaan mendasar perlahan menyelinap: Di mana ruang tempat nilai-nilai santri itu bertumbuh sesungguhnya?
Pesantren sejatinya adalah kawah candradimuka. Di sanalah calon kiai, pemikir muslim, cendekiawan, hingga pengusaha berikhtiar digodok. Bukan sekadar mengejar deretan kitab gundul, pesantren adalah laboratorium moral di mana ilmu, adab, amal, dan karakter dianyam menjadi satu kesatuan yang utuh. Di atas kertas, lulusan pesantren diproyeksikan menjadi benteng moral bangsa yang kokoh.
Namun, bangunan ideal itu belakangan sering bergetar oleh kenyataan yang getir. Kita tidak bisa menutup mata dari warta yang belakangan berseliweran di media. Kasus kekerasan hingga rudapaksa yang melibatkan oknum pembina atau pengasuh pesantren bukan lagi sekadar rumor, melainkan tamparan keras pada wajah pendidikan moral kita.
Bagaimana mungkin seorang santri diminta menundukkan pandangan dan menjaga adab, sementara oknum pemegang mahkota keilmuan justru memperagakan kebalikannya?
Kehilangan figur teladan adalah tragedi terbesar dalam ruang lingkup pendidikan karakter. Ketika sang pembimbing kehilangan kompas moralnya, santri tak hanya kehilangan guru, tetapi juga kehilangan pegangan nilai.
Sekolah Praktis Tanpa Kurikulum
Tak berhenti di batas tembok pesantren, ujian keteladanan itu meluas ke panggung kekuasaan. Para santri, yang saban hari diajarkan tentang keikhlasan dan ketundukan adab, justru disuguhi “pertunjukan menarik” dari sebagian tokoh agama dan mantan santri di ranah publik.
Kita menyaksikan betapa riuhnya perebutan tampuk kekuasaan, baik di kursi pemerintahan maupun di pimpinan organisasi kemasyarakatan. Dalam panggung politik praktis ini, adab acap kali dibungkus rapi lalu disimpan di dalam lemari. Praktik suap-menyuap, manuver saling sikut, hingga terseretnya tokoh agama ke dalam kubangan korupsi menjadi pelajaran tak tertulis yang direkam dengan sangat jernih oleh memori para santri.
Secara satire, mungkin ini adalah “kurikulum tambahan” yang tak pernah dicantumkan dalam brosur pendaftaran pesantren: bagaimana cara meraih kekuasaan dengan mengesampingkan adab yang telah dipelajari bertahun-tahun.
Santri melihat, menyerap, dan mencatat betapa murahnya harga sebuah keilmuan ketika dihadapkan pada godaan kursi dan jabatan.
Harapan pada Jiwa Santri yang Otentik
Meski demikian, terlalu gegabah jika kita menyimpulkan bahwa santri akan mengekor pada jejak buruk para seniornya. Karakter manusia adalah adonan kompleks yang diwarnai oleh berbagai lingkungan. Santri memiliki benteng pemikiran kritis untuk memilah: mana keilmuan luhur yang harus diserap, dan mana perilaku oknum yang harus dibuang jauh-jauh.
Hari Santri seharusnya bukan sekadar perayaan nostalgia atau sekadar klaim kontribusi historis semata. Hari Santri adalah ajang cermin diri—terutama bagi para kiai, ustaz, dan pimpinan pondok—untuk bertanya pada diri sendiri: Sudahkah perilaku kita pantas menjadi cermin bagi para santri?
Pada akhirnya, kita merindukan santri yang tetaplah menjadi “santri”, baik saat masih menimba ilmu di dalam bilik pondok maupun ketika kelak telah menjadi alumnus di tengah riuhnya dunia luar.
Julukan santri bukan sekadar atribut sarung dan peci, melainkan nilai kemandirian, kedalaman ilmu, dan ketinggian adab yang melekat dalam jiwa. Selama adab dan ilmu masih terikat kuat di dalam hati, ke manapun angin kehidupan membawa mereka—entah menjadi birokrat, pengusaha, atau akademisi—jalan lurus itu akan tetap menjadi pilihan utama. Selamat Hari Santri. (*)
